Berantas Fintech Ilegal, OJK Gandeng Malaysia dan Singapura

2 menit
Fintech Ilegal (Shutterstock)
Fintech Ilegal (Shutterstock)

Guna memberantas financial technology atau fintech ilegal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menerapkan Supervisory Technology (SupTech). Hal ini untuk mengembangkan ekosistem perusahaan fintech yang masuk dalam ranah Inovasi Keuangan Digital (IKD).

Dalam pengembangan ini OJK bekerja sama dengan Monetary Authority of Singapore dan juga Securities Exchange Commission Malaysia.

Penerapan supTech di IKD ditandai dengan peresmian laman mini di portal OJK yang diberi nama Gerbang Elektronik Sistem Informasi Keuangan Digital (Gesit). Ini sebagai media interaksi antara OJK, penyelenggara IKD dan masyarakat.

“Gesit merupakan bentuk awal dari pengembangan SupTech untuk IKD. SupTech nantinya menjadi alat pemantauan terhadap Penyelenggara yang telah terdaftar di OJK. Tentunya dengan mempergunakan teknologi,” kata Wakil Ketua OJK Nurhaida saat meresmikan Gesit, di kantor OJK Jakarta, Selasa.

Menurutnya, suptech ditujukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemantauan terhadap Penyelenggara terkait aspek kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Dirikan Innovation Center

Nurhaida menjelaskan, OJK telah menyatakan komitmennya untuk mendukung perkembangan sektor keuangan digital secara utuh dan berkelanjutan. Dengan memberikan layanan yang efektif, efisien, dan bermanfaat serta mendukung peningkatan inklusi keuangan dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya pada 20 Agustus 2018 laku, OJK telah mendirikan Innovation Center atau Fintech Center yang disebut dengan OJK Infinity. 

Melalui ini, OJK secara aktif membangun ekosistem fintech yang dapat menjadi bagian dari sistem keuangan Indonesia. Dengan menghadirkan layanan jasa keuangan berbasis teknologi informasi yang inovatif, efektif, efisien namun tetap mengedepankan perlindungan konsumen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa OJK Infinity telah menjadi forum bagi para pelaku industri fintech di Indonesia maupun mancanegara. Diantaranya melalui diskusi serta kolaborasi antara regulator dan innovator dalam rangka pengembangan IKD.

“OJK telah bekerja sama dengan otoritas di Singapore (Monetary Authority of Singapore), dan dalam waktu dekat akan segera menandatangani kerjasama dengan Securities Exchange Commission Malaysia. OJK juga sedang melakukan pembahasan mekanisme kerja sama dengan Japan Financial Services Auhority,” kata Wimboh.

15 Klaster IKD

Dalam kesempatan yang sama, OJK juga menyelenggarakan seminar dengan tema Parametric Insurance. Parametric Insurance merupakan salah satu bentuk inovasi di bidang perasuransian atau yang lebih dikenal dengan istilah insurtech.

Berdasarkan data statistik per 31 Juli 2019, OJK Infinity telah melayani 397 konsultasi dan menerima lebih dari 800 pengunjung yang terdiri dari pelaku Inovasi Keuangan Digital. Disamping Pelaku Jasa Keuangan, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dengan diterbitkannya POJK No. 13/POJK.02/2018 dan tersedianya fasilitas pelayanan dari OJK Infinity, hingga saat ini terdapat total 48 Penyelenggara IKD yang telah memperoleh status tercatat di bawah POJK 13/2018. Dengan 34 di antaranya ditetapkan sebagai contoh model untuk diuji coba dalam Regulatory Sandbox dari 120 permohonan pencatatan yang masuk di OJK.

Dari total permohonan tersebut, telah tercatat 48 IKD yang terbagi menjadi 15 klaster. Yaitu, aggregator, credit scoring, claim service handling, digital DIRE, financial planner, financing agent, funding agent, online distress solution, online gold depository, project financing, social network and robo advisor, block-chain based, verification non-CDD, tax and accounting dan e-KYC.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.