Ini Dia 3 Aplikasi Ojek Online Lokal Pesaing Go-Jek dan Grab

5 menit
Aplikasi-Ojek-Online

Dunia transportasi online kembali gonjang-ganjing. Belum habis ribut soal tarif dan insentif, kegemparan terbaru muncul dari salah satu pemilik aplikasi ojek online, Grab yang mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara.

Masalah tarif dan insentif sebelumnya membuat banyak driver yang mempertimbangkan untuk beralih profesi. Akuisisi Grab sepertinya menambah kuat niat tersebut.

Setidaknya itulah yang belakangan ini ramai diberitakan banyak media di Indonesia. Driver Uber yang sejatinya masuk ke Grab karena diakuisisi memilih pergi ke aplikasi lain, di antaranya Anterin.

Sebenarnya Anterin bukanlah transportasi online pemain baru. Layanannya sudah ada sejak 2016, namun hanya berkutat soal logistik.

Layanan bidang transportasi penumpang baru dikembangkan pada 2017, dan kian digalakkan pada awal 2018. Sepertinya pengelola Anterin, PT Anterin Digital Nusantara, tahu betul ada peluang di depan mata di tengah kisruh yang menimpa pemain besar di bidang transportasi online.

Tapi ternyata bukan hanya Anterin yang sedang naik daun. Beberapa aplikasi ojek lokal lain juga sedang mekar dan mencoba merebut peluang bisnis.

Hal ini tentu menjadi kabar baik buat driver maupun publik, terutama pengguna setia ojek online.

Driver jadi punya banyak pilihan untuk mendapat kerjaan yang dinilai paling cocok. Buat penumpang, makin banyak opsi artinya persaingan makin ketat. Perang tarif pun mungkin terjadi, sehingga penumpang bisa memperoleh penawaran tarif dan layanan terbaik.

Berikut ini seluk-beluk tiga aplikasi ojek online lokal penantang Go-Jek dan Grab:

1. Anterin

 

aplikasi-ojek-online
Sejauh ini baru Anterin yang kelihatannya oke punya sebagai penantang Go-Jek dan Grab (merdeka.com)

Aplikasi ini dibuat oleh PT Anterin Digital Nusantara. Alamatnya di Jalan Kemang I No.11, Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Layanan Anterin meliputi ojek sepeda motor, transportasi mobil, kurir, dan truk. Berbeda dengan Go-Jek dan Grab, tarif driver Anterin bisa ditentukan sendiri.

Buat penumpang, aplikasi ini bisa jadi pilihan transportasi yang lebih hemat karena bisa pilih tarif paling miring yang ditawarkan driver. Tarif dipilih berdasarkan sistem lelang.

Misalnya Siska hendak ke stasiun dari rumahnya. Saat dia memesan ojek Anterin, akan ada beberapa driver yang bisa dipilih lengkap dengan informasi tarif dan jenis kendaraan.

Siska bisa tahu mana driver yang memberi harga paling murah untuk dipilih. Tapi tak hanya tarif yang jadi penentu pilihan.

Jenis kendaraan pun bisa dipertimbangkan. Mungkin Siska terbilang berisi, sehingga pilih motor berukuran lebih besar seperti N-Max atau minimal Vario, bukan Mio atau Beat yang relatif lebih kecil.

Dari sisi driver, Anterin bisa menjadi perahu sekoci, mengingat persaingan antardriver lebih transparan dengan adanya sistem lelang tarif. Jumlah pengemudi pun terbilang masih minim ketimbang Go-Jek dan Grab yang sudah mapan.

Potongan yang diterapkan Anterin pun hanya 10 persen. Setengah dari potongan raksasa Go-Jek serta Grab.

Kelemahan:

Sayangnya, layanan aplikasi Anterin masih terbatas di beberapa wilayah, antara lain di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Dalam beberapa pemberitaan, layanan ini disebutkan ada di Yogyakarta juga.

Tapi dalam informasi di aplikasinya tak ditemukan layanan di sana. Padahal di situsnya juga ada testimoni driver dari Yogyakarta. Di kolom review aplikasinya di Google Play, ada juga yang bilang layanan tersedia Bandung dan Surabaya, tapi terbatas.

Sepertinya aplikasi ini masih belum matang benar. Bila melihat review aplikasinya di Google Play, masih banyak keluhan soal titik GPS yang belum tepat, crash saat dibuka, hingga tampilan yang kurang nyaman. Satu lagi, aplikasi ini baru tersedia di hape Android, gak ada buat iPhone.

[Baca: Jadi Driver Ojek Online Perih, Begini Cara Mengatasinya]

2. Golek

 

aplikasi-ojek-online
Mencoba menggarap ceruk ojek berbasis syariah, ada potensi sukses jika melihat penduduk Indonesia yang mayoritas muslim (facebook)

Aplikasi ojek online yang satu ini mirip sama Go-Jek. Namanya pun 11-12. Tapi ada satu perbedaan yang amat kontras, yakni Golek dikelola secara syariah.

Bahkan salah satu syarat jadi driver Golek adalah salat berjemaah di masjid lima waktu khusus bagi laki-laki. Lalu ada komitmen salat dhuha minimal seminggu tiga kali, memberi sedekah subuh minimal Rp 2.000, hingga ikut program gratis layanan tiap Jumat.

Kantor Golek berbasis di Jl. Pamenang II/42 Katang, Sukorejo, Kec. Ngasem, Kab. Kediri. Di situsnya tidak ditemukan area layanannya sampai mana, namun sepertinya susah buat driver yang berbasis di Jakarta dan sekitarnya untuk mengakses kantor pusatnya jika ada masalah.

Layanan yang disediakan meliputi ojek motor, taksi online, kurir, belanja, dan makanan. Ya, mirip dengan Go-Jek.

Buat penumpang, aplikasi ojek online ini bisa menjadi alternatif, terutama yang muslim. Seperti asuransi dan bank, layanan syariahnya jadi poin plus.

Tarif Golek diklaim bersaing dan transparan. Namun tidak disebutkan berapa nominalnya.

Buat driver, Golek juga bisa dipilih karena keunggulan konsep syariahnya. Jumlah driver yang masih sedikit juga bisa memberi peluang untuk memenangi persaingan antar-driver. Selain itu, potongan yang hanya 10 persen tentunya sangat menarik ketimbang Go-Jek dan Grab.

Kelemahan:

Layaknya aplikasi lokal, kelemahan utama Golek adalah area layanan yang belum luas dan jumlah driver yang terbatas. Penumpang bisa jadi kesulitan menemukan driver.

Selain itu, layanan syariahnya juga mau tak mau menjadi pembatas. Sebab, driver perempuan dilarang mengambil order penumpang laki-laki.

Tapi driver laki-laki masih diizinkan ambil order penumpang perempuan selama jumlah driver perempuan belum proporsional. Pengguna iPhone pun belum bisa menggunakannya karena aplikasi ini baru tersedia di Google Play alias Android.

[Baca: Stop Ngeluh! Ini 5 Peluang Usaha dari Membeludaknya Driver Ojol]

3. Lojek

 

aplikasi-ojek-online
Bila sukses dikembangkan, ini bisa jadi pendobrak baru dan mencegah konflik ojol vs opang (pikiran-rakyat.com)

Aplikasi ini menyediakan layanan transportasi online rasa ojek pangkalan. Berbeda dengan aplikasi lain, Lojek dibuat oleh pemerintah daerah.

Layanan ini dibuat pemerintah Bandung untuk mengatasi masalah antara pengemudi ojek konvensional dan online. Diperkenalkan pada akhir 2017, Lojek masih terus dikembangkan.

Melihat sejumlah pemberitaan tentang Lojek, layanan ini khusus untuk transportasi motor. Bagusnya, tak diperlukan smartphone buat driver-nya.

Nantinya driver mendapat stiker NFC yang digunakan sebagai sistem pembayaran. Cara kerja Lojek unik.

Buat penumpang, nantinya akan diarahkan ke pengojek pangkalan terdekat, lengkap dengan info tarifnya saat memesan. Sistem ini memang secara khusus dibuat untuk membantu ojek pangkalan alias opang.

Nantinya, setiap pangkalan ojek bakal didata dan pengojek diberi stiker NFC. Saat ada pesanan masuk, driver yang berada di urutan teratas dalam sistem otomatis langsung mendapat order tersebut.

Soal tarif belum dipastikan karena masih pengembangan. Melihat fungsinya, aplikasi ini bisa menjadi alternatif buat driver, khususnya yang bekas opang. Tinggal tunggu saja perkembangan selanjutnya dari pengembangnya.

Di luar tiga aplikasi ojek online di atas, sebetulnya ada beberapa aplikasi lain. Namun banyak di antaranya yang timbul-tenggelam. Aplikasi itu antara lain Tripy di Pontianak, Bloon di Bengkulu, dan M-Jek di Mataram.

Banyaknya pilihan aplikasi ojek online ini adalah kabar bagus buat penumpang maupun driver. Buat penumpang, makin banyak pilihan artinya makin bisa memilih mana yang memberi tarif terhemat dengan layanan terbaik.

Adapun pengojek bisa cari aplikasi dengan poin plus paling banyak, misalnya potongannya lebih sedikit dan insentif lebih besar.

Semoga saja aplikasi-aplikasi lokal itu bisa berkembang dan jadi penantang serius Go-Jek serta Grab. Sebab, kalau pasar transportasi online hanya dikuasai dua perusahaan itu, kurang bagus buat penumpang maupun driver.

Ada risiko oligopoli alias penguasaan pasar oleh segelintir pemain saja jika gak ada pesaing. Hal itu merugikan buat penumpang karena tarif bisa jadi dibikin serendah mungkin tanpa memperhatikan layanan.

Buat driver, tarif yang rendah jelas bakal sangat merugikan. Selain itu, persaingan antar-driver bakal lebih keras, seperti yang terjadi transportasi online saat ini.

[Baca: 5 Profesi Baru yang Bisa Dilirik Driver Ojek Online]

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.