Wow, 7 Restoran Sukses di Jakarta Ini Berawal dari Modal Kecil Lho

5 menit
usaha dengan modal kecil
Rumah Makan Sederhana (takaitu.com)

Gak sedikit founder atau pendiri bisnis yang sukses mendirikan usaha dengan modal kecil menjadi perusahaan besar. Tapi gak sedikit juga dari mereka yang harus menerima kegagalan hingga bangkrut.

Mereka yang berhasil tentu berani buat terjun total ke bisnisnya dan gak lagi menjadikan bisnis ini sebagai sampingan aja. Mereka yakin fokus adalah satu-satunya cara.

Kisah sukses orang-orang ini jadi bukti kalau usaha dengan modal kecil gak bisa dianggap remeh. Bisa jadi, dari sanalah kamu bisa punya uang banyak dan jadi pengusaha sukses.

Pengin tahu tentang produk atau merek sukses yang dulunya cuma usaha kecil? Yuk simak ulasannya di bawah ini.

1. Sop Dudung Roxy

Yang selalu jajan atau makan di foodcourt mal pasti kenal sama Sop Dudung Roxy. Sop kaki kambing ini emang populer banget karena rasanya yang enak, kuahnya juga khas banget.

Kuah berwarna putih kekuningan di sop tersebut emang gak ada duanya. Kabarnya, walaupun cabangnya banyak, rasa dari hidangan mereka tetap sama. Porsi dagingnya pun bisa dipesan sesuai dengan kemauan pelanggan.

Pendiri rumah makan ini adalah H. Achmad Hadi alias Bang Dudung yang wafat pada Februari lalu. Dia mendirikan Sop Dudung Roxy pada 1976 dengan konsep warung tenda. Karena kelezatan hidangannya, dia berhasil buka banyak cabang hingga ke mal.

2. Rumah Makan Sederhana

let's find out how good the taste this Indonesian food in Petaling Jaya #omaijdot #food #indonesianfood #masakanpadang #rumahmakansederhana

A post shared by Omaijdot (@omaijdot) on

Walaupun punya cabang di mana-mana, Rumah Makan Sederhana dulu cuma usaha dengan modal kecil lho. Pendirinya, H. Bustaman, yang cuma lulusan SD harus mengadu nasib di Jakarta dan kerja dengan menjual rokok dengan gerobak.

Dalam mendirikan bisnis makanan, Bustaman merasakan jatuh bangun. Dia pernah menyewa lahan 1×1 meter dengan modal Rp 3.000 perak, jualan dengan modal gerobak, dan sebagainya. Dia pun kerap menjadi saksi kekejaman ibu kota.

Setelah keuangannya mulai stabil, dia pun membuka warung makan di Bendungan Hilir pada 1974. Warung makan inilah yang jadi cikal bakal Rumah Makan Sederhana. Setelah sukses di Bendungan Hilir, dia pun buka cabang ke Roxy, dan bisnis makanannya pun berkembang.

Lambat laun, dia pun mewaralabakan bisnisnya. Karena itulah sekarang kita gak bakal kesulitan menemukan outlet RM Sederhana di Jakarta.

3. Bakmi GM

Bakmi GM adalah salah satu restoran bakmi terlaris di Indonesia. Restoran ini dulu bernama Bakmi Gajah Mada. Mungkin itulah kenapa namanya jadi GM.

Asal kamu tahu nih, restoran yang didirikan oleh Tjhai Sioe dan Loei Kwai Fong pada 1959 ini dulunya cuma warung kecil lho. Letaknya ada di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Mereka jadi top karena pemiliknya ahli soal bikin mie.

Bakmi GM pun berkembang pesat, apalagi setelah diwaralabakan. Kini Bakmi GM tersebar di Jabodetabek, Bandung, hingga Surabaya, dengan jumlah pelanggan per hari mencapai 30 ribu.

4. Ayam Goreng Mbok Berek

Restoran ayam goreng dengan bumbu kremes yang luar biasa sedap ini dulunya juga cuma warung makan kecil yang jadi satu dengan rumah pemiliknya.

Ayam goreng ini sebetulnya udah lahir di zaman pendudukan Jepang. Nama Mbok Berek itu sendiri adalah julukan dari seseorang yang bernama Nini Ronodikromo atau Nyi Rame. Berek itu sendiri artinya adalah rewel. Nah, pada saat itu Nyi Rame emang punya anak kecil emang yang rewelnya minta ampun.

Usaha ayam goreng ini dijalankan oleh Nyi Rame di warungnya, kemudian diwariskan ke anak cucu ketika dia telah meninggal dunia.

Ny. Umi yang merupakan cucu Nyi Rame menggunakan nama Mbok Berek buat membuka restoran di Yogyakarta. Setelah menikah dan tinggal di Jakarta, Ny Umi terpaksa bekerja sambil berbisnis buat mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Setelah uang ditabungannya terkumpul, dia pun membangun usaha dengan modal kecil jualan ayam goreng di Pasar Cikini. Usaha itu sukses, dan dia berhasil buka cabang di beberapa tempat. Lambat laun, merek Ayam Goreng Mbok Berek pun diwaralabakan.

5. Es Teler 77

Berawal dari tahun 1981, seorang perempuan keturunan Tionghoa, Murniati Widjaja, menjadi pemenang lomba bikin es teler di Jakarta. Setelah itu dia pun mendirikan sebuah warung makan tenda di dekat perkantoran dengan nama Es Teler 77.

Usaha dengan modal kecil itu sebenarnya hanya proyek coba-coba yang dilakukan Murniati. Tapi, lambat laun malah jadi ladang uang.

Murniati pun mengajak keluarganya buat ikut terlibat dalam bisnis makanan ini. Sang menantunya yang bernama Sukyatmo Nugroho akhirnya mewaralabakan Es Teler 77 hingga menjadi restoran siap saji terkemuka di Indonesia.

Sekarang, Es Teler 77 udah punya 180 outlet lho. Gak cuma di Indonesia, mereka juga udah buka cabang di Malaysia, Singapura, dan Australia.

6. Sate Mak Syukur

Nah kita kembali lagi nih ke Sumatera Barat, lebih tepatnya ke Padang Panjang. Di situlah lahir sebuah restoran yang terkenal banget di Jakarta, namanya Sate Mak Syukur.

Cerita tentang sate padang yang satu ini berawal dari tahun 1941. Walaupun saat ini kamu bisa melihat outlet Sate Mak Syukur di mal, Go-Food, atau tempat-tempat lain, dulunya sate ini cuma dijual keliling dengan menggunakan gerobak pikul.

Mak Syukur (Sutan Rajo Endah) itu sendiri adalah penjaja sate yang terkenal di Padang Panjang. Irisan daging dari punuk sapi yang ditusuk di sate tersebut rasanya emang luar biasa nikmat. Warisan leluhur itulah yang bikin restoran ini laris manis hingga sekarang.

7. Bakso Lapangan Tembak

Bakso yang satu ini juga masuk dalam kategori kuliner legendaris Indonesia. Saat ini, jumlah outlet Bakso Lapangan Tembak emang udah ratusan.

Tapi jangan salah, dulunya usaha ini cuma bakso pikulan.

Kisah Bakso Lapangan Tembak berawal dari Ki Ageng Widyanto Suryo Bawono, seorang pedagang Bakso dari Surakarta, yang merantau ke Jakarta dengan bekal uang Rp 1.200 perak.

Selama di Jakarta, Ki Ageng menjual bakso pikul di gang-gang.

Setelah berhasil menabung, dia mengganti pikulannya dengan sebuah gerobak angkringan. Di siang hari, Ki Ageng selalu mangkal di Petamburan, Slipi, Pejompongan, dan Senayan. Tapi khusus di malam hari, dia selalu hadir di Lapangan Tembak Senayan.

Pelanggan bakso Ki Ageng makin banyak. Sebagian besar dari mereka adalah atlet lho. Di tahun 1983, dia akhirnya diizinkan buat membuka usahanya di wilayah parkir Senayan. Sejak itulah bakso Ki Ageng disebut Bakso Lapangan Tembak.

Sekarang, Bakso Lapangan Tembak udah jadi restoran bakso yang super laris. Restoran itu diwaralabakan, hingga akhirnya jumlah outlet-nya mencapai 140 cabang pada 2011. Sayang pada tahun yang sama Ki Ageng menghembuskan nafas terakhirnya.

Semua restoran ini benar-benar dirintis dari nol. Ada yang cuma warung tenda, ada yang makanannya dijajakan dengan dipikul, dan sebagainya. Tapi kok bisa ya usaha mereka jadi besar gitu? Apa sih rahasianya?

Cara sulap usaha dengan modal kecil jadi raksasa

Ada banyak cara yang harus mereka lakukan buat bisa sukses, tapi sebagai pengusaha minimal mereka harus melakukan tiga hal ini:

1. Konsisten dalam usaha

Sebagai pengusaha tentu harus konsisten dalam menentukan jenis produk yang pengin ditawarkan ke masyarakat. Kalau dari awal aja udah berubah-ubah, ya gimana pengin terkenal dagangannya?

2. Sabar

Kunci kedua buat mengembangkan usaha dengan modal kecil adalah sabar. Para penguasaha kita di atas jadi bukti kalau emang gak ada kesuksesan yang instan.

3. Jaga kualitas

Apa pun usahanya, jangan pernah lelah buat menjaga kualitas. Ingat lho, pelanggan adalah raja. Ketika pelanggan kecewa, ya gimana pengin laris?

Gimana… tertarik buat bikin restoran makanan? Kalau iya, jangan terlalu lama dipikirkan atau dimatangkan konsepnya, apalagi akhirnya cuma jadi niat tok. Ingat petuah om Bob Sadino, “bisnis yang bagus adalah yang dijalankan, bukan yang ditanya-tanya terus.”

Kita emang gak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Biasa jadi sekarang cuma menjalankan usaha dengan modal kecil, entah apa pun itu bentuknya. Tapi siapa yang tahu lima atau sepuluh tahun lagi bakal seperti apa? Benar banget, kan?

Jadi, selamat mencoba!

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.