Mau Tajir dari Saham di 2019? Ini Wejangan dari Warren Buffett-nya Indonesia

4 menit
Lo Kheng Hong. (Tempo/Imam Sukamto)
Lo Kheng Hong. (Tempo/Imam Sukamto)

Bicara soal investasi saham, pasti kita semua selalu diarahkan ke Warren Buffett, yang jadi orang terkaya di dunia berkat saham. Tapi jangan salah, di Indonesia juga ada yang seperti Buffett lho! Dia adalah Lo Kheng Hong.

Pria ini memang cukup ngetop di kalangan investor. Ia seringkali disebut sebagai Warren Buffettnya Indonesia.

Namun sayangnya, beliau memang minim publikasi. So, gak sedikit dari kita yang gak kenal sama Lo Kheng Hong.

Pada tahun 2014, total nilai saham yang dimiliki Lo Kheng Hong dikabarkan mencapai Rp 2,5 triliun! Hanya saja, itu baru sebatas prediksi, karena dia gak pernah secara langsung membenarkan pernyataan itu.

Dia bisa jadi tajir karena membeli saham-saham yang undervalued atau yang harganya anjlok karena satu dan lain hal. Namun, berkat analisa yang hebat, harga saham yang dia beli ternyata bisa meroket di kemudian hari.

Sebagai seorang crazy rich, Lo Kheng Hong sendiri juga merupakan orang yang sangat sederhana. Ya makanya dia seringkali disebut 11:12 sama Warren Buffett yang juga bersahaja.

Biar kamu semangat investasi saham di tahun 2019, gimana kalau kita simak saja kata-kata bijak dari beliau. Bisa jadi kamu makin terinspirasi dan tertarik investasi hingga akhirnya jadi crazy rich juga. Yuk simak lebih lanjut di bawah sini.

Baca Juga: Investasi Saham atau Obligasi di 2019, Untung atau Rugi?

“Tuhan maha pengampun tapi bursa saham tak kenal belas kasihan”

Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)
Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)

Bagi Lo Kheng Hong, berinvestasi di dunia pasar modal memang gak bisa ditargetkan. Mengapa demikian? Karena kita gak bisa tahu apa yang terjadi di hari esok.

Bisa jadi harga saham perusahaan A turun atau naik. Pergerakan harga itu juga bisa berlangsung dalam hitungan jam!

Itu sebabnya, investasi ini adalah tinggi risiko. Wajib hukumnya buat para investornya untuk rajin-rajin pantau harga, membeli, dan melepasnya di saat yang tepat.

Dan ingat juga lho, membeli saham harus paham sama bisnis perusahaan yang bersangkutan. Harus tahu bidang usahanya, labanya, hingga jajaran direksinya agar gak kayak beli kucing dalam karung.

Baca Juga: Ikuti 5 Trik Ini untuk Menekan Kerugian Investasi Saham

“Kalau trading, dapatnya receh dan bisa bikin stres”

Dalam investasi saham, tentu ada dua istilah yang seringkali kamu dengar yaitu trading dan nabung saham.

Trading ya ibarat jualan saja untuk jangka pendek yaitu beli saat rendah, dan ketika sudah naik 1, 2, atau 3 persen langsung lepas. Sementara itu, nabung saham ibarat membeli saham untuk jangka waktu lama.

Lo Kheng Hong bilang, ketika kamu punya mindset untuk trading saham, yang ada kamu cuma dapat cuan yang kecil. Ujung-ujungnya kamu sendiri yang stres karena harus mantau harga saham tiap jam. Nanti akhirnya tergoda nyari saham gorengan, bukan begitu?

Tapi lain halnya ketika kamu berniat memegang saham untuk jangka waktu lama. Bisa jadi cuannya makin gede seperti saat beliau membeli saham MBAI di harga Rp 250 perak per lembar, dan akhirnya naik 12.500 persen. Gokil kan?

Baca Juga: 5 Alasan Buat Stop Beli Reksa Dana Saham dan Beli Saham Langsung

“Pemain saham adalah orang yang bebas”

Walaupun punya aset triliunan Rupiah, Lo Kheng Hong merupakan orang yang benar-benar bebas dalam artian gak punya kantor, pegawai, atau bos.

Dia sendiri blak-blakan bilang kalau, “Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu.” Gimana tuh? Asik gak? Gak ada beban sama sekali bukan.

Tapi untuk bisa kayak beliau ya mesti pandai beli saham dari sekarang.

“Serakahlah ketika orang lain ketakutan, dan takutlah ketika orang lain serakah”

Dalam menyikapi soal waktu yang tepat saat membeli saham. Lo Kheng Hong mengingatkan kita agar membelinya di saat krisis.

Gak salah untuk bersikap agak serakah di saat banyak orang di dunia ini ketar-ketir dengan kondisi perekonomian di negaranya. Kalau perlu borong saja mumpung harganya murah.

Pada tahun 2008 Lo Kheng Hong mengaku bahwa dia sempat bersikap serakah dalam memborong saham. Meski pada saat itu dia juga lagi rugi.

Sebaliknya, ketika perekonomian di dunia ini lagi bagus-bagusnya, jadilah bijak. Karena menurut Lo Kheng Hong, ketika kamu berada di masa ini, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk beli saham.

“Sisakan uang 15 %”

Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)
Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)

Dalam investasi saham, sebisa mungkin jangan menggunakan seluruh uang untuk membeli saham. Sisakan danamu sebesar 15%. Mengapa demikian? 15 persen dari total uang berarti gak banyak dong?

Tentu saja, tapi hal ini ada positifnya juga lho.

Pertama, kamu gak bakal tergoda untuk jadi konsumtif mengingat dana yang kamu pegang cuma 15 persen saja. Dan yang kedua adalah, ketika pasar modal ambruk kamu masih bisa membeli saham lagi lho.

“Sayang, jika uang digunakan buat membeli mobil mahal”

Sempat beredar foto di grup Whatsapp yang memperlihatkan Lo Kheng Hong mengendarai Porsche. Sejatinya sah-sah saja dong beliau beli mobil Porsche wong duitnya banyak.

Tapi ternyata itu bukan mobilnya. Dan Lo juga merupakan seorang yang anti membeli mobil mewah. Mengapa demikian?

Pertama adalah karena harganya mahal dan terus turun. Yang kedua adalah, dia khawatir jadi korban perampokan.

Itu sebabnya sampai saat ini Lo Kheng Hong hanya mengendarai Volvo keluaran 2005 yang harganya Rp 120 juta.

Itulah kata-kata mutiara dari seorang Lo Kheng Hong buat kamu yang ingin tajir dari saham di tahun 2019.

Intinya, gak ada yang gak mungkin kok untuk bisa tajir seperti beliau. Lo sendiri juga gak lahir di keluarga kaya raya. Keluarga beliau bisa dibilang sangatlah sederhana, dan dia juga memutuskan untuk kuliah di kampus murah.

Tapi setelah kerja, dia rajin nabung dengan harapan agar bisa beli saham. Udah gitu saja. Sekarang, dia jadi crazy rich yang benar-benar bebas finansial. (Editor: Ruben Setiawan)

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.