Pasar Menggiurkan, Asuransi Incar Generasi Milenial Indonesia

2 menit
Shutterstock
Shutterstock

Generasi milenial tengah menjadi bidikan para pelaku bisnis asuransi di tanah air. Sebab generasi yang lahir antara tahun 1982 sampai 2000 ini merupakan bonus demografi yang dimiliki indonesia.

Bahkan berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) jumlah populasi penduduk kategori generasi milenial di Indonesia mencapai 90 juta orang. Jumlah itu lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini.

Hal inilah yang menjadikan generasi milenial pasar bisnis yang besar termasuk produk-produk asuransi.

Head of Market Management Allianz Indonesia Karin Zulkarnaen mengatakan, preferensi atau pemilihan produk asuransi generasi milenial sudah berubah dari generasi sebelumnya.

Karin mengungkapkan, mayoritas generasi milenial akan memilih produk dengan pembayaran premi yang murah. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih memilih produk perindungan yang komprehensif.

“Berdasarkan riset kita yang short term. Yang dicari (milenial) yang afdorable, maunya yang murah,” papar Karin.

Kesimpulannya, milenial lebih memilih produk yang sesuai dengan kemampuan finansialnya, bukan sesuai kebutuhannya.

“Milenial itu agak berbeda kecenderungannya. Kalau dulu milihnya yang komplit. Nah kalau milenial carinya yang saya bisa beli dulu. Nanti perlahan saya akan tambah ketika sudah mampu membeli lebih,” ujar Karin.

Akan tetapi, Karin meminta agar generasi milenial lebih cermat dalam memilih produk asuransi daripada hanya melihat murahnya saja. Tetapi lebih kepada manfaat dan kebutuhan masing-masing pribadi nasabah.

Sebab, dengan ketelitian dan kecermatan sebelum membeli produk asuransi akan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti sulitnya mengajukan klaim, hingga yang tidak sesuai kebutuhan.

“Jadi yang paling penting itu belilah dengan sesuai kebutuhannya, jangan hanya mencari yang murah. Nanti jangan sampai klaim dibayar tapi kurang. Banyak kejadian seperti itu,” jelasnya.

Minat Milenial Masih Rendah

Sementara itu, dibalik itu semua, minat generasi milenial untuk menggunakan produk asuransi masih amat rendah. Hal ini terlihat dari mayoritas nasabah Allianz berusia 40 tahun keatas.

Selain itu, faktor gaya hidup juga sangat berpengaruh milenial dalam memilih produk asuransi. Secara umum milenial masih memprioritaskan gaya hidup dibandingkan perencanaan hidup jangka panjang.

“Rata-rata planning-nya masih jangka pendek. Lebih mengutamakan hal-hal lain yang dianggap lebih penting dibandingkan rencana jangka panjang. Jadi yang dipikirkan masih yang seru-seru, seperti lifestyle dan travelling,” papar Karin.

Rendahnya penetrasi asuransi ini juga menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Hal ini termasuk ke dalam minimnya literasi dan inklusi produk keuangan di kalangan masyarakat.

Banyak masyarakat Tanah Air yang belum memandang asuransi sebagai hal yang penting. Berbeda dengan negara maju yang rakyatnya sudah sangat melek finansial.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.