4 Hal Ini Bikin Promosi Jabatan Susah Diraih, Yuk Dihindari!

4 menit
Promosi-Jabatan

Mendapatkan promosi jabatan di tempat kerja itu gak gampang. Bahkan buat sebagian orang, lebih gampang cari pacar ketimbang cari promosi.

Kerja yang oke saja bukan jaminan akan peroleh promosi. Beberapa orang malah sudah merasa bekerja dengan bagus, tapi tak kunjung dapat promosi.

Biasanya, mereka yang termasuk golongan itu akan memutuskan resign dan pindah ke kerjaan baru. Soalnya mereka merasa tak dihargai, dan bahkan diabaikan.

Misalnya sudah sering lembur, bahkan pada hari Sabtu sudi masuk. Hasil kerja pun tak ada yang di bawah rata-rata. Atas segala hal itu, mereka merasa pantas dapat promosi.

Padahal promosi tak hanya ditentukan oleh performa kerja. Ada sederet faktor yang mempengaruhi. Bila ada salah satu saja faktor yang tak memenuhi syarat, ya promosi hanya bakal jadi mimpi.

[Baca: 6 Hal Sepele Tapi Justru Bisa Bikin Karier Hancur]

Berikut ini beberapa hal selain kinerja yang mungkin menjadi batu sandunganmu dalam meraih promosi jabatan:

1. Kerja sama dalam tim kurang

promosi-jabatan
Semua orang dalam tim punya peran, harus kerja sama agar semuanya maksimal (pinterest)

Karakter orang boleh berbeda-beda. Ada yang inidivualistis, ada pula yang lebih suka bersama-sama. Namun, dalam dunia kerja, kerja sama tim amatlah dibutuhkan.

Itu sebabnya poin kemampuan kerja sama dalam tim diperhitungkan sebagai syarat promosi. Pekerja akan dinilai bagaimana kemampuannya dalam pekerjaan tim, baik sebagai pemimpin maupun anggota.

Pemimpin tim yang baik, misalnya, bisa mengambil keputusan dengan cermat untuk seluruh tim. Juga bisa mendorong anggota tim agar kerja sama lebih erat sehingga pekerjaan lebih cepat selesai dengan hasil memuaskan.

Adapun anggota tim bakal dinilai bagaimana caranya menjalankan keputusan tim dan kontribusinya dalam tim. Jika sering pasif dalam kerja tim, kemungkinan mendapat promosi lebih kecil walau kinerja secara individu bagus.

2. Relasi sosial lemah

promosi-jabatan
Zuckerberg introver, tapi tetap bisa sukses. Meski kontroversial (cnbc.com)

Kerja profesional mesti diiringi dengan relasi sosial yang bagus. Hal yang kerap jadi bahan penilaian, antara lain bagaimana komunikasi di tempat kerja, baik dengan atasan maupun kolega.

Faktor ini yang sering jadi penghalang karier para introver, sehingga kebanyakan memilih buka bisnis sendiri agar bisa langsung menduduki posisi teratas tanpa promosi.

Bahkan, menurut artikel di Wall Street Journal, introver lebih berpeluang sukses jadi pengusaha seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg.

Komunikasi dengan atasan, antara lain berlangsung dalam rapat. Kita akan dinilai saat bertanya atau menjawab pertanyaan, juga sikap selama rapat.

Canda dalam rapat itu tak apa, tapi harus melihat situasinya. Jika lagi serius terus melontarkan candaan, itu namanya tak bisa menempatkan diri.

Pola pergaulan juga bakal dilihat. Sebaiknya membuka diri kepada semua kolega, tidak hanya satu-dua orang yang dianggap sepaham.

Akan lebih bagus jika ikut dalam komunitas di kantor, apalagi ada atasan yang juga berpartisipasi. Misalnya ada kelompok penghobi sepeda, ikutlah meski tak begitu aktif. Yang penting mau melibatkan diri dalam kegiatan bersama kolega di luar kerja profesional.

[Baca: Karir Itu Pencapaian Diri, Bukan Tentang Siapa yang Paling Tinggi]

3. Tak disiplin

promosi-jabatan
Disiplin dengan memasukkan seragam ke celana itu berat, Dilan (tribunnews)

Peraturan kerja harus dihiraukan jika berniat mendapat promosi jabatan. Contohnya jam kerja dimulai pukul 08.00, ya sebelumnya sudah harus di kantor.

Tapi ada juga yang sebelum jam kerja sudah berada di kantor tapi kemudian sibuk bergosip atau sarapan dulu hingga sejam kemudian. Tapi jangan dipakai juga cuma buat bergosip atau ngobrol ngalor-ngidul.

Terlebih kalau kamu kerja swasta, atau bahkan perusahaan multinasional. Aturan tentang kedisplinan pasti lebih ketat.

Makanya, kinerja bagus saja bisa jadi belum cukup untuk mendapat promosi. Kedisplinan juga harus ditingkatkan demi kemajuan karier ke depan.

4. Pilih-pilih tugas

promosi-jabatan
Kerjaan tak masuk akal dibebankan, baru deh pilih-pilih (shutterstock.com)

Semestinya pegawai menerima tugas apa pun yang diberikan atasan, selama tidak keluar jalur dari job desc. Kalau kita jadi akuntan tapi disuruh bikin surat kontrak kerja sama, itu bisa ditolak.

Namun bila akuntan diminta urus masalah pajak, masih bisa diterima meski bisa dibilang rumit. Demi promosi karier, sebaiknya tak pilih-pilih tugas.

Kadang ada atasan yang membebankan tugas di luar pekerjaan biasa. Bila masih bisa diterima dan dikerjakan, sebaiknya patuhi. Namun bila memang tak ada sangkut-pautnya, sah-sah saja menolaknya.

Jika atasan kerap memberi tugas aneh-aneh di luar pekerjaan utama, pekerjaan itu tak layak diperjuangkan. Yang pasti, kita mesti menunjukkan kemauan untuk memanggul tanggung jawab lebih.

Seorang pegawai yang sudah lama bekerja bisa saja tak kunjung dapat promosi jabatan dan disalip juniornya jika memang dinilai belum layak. Hal itu mesti dihadapi meski pahit.

Sebab, penilaian atas kelayakan kita tergantung perspektif atasan. Sepanjang perusahaan menjalankan sistem kerja yang adil, keputusan atasan tak memberi promosi harusnya bisa dipahami.

Sebaliknya, jika merasa sistem tak berjalan benar, misalnya melihat junior dapat promosi hanya karena dekat dengan atasan, kita pantas mengajukan protes. Tanyakan secara baik-baik mengenai hal itu kepada atasan.

Perusahaan yang punya sistem baik akan menghargai pegawai yang berkontribusi. Yakinlah promosi jabatan di depan mata selama kita konsisten memberikan sumbangan kepada kemajuan perusahaan.

[Baca: Cari Kerja Zaman Now, Wajib Punya 5 Skill Ini Nih]

 

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.