Dulu Untungnya Buat Bangun Jakarta, Ini Perjalanan Bir Anker dari Masa ke Masa

4 menit
Bir Anker ternyata sudah lama cetak untung (Instagram).

Bicara minuman beralkohol, tahu gak bir Anker itu asalnya dari mana? Gak seperti merek Carlsberg, San Miguel, dan Guinness yang datang dari luar Indonesia, bir yang punya banyak konsumen ini ternyata berasal dari Indonesia lho.

Bisa dibilang bir Anker menjadi salah minuman alkohol made in Indonesia yang mampu bersaing dengan brand-brand asing lainnya. Di Indonesia ada dua produsen bir ternama yang mencari untung di pasar domestik, yaitu bir Bintang dan Bali Hai.

Bir Anker ini menarik karena sekitar 23 persen saham perusahaannya, Delta Djakarta, Tbk., dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan kata lain, Pemprov DKI juga menikmati keuntungan berupa dividen yang dibagikan produsen bir Indonesia ini.

Apalagi produsen bir Anker, Delta Djakarta, selalu cetak untung kalau dilihat dari laporan keuangannya. Itu berarti Delta Djakarta terus berkontribusi dalam pemasukan Provinsi DKI Jakarta yang tentu aja pemasukan tersebut digunakan buat kepentingan masyarakat Jakarta.

Dengan fakta-fakta tersebut, MoneySmart mau berbagi informasi nih gimana perjalanan Delta Djakarta yang sukses menjadi produsen bir Anker. Seperti apa kisahnya, simak yuk ulasannya berikut ini.

 

Baca juga: Pengin Wajah Bersih dan Bebas Kerutan, Ini 7 Make up Remover Murah yang Bisa Kamu Pakai

1. Didirikan pengusaha Jerman pada era Kolonial Belanda

Produsen bir Anker ini lahir pada era Kolonial Belanda (Instagram).

Delta Djakarta didirikan pada 1937 oleh pengusaha Jerman. Itu berarti produsen bir Anker ini lahir pada era Kolonial Belanda. Saat itu namanya bukan Delta Djakarta seperti namanya sekarang, melainkan bernama Archipel Brouwerij.

Entah sejak kapan terjadinya, perusahaan yang awalnya dikelola pengusaha Jerman kemudian beralih pengelolaannya ke tangan pengusaha Belanda. Mulai saat itu Archipel Brouwerij berganti nama menjadi NV De Oranje Brouwerij.

2. NV De Oranje Brouwerij dinasionalisasi dan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta

Anker Beer (Instagram).

Dimulai tahun 1957 setelah Indonesia merdeka, Pemerintah gencar melakukan nasionalisasi perusahaan yang dulunya dimiliki Belanda dan negara asing lainnya. Salah satunya adalah produsen bir Anker, NV De Oranje Brouwerij.

Perusahaan yang lagi berkembang tersebut kemudian diambil alih negara. Kemudian kepemilikannya diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 1964.

Seperti yang diungkap Historia, NV De Oranje Brouwerij beralih nama menjadi PT Budjana Djaja-Pabrik Bir Jakarta begitu dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Merek minumannya pun berganti menjadi Anker.

Baca juga: Gaya Traveling Turis Indonesia Ternyata Lebih Suka Meluangkan Waktu untuk Bersantai

3. Ganti nama jadi Delta Djakarta tahun 1970 dan dijadikan Gubernur Ali Sadikin sebagai sumber pemasukan

Anker Beer (Instagram).

Kepemilikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas produsen bir Anker dipandang sebagai satu hal yang positif oleh Gubernur Ali Sadikin. Apalagi saat itu, gubernur yang biasa disapa Bang Ali ini sedang membutuhkan dana buat pembangunan DKI Jakarta.

Maka terpikirkanlah ide mengisi pemasukan daerah yang didapat dari bir dan judi. Berhubung udah keluarnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing tahun 1967 yang membolehkan berdirinya tempat hiburan malam, Ali Sadikin melihat adanya peluang yang bisa diperoleh.

Sebab bir pastinya menjadi minuman yang dicari-cari dalam tempat hiburan malam. PT Budjana Djaja-Pabrik Bir Jakarta yang kemudian berganti nama Delta Djakarta tahun 1970 menjadi pemasok bir di tempat-tempat hiburan malam di Jakarta berkat campur tangan Bang Ali.

Sejak itu Delta Djakarta selalu menghasilkan pendapatan atau revenue yang positif. Begitu pun profitnya yang dicetaknya tiap tahun dari hasil penjualan bir Anker.

4. Mencatatkan diri di bursa efek tahun 1984 dengan harga IPO Rp 2.950 per lembar

Anker Beer (Instagram).

Dalam perjalanannya, Delta Djakarta punya rencana pengin ekspansi pasar alias memperkenalkan bir Anker secara luas. Modal yang dibutuhkan tentu gak sedikit.

Karena itu, Delta Djakarta resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (sebelum gabung dengan Bursa Efek Surabaya) tahun 1984. Harga perdana sahamnya saat itu sebesar Rp 2.950 per lembar. Saat itu jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 347.400 lembar.

Dengan kode saham DLTA, produsen bir Anker ini memperkenalkan diri sebagai salah satu pemain utama di industri bir dalam negeri.

Baca juga: 5 Shio yang Paling Mujur di Tahun 2019 Ini, Kamu Salah Satunya?

5. San Miguel Malaysia Pte jadi pemilik mayoritas saham DLTA

Anker Beer (Instagram).

Emang benar dulunya Delta Djakarta sepenuhnya dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Namun, kini mayoritas saham DLTA berada di tangan San Miguel Malaysia Pte.

Perusahaan dari Malaysia tersebut juga merupakan salah produsen bir dunia. Minuman produksinya diberi merek San Miguel.

San Miguel Malaysia Pte tercatat memiliki sekitar 58 persen dari keseluruhan saham DLTA. Sementara sekitar 23 persennya dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Lalu sisanya yang sekitar 18 persen dimiliki publik.

Delta Djakarta sendiri diketahui gak cuma produksi bir Anker. Produsen bir ini juga memperdagangkan Carlsberg, San Miguel, San Mig Light, Carveza Negra, Kuda Putih dan Batavia.

6. Anies – Sandi berwacana mau melepas saham DLTA

Anker Beer (Instagram).

Gubernur Anies Baswedan dan wakilnya saat itu Sandiaga Uno pernah mewacanakan buat melepas saham DLTA. Pelepasan saham produsen bir Anker ini yang pernah dijanjikannya waktu kampanye.

Alasannya pelepasan saham DLTA sih katanya memiliki saham produsen bir tersebut gak sesuai dengan visi dan misi Pemprov DKI Jakarta. Sekaligus Anies – Sandi menginginkan dividen dari investasi yang halal.

Namun, ada kabar terbaru yang menyatakan Pemprov DKI Jakarta menambah kepemilikan saham DLTA. Kabar yang terlanjur viral ini dibantah Gubernur Anies yang menyebut kabar tersebut gak benar dan udah diralat jurnalis yang memberitakannya.

Itu tadi kisah perjalanan bir Anker yang dari dulu cetak untung dan berkontribusi bangun Jakarta, tapi kini dijauhi demi janji kampanye.

Walaupun begitu, kamu yang berinvestasi saham gak ada salahnya melirik saham DLTA. Sebab produsen bir yang satu ini selalu konsisten hasilkan profit yang berarti layak banget deh buat investasi. Awalnya per lembar saham Rp 2.950, kini harganya Rp 6.700-an. Untung banget, kan bir anker ini? (Editor: Winda Destiana Putri).

Boby
Boby

Lama bergelut dengan ensiklopedia. Kini fokus dengan urusan finansial. Di mana pun berada selalu berusaha sajikan karya yang terbaik. Semoga bermanfaat!