Pemotor yang Naik ke Trotoar Bisa Alami 5 Kerugian Finansial Ini Lho

[TEMPO/STR/Dasril Roszandi]

Beberapa hari lalu sempat viral video pertengkaran antara pejalan kaki dengan seorang driver ojek online. Si pejalan kaki marah karena driver tersebut mengambil hak pejalan kaki dengan menaiki trotoar saat berkendara.

Sebenarnya gak cuma kejadian itu aja sih yang sempat viral di media sosial. Udah cukup banyak aksi pejalan kaki “menyelamatkan” trotoar. Sebab, perlu diakui cukup banyak pengendara motor, bahkan mobil, dan beberapa pedagang menggunakan trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

Salah satu dalih yang sering kali digunakan oleh pemotor tersebut adalah jalanan yang macet. Dengan demikian, melewati trotoar pun nekat dihalalkan demi cepat sampai tujuan. Namun, kalau dipikir-pikir, kalau semua pengendara berpikir gitu tentu trotoar juga ikut macet, kan? Gak ada lagi dong ntar space buat pejalan kaki.

Selain logika yang udah disebutkan tadi, sebenarnya ada undang-undang tertulis lho mengenai hak pejalan kaki di trotoar.

UU 22 Tahun 2009 Pasal 131 ayat (1) jelas banget menyatakan bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki. Gini bunyinya: “Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.”

Buat pemotor yang masih nekat naik trotoar, sebaiknya ingat sama konsekuensi yang bakal kamu didapat. Berikut ini enam kerugian finansial yang bisa kamu alami bila melanggar aturan penggunaan trotoar.

1. Langgar UU LLAJ 22 Tahun 2009 Pasal 275

TrotoarUdah tahu kalau trotoar buat pejalan kaki, terus kamu malah langgar aturan tersebut. Ada sanksinya gak? Ada banget.

Kalau kamu mengendarai motor dan nekat naik ke trotoar maka kamu udah melanggar UU 22 Tahun 2009 Pasal 275, yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).”

Jadi, kamu bisa kena pidana kurungan paling lama sebulan atau denda sekitar Rp 250 ribu. Wah, uang segitu mending buat makan seminggu deh.

2. Berpotensi mengganggu keselamatan pejalan kaki dan bisa kena hukum

Kalau kamu masih maksa buat naik ke trotoar saat berkendara, gak cuma mengganggu pejalan kaki, kamu pun berpotensi mengancam keselamatan mereka.

Kalau udah gitu, pengendara motor yang naik trotoar bisa kena pasal lain lagi di UU yang sama. Tepatnya Pasal 284 dari UU LLAJ 22 Tahun 2009.

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Duh, ini makin nambah lagi deh dendanya yaitu Rp 500 ribu. Sayang banget cuma karena pengin ngejar waktu buat sampai lebih cepat, kamu mesti keluar uang Rp 500 ribu. Padahal kamu bisa siasati dengan berangkat lebih awal kalau udah tahu jalanan berpotensi macet.

3. Langgar Peraturan Daerah alias Perda

standar trotoarGak cuma melanggar aturan UU LLAJ, pemotor yang naik trotoar juga melanggar Peraturan Daerah alias Perda sesuai daerahnya.

Contoh aja nih, DKI Jakarta punya Perda DKI Jakarta 5/2014 yang mengatur soal transportasi. Aturan mengenai pemotor gak boleh ganggu hak pejalan kaki di trotoar tertuang dalam Pasal 92 ayat 1 (c).

Kalau pengendara motor gagal menaati aturan lalu-lintas tersebut maka bisa kena hukuman kurungan selama sebulan atau denda sekitar Rp 250 ribu.

4. Berisiko bikin motor lebih cepat rusak

Buat naik ke trotoar kan kadang butuh effort tuh, misalnya badan jalan yang lebih rendah dari trotoar. Jadinya, kamu mesti maksa motor kamu buat naikin tuh trotoar. Akhirnya, mesinnya malah dipaksa buat kerja lebih dari semestinya.

Gak cuma itu aja, jalanan trotoar juga emang dari awal bukan dirancang buat pemotor. Jalanan di trotoar tentu gak semulus jalan raya plus ada beberapa penghalang yang bisa bikin kamu kecelakaan. Contoh, pohon di trotoar, tong sampah, kursi, dan benda-benda lainnya.

Belum lagi kamu pun berpotensi menyenggol pejalan kaki yang bisa bikin kamu kena pasal yang udah disebutin.

Dobel deh! Motor kamu rusak dan kamu harus bayar biaya perbaikan, plus kena pasal pula.

5. Berantem pula sama pejalan kaki, bisa-bisa kena pasal Pasal 315 KUHP

Kayak kejadian beberapa hari lalu, si pemotor dan pejalan kaki jadi berantem karena “sengketa” trotoar.

Yang namanya bertengkar kadang bicara gak bisa direm kan? Buat pemotor yang marah-marah ke pejalan kaki ketika diingatkan bisa kena Pasal 315 KUHP. Pasal tersebut mengatur soal hukuman pidana kalau melakukan penghinaan.

Jadi, kalau keluar sumpah-serapah dan mengata-ngatai, kamu bisa kena pidana. Apalagi kalau mencoba buat melakukan tindakan kekerasan.

Nah, buat pejalan kaki pun sebaiknya hati-hati. Kamu bisa banget nih mengingatkan pemotor yang naik trotoar tetapi harus cukup mawas diri buat menahan kata-kata. Sebab, kamu bisa diserang balik oleh si pemotor dengan tuntutan penghinaan.

Selain kerugian-kerugian finansial yang udah disebutkan di atas, buat driver ojek online malah bisa lebih sulit lagi. Driver ojek online yang melanggar lalu lintas seperti itu tentu bisa berpotensi buat kena suspend oleh perusahaan. Sayang banget kan “cuma” karena gak sabaran buat ikuti arus macet, si driver harus mempertaruhkan pekerjaan.

Yuk, mulai sekarang mari saling jaga hak masing-masing. Pemotor jangan naik trotoar sembarangan karena memang sudah menjadi hak pejalan kaki. Sementara itu, pejalan kaki pun harus berjalan atau menyeberang di tempat yang sudah disediakan.

Fair kan?

Helda
Helda

Tidak normal tapi spesial. Blogger merangkap content writer yang secara ajaib tersesat di bidang keuangan. Semua tulisan di sini tersedia berkat bantuan kopi tanpa gula.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560