Berapa Sih Biaya Membesarkan Anak dan Gimana Cara Menekannya?

3 menit
biaya membesarkan anak

Buat yang punya rencana menikah, jangan stop menghitung biaya hingga resepsi saja. Di depan, masih banyak ongkos yang mesti disiapkan, salah satunya biaya membesarkan anak.

Tentunya menjalin rumah tangga selalu diikuti dengan rencana memiliki anak, ya. Tapi ada juga pasangan yang menunda memiliki anak setelah menikah karena mau menyiapkan dana dulu.

Langkah tersebut bisa dibilang bijak jika mengacu pada faktor finansial. Sepertinya sekarang banyak yang menentang pepatah orang zaman dulu bahwa banyak anak banyak rezeki.

Nyatanya, membesarkan anak memang membutuhkan biaya yang gak sedikit. Menurut survei Qraved di Jakarta, sebanyak 82 persen orang tua menggelontorkan Rp 50 ribu sebagai uang jajan anaknya tiap hari. Sisanya, 9 persen memberikan Rp 100 ribu, 5 persen di atas Rp 100 ribu, dan 4 persen di bawah Rp 50 ribu.

Bila memberikan Rp 50 ribu per hari, berarti perlu disiapkan 20 hari sekolah x Rp 50 ribu = Rp 1 juta tiap bulan. Duit itu hanya buat jajan anak, lho. Belum termasuk ongkos beliin mainan, baju, atau susu. Juga, yang paling penting, biaya pendidikan.

Hasil survei ini tentunya gak bersifat pasti. Namun kurang-lebih menggambarkan berapa biaya membesarkan anak di kota besar seperti Jakarta.

Secara rata-rata, kenaikan biaya pendidikan per tahun sekitar 10 persen. Pos ini adalah yang terbesar dalam komponen biaya membesarkan anak.

Meski menjadi beban, biaya membesarkan anak mestinya dihadapi dengan lapang dada. Karena itulah diperlukan strategi untuk mengatasinya.

Besarnya biaya tersebut bisa diakali dengan sejumlah cara. Berikut ini 4 cara menekan biaya membesarkan anak:

1. Hemat saat buah hati masih kecil

Ada kecenderungan orang tua ingin membelikan apa saja buat anak mereka yang masih kecil. Apalagi anak pertama. Dari stroller sampai topi dan kaus kaki.

biaya membesarkan anak
Ayo bu mau pilih yang mana, mumpung diskon hehehe (Stroller Bayi / Blogspot)

Masalahnya, kadang beli barang-barang ini tanpa perhitungan. Beli topi tiap kali ke mal, misalnya. Begitu juga kaus kaki. Apa iya semua mau dipakai?

Belilah secukupnya saja. Tanpa kita sadari, si mungil cepat beranjak besar. Dan, segala perlengkapannya saat kecil gak muat ataupun gak cocok lagi baginya.

2. Beli baru

Ketika memiliki anak kedua, ketiga, dan seterusnya, sebisa mungkin tahan keinginan beli keperluan bayi yang baru. Lebih baik pakai peninggalan kakaknya yang sudah gak terpakai. Ini termasuk buku-buku pelajaran.

Tentunya gak semua bisa dimanfaatkan. Tergantung pada jenis kelamin anak dan kondisi barang tersebut. Jika memang harus beli baru, jangan paksakan memakaikan barang tinggalan itu. Jangan lupa cari diskonan, ya.

biaya membesarkan anak
Ini au buka toko ya bu, kok semua dibeli sih (Perlengkapan Bayi / WordPress)

3. Masak sendiri

Ketimbang beli makan di luar, mending masak sendiri buat keluarga. Kebiasaan ini gak hanya bisa menekan biaya membesarkan anak, tapi juga pengeluaran sekeluarga.

Anak pun bisa lebih dipastikan kesehatannya dengan mengkonsumsi masakan rumah sendiri. Kita gak pernah tahu bagaimana proses pembuatan makanan di luar sana.

biaya membesarkan anak
Nah kompak dong, enakan juga masak sendiri (Memasak / Vemale)

4. Tekan ego

Sebagai orang tua, sepatutnya kita sadar bahwa tanggung jawab yang kita pikul lebih besar. Si kecil di rumah punya masa depan yang bergantung pada kebijakan kita dalam mengatur keuangan rumah tangga.

Sebaiknya, prioritaskan kebutuhan anak di atas keinginan pribadi. Contohnya ada gadget yang baru dirilis, sementara anak butuh uang untuk study tour.

Bila gadget di tangan masih oke, jangan sampai mengorbankan kesempatan anak berlibur sambil menimba ilmu. Istilahnya, biarkan anak makan ayam, kita cukup makan tahu-tempe saja.

biaya membesarkan anak
Ayo nak buka mulutnya, duh pinteanya! (Menyuapi Anak / Vemale)

Makin ke sini, biaya hidup makin besar. Tak terkecuali biaya membesarkan anak. Inilah salah satu alasan pemerintah mendorong program Keluarga Berencana (KB).

Punya dua anak saja sudah cukup. Tapi bukan berarti dilarang punya anak lebih banyak. Yang mesti dipastikan adalah kondisi finansial mesti mendukung untuk hal tersebut.

Jikapun keuangan mencukupi, itu belum tentu aman lho. Yang gak kalah penting adalah bagaimana mengelola keuangan itu agar masa depan keluarga cerah seperti sinar mentari di pagi hari.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: 8 Langkah Mengatur Keuangan Pasangan Baru Menikah, Biar Rumah Tangga Gak Cuma Seumur Jagung]

[Baca: Masak Sendiri atau Beli? Yang Mana Yang Bisa Ngamanin Keuangan Keluarga?]

[Baca: 7 Alasan Pintar Mommies Harus Cari Barang Diskon]

 

 

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.