Kerja Sama Dagang Diputus, Ini Fakta-Fakta Kenapa Huawei Gak Disukai Pemerintah AS

3 menit
Harga smartphone Huawei kabarnya terjun bebas setelah kerjasamanya dengan Google putus (Instagram).
Harga smartphone Huawei kabarnya terjun bebas setelah kerjasamanya dengan Google putus (Instagram).

Tahun ini sepertinya menjadi tahun yang berat bagi produsen smartphone Huawei. Pasalnya, Pemerintah Amerika Serikat memasukkan nama produsen smartphone asal China ini ke daftar hitam (blacklist) karena dianggap gak mengikuti ketentuan dari Pemerintah AS.

Dampak adanya blacklist ini mulai muncul saat Google mengumumkan berakhirnya kerjasama bisnis antara Google dan merek tersebut. Ujung-ujungnya nih sistem operasi Android yang biasa digunakan gak bisa digunakan karena lisensinya udah gak berlaku.

Gak sampai di situ, smartphone juga gak bisa mengakses layanan-layanan Google. Mulai dari Google Play Store, Gmail, hingga YouTube.

Sial buat Huawei, apa yang diperbuat Google juga diikuti perusahaan-perusahaan teknologi AS lainnya. Qualcomm dan Intel telah memutuskan kerja sama dengan perusahaan itu.

Tentunya putus-memutus kerja sama ini gak cuma bikin mereka rugi, tapi juga perusahaan-perusahaan sebelumnya bekerja sama.

Asal tahu aja nih, perusahaan-perusahaan AS diprediksi merugi US$ 11 miliar atau Rp 158,34 triliun. Angka tersebut merupakan nilai transaksi buat belanja produk-produk dari Amerika Serikat.

Nah, lepas dari larangan Pemerintah AS terhadap smartphone Huawei, rupanya Pemerintah AS dulunya udah memendam rasa gak suka pada perusahaan tersebut lho. Begini fakta-faktanya.

Baca juga: Selain Indonesia, Ini 5 Negara yang Punya Tradisi Mudik Lebaran

1. Huawei diketahui menipu bank-bank di Amerika Serikat agar bisa bertransaksi dengan Iran

Huawei
Diam-diam terlibat dalam penjualan produk-produk teknologi AS yang dilakukan Skycom ke Iran.

Pemerintah Amerika Serikat dan Iran emang gak selalu baik hubungannya. Sampai akhirnya Pemerintah AS menjatuhkan sanksi dagang pada Iran.

Namun, gak disangka, diam-diam terlibat dalam penjualan produk-produk teknologi AS yang dilakukan Skycom ke Iran. Pemerintah AS mengetahui fakta ini setelah adanya pemberitaan CFO Huawei Meng Wanzhou yang kini ditahan menjadi pengurus Skycom.

Singkat cerita, bank-bank AS yang menjembatani transaksi keuangan merasa tertipu. Hingga akhirnya para jaksa di Amerika Serikat memerintahkan buat melakukan penyelidikan pada 2017.

Baca juga: Apple Dikalahkan Samsung dan Huawei sebagai Smartphone Terlaris di Q1 2019

2. Dapat tuduhan pencurian teknologi robot jari dan berupaya melakukan spionase

Huawei
Teknologi robot jari

Perusahaan teknologi T-Mobile gak bisa menerima teknologi robot jarinya dicuri. Robot jari ini berfungsi buat mengetukkan jari ke layar smartphone. Walaupun dibawa ke pengadilan, kasus ini berlanjut dengan penangkapan Meng Wanzhou di Kanada.

Kemudian perangkat teknologi 5G yang dimiliki itu dituding Pemerintah AS sebagai sarana buat melakukan spionase. Apalagi kabarnya nih perangkat perusahaan teknologi China ini dapat membaca pesan yang terkirim melalui jaringan.

Pemerintah AS pun memperingatkan Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru kalau negara-negara tersebut diketahui memakai perangkat, Pemerintah AS bakal setop berbagi informasi intelijen.

Baca juga: 5 Smartphone Terbaik Huawei, Perusahaan yang Jadi Korban Perang Dagang AS-China

3. Latar belakang pendiri Ren Zhengfei yang merupakan mantan perwira militer China

Huawei
Ren Zhengfei yang merupakan mantan perwira militer China

Ketidaksukaan Pemerintah AS juga dikarenakan latar belakang pendirinya yang sebelumnya adalah perwira militer China. Terus nama Ren Zhenfei juga dikaitkan dengan Partai Komunis China.

Hal tersebut yang kemudian bikin Pemerintah India menolak Huawei buat menangani proyek-proyek tertentu. Alasan itu juga yang bikin Pemerintah AS begitu waspada kalau berurusan dengan merek tersebut.

Itulah ketiga fakta kenapa Pemerintah AS gak suka hingga memblokirnya. Walaupun begitu, pemblokiran Huawei tetap aja menimbulkan kerugian di kedua belah pihak. Terlebih banyak orang di dunia telah menggunakan smartphone asal China ini. Gimana menurutmu? (Editor: Winda Destiana Putri).

Boby
Boby

Lama bergelut dengan ensiklopedia. Kini fokus dengan urusan finansial. Di mana pun berada selalu berusaha sajikan karya yang terbaik. Semoga bermanfaat!