Ada Ancaman Perang Dagang, Indonesia Minta G20 Lakukan Ini

2 menit
Pertemuan G20 Antisipasi Ancaman Perang Dagang (Shutterstock)
Pertemuan G20 Antisipasi Ancaman Perang Dagang (Shutterstock)

Dalam forum G20, Bank Indonesia menegaskan pentingnya melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan. Hal ini untuk memitigasi risiko dan mengatasi kerentanan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan adalah upaya pendalaman pasar keuangan.

Terkait hal tersebut, Bank Indonesia memandang laju implementasi agenda reformasi sektor keuangan yang beragam (fragmented) di banyak negara. Hal ini perlu menjadi perhatian dan diatasi dengan meningkatkan kerja sama dan sharing informasi antar otoritas dari negara lain.

“Bank Indonesia juga menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara upaya untuk mendorong perkembangan inovasi di sektor keuangan. Dengan upaya untuk memitigasi risiko yang dapat ditimbulkan,” kata Onny.

Menurutnya, hal tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Juga Deputi Keuangan dan Bank Sentral negara-negara G20 di Fukuoka, Jepang pada 6-9 Juni 2019.

Pertemuan dihadiri oleh delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo.

Tensi perdagangan yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut.

“Hal ini dinilai telah berdampak negatif bagi ekonomi global. Selain mempengaruhi keyakinan dunia usaha/investor. Bila berlanjut tanpa solusi, tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Bisa mencapai 0,5 persen, lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2 persen,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Onny menegaskan, dinamika perekonomian global membutuhkan penguatan jaring pengaman sistem keuangan (Global Financial Safety Net).

Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 ini juga membahas agenda prioritas Presidensi G20 Jepang. Yaitu mengenai implikasi populasi yang menua terhadap kebijakan makroekonomi. Lalu upaya untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan dari global imbalances.

Juga upaya peningkatan pembiayaan infrastruktur melalui penyediaan infrastruktur yang berkualitas.

“Bank Indonesia dalam kesempatan tersebut kembali menekankan pentingnya pemahaman terhadap sumber-sumber imbalances. Maupun perlunya melihat imbalances dalam cakupan yang lebih holistik dan tidak hanya dari segi current account deficit. Apalagi trade balance saja.

Namun juga dari sisi pembiayaan, khususnya melalui aliran modal yang bersifat produktif (FDI),” kata Onny.

Selain itu, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya bauran kebijakan makroekonomi dalam mengatasi excessive imbalances.

Ekonomi Global Diprediksi Membaik

Perekonomian global menunjukkan perkembangan positif pada kuartal pertama tahun 2019. Diperkirakan akan terus membaik di tahun 2020, sebagaimana proyeksi pada bulan April 2019.

Meski demikian, tren positif tersebut masih dibayangi beragam faktor risiko yang dapat menyebabkan perlambatan. Seperti peningkatan tensi perdagangan.

Lalu belum jelasnya penyelesaian Brexit dan kerentanan di sektor keuangan yang meningkat di tengah rendahnya suku bunga.

“Oleh karena itu, negara-negara G20 diharapkan tidak berpuas diri atas perkembangan positif yang ada. Namun terus berupaya memitigasi risiko yang mengemuka dan bersiap untuk mengimplementasikan kebijakan yang diperlukan,” paparnya.

Sementara itu, disadari pula bahwa dukungan bagi pertumbuhan ekonomi global akan menjadi lebih efektif. Jika terdapat joint action untuk meningkatkan kerangka koordinasi internasional.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.