Menikmati Hangatnya Senja dan Desir Ombak dari Benteng Ratusan Tahun

4 menit
Benteng Toboali, Peninggalan Kolonial Belanda di Selatan Bangka (MoneySmart/Winda Destiana Putri).
Benteng Toboali, Peninggalan Kolonial Belanda di Selatan Bangka (MoneySmart/Winda Destiana Putri).

Hari sudah semakin sore, langit sudah berubah menjadi jingga, sinar matahari pun perlahan turun dan meredup. Dari balik bangunan tua berusia ratusan tahun, nampak deburan ombak yang bergulung-gulung dari atas ketinggian. Pemandangan ini bisa jelas terlihat dari atas Benteng Toboali.

Bangunan tua dengan rudal di bagian depan sudah terpampang jelas di gerbang masuk bangunan ini. Suara sayup-sayup burung yang berkicau pun semakin melengkapi suasana magis di benteng tersebut. Benteng Toboali, merupakan bangunan peninggalan pada masa penjajahan Belanda. Dahulu, fungsi benteng ini adalah untuk melindungi pertambangan timah dari serangan yang datang. Kemudian beralih ke penguasaan Jepang pada tahun 1943 hingga 1945. 

Arsitektur benteng Toboali di sisi kiri terdapat bangunan yang terdiri dari beberapa ruangan. Sementara di sebelah kanan, bentuk bangunan utuh tidak lagi terlihat. Hanya sisa reruntuhan batu yang sudah banyak tertutup lumut. Bahkan sebagian sudah hancur berkeping-keping. 

Akar-akar pohon besar banyak yang sudah merayap ke berbagai sisi bangunan. Di sisi tengah bangunan tampak lowong, hanya beberapa bangku serta meja yang terbuat dari batu. Lokasi ini dulu adalah tempat para prajurit berkumpul atau makan. 

Baca juga: Danau Kaolin, Potret Keindahan Tersembunyi Sisa Tambang Kosmetik di Bangka Belitung

Sejarah Benteng Toboali

Benteng Toboali
Sejarah benteng (MoneySmart/Winda Destiana Putri).

Benteng Toboali merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1825 di sebuah bukit di pinggir pantai sebelah utara kelurahan Tanjung Ketapang, Toboali di Bangka Selatan. Jarak benteng dari pusat kota Toboali hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. 

Namun jarak dari Kota Pangkal Pinang sekitar 130 km jauhnya. Dari bukit yang berketinggian sekitar 18 meter itu, dapat dilihat pemandangan Pantai Bhayangkara atau yang lebih akrab di sebut warga setempat dengan Pantai Nek Aji.

Untuk melihat pantai, perlu sedikit masuk ke dalam, duduk di sebuah bebatuan, tepat di bawah pohon besar nan rindang. Ketika memasuki area benteng, kamu akan disambut oleh deretan anak tangga yang landai dan sebuah artefak berbentuk rudal tua yang dipasang mengarah ke langit di sisi kanan anak tangga. 

Benteng dengan ukuran luas 54 x 32 meter ini memang sudah tidak utuh lagi. Atap serta sebagian dinding sudah rubuh. Benteng ini dibangun dengan tinggi bervariasi antara 2 hingga 3 meter, dengan ketebalan dinding benteng bagian utama sekitar 90-120 cm. 

Benteng ini memang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk melindungi Kota Toboali yang mempunyai posisi sangat strategis dalam penguasaan pertambangan timah sejak abad ke-16. Lokasi benteng juga dipilih karena alasan strategis. Yaitu berada di atas bukit yang dapat memantau perairan di Laut Jawa di sebelah selatan Bangka serta Pelabuhan Bom Pendek di Toboali.

Seperti kota Muntok di ujung barat Pulau Bangka, Pemerintah kolonial Belanda juga membagi Toboali dalam beberapa klaster. Yakni klaster Eropa, klaster Cina dan klaster Melayu untuk pribumi agar dapat mengendalikan penduduk Bangka dan stabilitas di Toboali.

Baca juga: Menikmati Keindahan Batu Belimbing dan Benteng Toboali di Bangka Selatan

Apa yang bisa dilakukan disana

Benteng Toboali
Suasana di dalam benteng (MoneySmart/Winda Destiana Putri).

Turis yang datang ke benteng ini selain berswafoto, tentu bisa mempelajari sejarah Toboali. Disini, kamu gak cuma datang untuk menikmati sisa reruntuhan bangunan saja, melainkan juga mempelajari maknanya. 

Kamu bisa mempelajari asal muasal benteng, dan keterkaitannya dengan zaman kolonial. Selain itu, kamu juga bisa melihat objek wisata lain yakni Pantai Nek Aji yang berada tepat berdekatan dengan lokasi benteng. 

Objek wisata ini juga menjadi lokasi banyak fotografer mengambil gambar. Bentuk bangunan yang masih alami membuat banyak wisatawan betah berlama-lama disini. Gak heran ada beberapa yang menunggu matahari terbenam baru meninggalkan benteng. Ditambah lagi jarak ke lokasi benteng cukup dekat.

Tapi ada baiknya kamu datang saat sore hari. Dimana matahari akan malu-malu menyembulkan sinarnya dari balik pepohonan di bangunan tersebut. Sehingga membuat suasana bangunan semakin hangat. Kalau beruntung, kamu bisa mengambil gambar matahari terbenam dari balik celah reruntuhan bangunan. 

Cara menuju benteng

Benteng Toboali
Reruntuhan di dalam benteng (MoneySmart/Winda Destiana Putri).

Benteng Toboali terletak di Tanjung Ketapang, Toboali, Bangka Selatan. Untuk menuju kota ini dari Pangkal Pinang kamu perlu berkendara selama kurang lebih 2 jam setengah. Dengan kondisi jalan mulus, objek wisata sejarah ini memang patut dikunjungi. 

Selain menikmati keindahan alam, objek wisata ini bisa membawa kamu seolah kembali ke zaman kolonial. Benteng tersebut seolah menjadi saksi berdirinya kota Toboali. Untuk masuk ke dalam benteng pun kamu gak dipungut biaya. Hanya sekedar membayar biaya parkir masuk kendaraan saja sebesar Rp 5 ribu. 

Karena kemudahan akses ini menjadi poin namun juga ancaman bagi kondisi benteng. Jika tidak terawat kondisi benteng justru akan menjadi sasaran tangan-tangan jahil. Padahal ada sejarah besar terjadi disini. 

Dari Benteng Toboali, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan kota Toboali serta Pantai Nek Aji dan beberapa bangunan-bangunan tua yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda, yang salah satunya berfungsi sebagai gedung wedana. Biasanya, orang-orang berkunjung ke benteng ini di waktu sore hari. Jangan lewatkan untuk mengunjungi benteng ini ketika berkunjung ke Toboali.

Untuk harga tiket pesawat ke Pangkal Pinang sendiri juga beragam. Mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 1,2 juta. Jika ingin cepat sampai, hindari lah penerbangan transit ya! Sesampainya disana, kamu perlu menyewa mobil untuk menemanimu berkeliling Bangka Belitung. Karena transportasi umum masih jarang ditemui ketika sampai di daerah-daerah tertentu. (Editor: Winda Destiana Putri).

Winda Destiana
Winda Destiana

No place is ever bad as they tell you its going to be