5 Toko Online Ini Gagal Bersaing di Indonesia, Yuk Belajar dari Mereka!

4 menit
toko online

Gak cuma toko ritel, toko online alias e-commerce pun bisa tutup karena beberapa faktor. Itu tandanya, persaingan usaha yang terjadi di Indonesia jelas gak bisa dipandang sebelah mata.

Meskipun demikian, bukan berarti itu juga jadi tanda kalau mendirikan toko online adalah hal yang buruk buat dilakukan. Bisnis ini jelas masih menguntungkan, asalkan pemilik bisnis benar-benar mengetahui aspek-aspek yang dibutuhkan buat perkembangan bisnis e-commerce itu sendiri.

Dalam artikel ini, kita bakal mengulas e-commerce yang pada akhirnya harus berhenti beroperasi di Indonesia. Kita juga bakal bahas apa yang jadi penyebab mereka tutup.

1. Rakuten

Fans Barcelona pasti familiar dengan nama Rakuten. Toko online dari Jepang yang jadi sponsor Barcelona FC ini udah menutup operasinya di beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia pada 1 Maret 2016.

Asal kamu tahu nih, pada tahun 2011, Rakuten masuk ke Indonesia dengan menggandeng MNC Group. Itulah sebabnya kenapa kantor Rakuten sempat ada di Menara MNC Kebon Sirih. Tapi itu gak berlangsung lama. Tahun 2013 mereka udah gak menjalin kerja sama lagi.

Kenapa mereka bisa tutup?

Keputusan penutupan bisnis ini merupakan bagian dari Visi 2020 Rakuten yang pengin meraup laba 1.700 miliar Yen pada tahun 2020. Pasar Indonesia dianggap gak bakal bisa menopang rencana ini. Daripada habis buat ongkos operasi, betul gak?

2. Cipika

Dear kaka-kaka Cipika… #Cipikaasik

A post shared by Cipika.co.id (@cipika_id) on

Kamu tahu toko online yang satu ini? Cipika yang berada di bawah Indosat Ooredoo harus gulung tikar pada 1 Juni 2017.

Cipika sendiri berdiri pada 2014 dan menawarkan berbagai jenis produk. Sebut aja seperti barang elektronik hingga makanan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, beberapa kategori produk itu malah dihilangkan.

Pada saat e-commerce ini ditutup, Indosat sendiri mengaku bahwa mereka belum menemukan model bisnis yang menjanjikan. Daripada nantinya proyek ini ibarat bakar duit tanpa ujung yang jelas, mending ditutup jauh-jauh hari bukan?

Alexander Rusli yang dulu menjabat sebagai CEO Indosat Ooredoo juga gak memungkiri adanya persaingan ketat di dunia e-commerce. Dan emang benar sih, hampir semua e-commerce di Indonesia punya model bisnis yang sama, gitu pula dengan promonya.

Selain itu, Alex juga menilai bahwa Cipika gak menguntungkan dan berpotensi merusak valuasi Indosat di kemudian hari.

3. Lamido

Lamido adalah toko online besutan Rocket Internet, sebuah perusahaan Internet asal Negeri Panzer, Jerman. E-commerce ini didirikan pada 2013 sebagai rival dari Bukalapak dan Tokopedia.

Mereka memusatkan perhatiannya buat menjual produk-produk buat masyarakat kelas menengah ke bawah. Sebut aja seperti elektronik, busana, dan aksesori lainnya.

Selain di Indonesia, ternyata Lamido juga diluncurkan di Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Dan dalam operasionalnya, Lamido sendiri berada di bawah Lazada.

Tahukan kamu apa yang terjadi dan menimpa Lamido?

Keberadaan Lamido malah jadi produk kanibal bagi Rocket Internet. Ya bayangin aja, apa jadinya kalau satu perusahaan induk punya dua e-commerce? Pastinya bakal bersaing satu sama lain bukan?

Alhasil, manajemen memutuskan Lamido digabung dengan Lazada.

4. Paraplou

toko onlineBisa dibilang, toko online yang satu ini merupakan e-commerce pertama yang jadi jembatan antara fashion global dengan lokal. Situs ini pernah mengklaim dirinya sebagai situs e-commerce fashion terbesar ketiga di Tanah Air.

Sebagai perusahaan startup, Paraplou didirikan oleh mantan petinggi Rocket Internet, Bede Moore dan Susie Sugden. Mereka pernah mendapat suntikan dana dari Majuven sebesar US$ 1,5 juta lho.

Tapi kenapa ya Paraplou malah tutup?

Startup yang dulu menggunakan nama Vela Asia ini malah mengatakan bahwa masalah finansial jadi faktor utama. Sementara itu yang kedua adalah persaingan pasar.

Mereka juga sempat mengatakan, pasar produk fashion bermerek di Indonesia masih terlalu muda. Hal itu dipengaruhi dari kondisi keuangan global yang gak menentu.

5. Lolalo.la

Cowok belum tentu tahu sama toko online ini. Jelas aja, Lolalo.la adalah e-commerce penjual pakaian dalam perempuan alias lingerie. Startup e-commerce ini melakukan soft launching pada 2014, dan setahun kemudian mendapat pendanaan dari Ardent Capital.

Bisa dibilang Lolalo.la memiliki layanan dengan produk niche dan mendapat dukungan logistik dari aCommerce. Makanya, mereka bisa menyediakan fasilitas transaksi cash on delivery (COD) hingga pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia.

Tapi mengapa akhirnya toko online ini harus tutup di awal 2017, ya?

Ternyata penyebab utamanya disebabkan karena kerasnya persaingan di dunia e-commerce Indonesia. Lolalo.la harus bersaing dengan raksasa seperti Tokopedia, Elevenia, hingga Lazada yang ternyata punya kanal khusus buat produk pakaian dalam perempuan.

Waduh, repot ya kalau udah kayak gini realitanya.

Walaupun mereka mengklaim punya produk yang jauh berbeda dengan e-commerce lain, tetap aja mereka butuh strategi pemasaran yang super jitu. Mereka juga harus melakukan akuisisi pelanggan dengan cara yang masif.

Asal kamu tahu nih, selain Tokopedia, Elevenia, dan Lazada, ada juga e-commerce baru yang menjual produk seperti Lolalo.la. Cuma mereka menargetkan “pasangan suami istri.” Otomatis gak cuma lingerie dan pakaian wanita aja yang dijual, melainkan juga bunga hingga obat kuat! Situs itu bernama Asmaraku.

Tutupnya toko online di Indonesia jadi pelajaran bagi pelaku usaha

Tutupnya toko-toko online di Indonesia tentu bisa jadi pelajaran berharga bagi para pelaku usaha. Mungkin salah satunya ya kamu yang lagi baca artikel ini.

Kalau diperhatikan, gak sedikit dari mereka yang menghentikan usahanya lantaran sulit bersaing dengan e-commerce raksasa. Mereka juga gak punya strategi mumpuni yang dinilai bakal memudahkan mengakuisisi banyak pelanggan.

Sebagai pengusaha, ciri khas produk itu jelas penting banget. Jika kamu menciptakan sebuah produk yang gak ada bedanya dengan produk di pasaran, maka besar kemungkinan kamu kalah dalam persaingan.

Mengapa demikian? Jelas aja karena merek atau produk yang kamu jual belum dikenal masyarakat meski dijual di toko online yang lebih gampang dijangkau semua orang. Masyarakat lebih tertarik buat membeli yang pasti-pasti aja, ketimbang yang baru.

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.