Penuh Kontroversi, Ini Gurita Bisnis Lion Air Group yang Merajai ASEAN

5 menit
Kerajaan bisnis Lion Air Group (Shutterstock)

Lion Air terus menuai sorotan dari dunia penerbangan. Berbagai insiden dari besar hingga kecil terus terjadi.

Insiden terbesar pada bulan Oktober 2018 lalu, sebuah pesawat Lion Air penerbangan Jakarta ke Pangkalpinang hilang kontak dan tenggelam di perairan Karawang. Kondisi pesawat hancur lebur, dan para penumpang dipastikan tidak ada yang selamat.

Minggu lalu, sebuah insiden terjadi di dalam pesawat Lion Air penerbangan Pekanbaru menuju Jakarta. Ditemukan di dalam cabin pesawat seekor kalajengking berkeliaran.

Kemunculan hewan berbahaya tersebut tentu saja menimbulkan ketakutan para penumpang.

Tak lama dari insiden itu, sebuah pesawat Lion Air mengalami tergelincir saat mendarat di Bandara Supadio Pontianak. Penyebabnya, kondisi landasan yang licin akibat hujan. Beruntung, gak ada korban jiwa maupun korban luka.

Terlepas kontroversi dan beragam insiden yang mereka alami, Lion Air telah memiliki jam terbang yang sangat mumpuni. Bahkan, di bandingkan maskapai lain, mereka memiliki rute penerbangan terbanyak dengan jangkauan hingga ke daerah-daerah terpencil.

Dalam dunia bisnis, mereka pun mengalami perkembangan dengan beragam produk bisnis. Lewat Lion Air Group, mereka menjelma menjadi raksasa maskapai penerbangan di Asia hingga merambah ke bisnis lain.

Apa saja sih gurita dari Lion Air Group ini? Simak ulasannya berikut ini:

1. Lion Air

Lion Air
Lion Air

Lion Air didirikan tahun 1999 oleh Rusdi Kirana dan sang kakak, Kusnan Kirana. Saat itu, mereka hanya bermodalkan satu buah pesawat bekas dan memberanikan diri mengurus izin terbang.

Setahun berselang, izin terbang itu keluar dan mereka menyiapkan tagline “We Make People Fly”.

Penerbangan pertamanya pada tahun 2000 hanya melayani rute Jakarta ke Pontianak. Dengan menggunakan pesawat Boeing 737-200 yang hanya berjumlah dua unit.

Meski hanya dua unit, bisnis tersebut jalan dan menjanjikan, hingga akhirnya Lion Air menambah 5 pesawat yang juga bekas tapi dari Rusia. Begitu seperti dikutip dari Tribunnews.

Untuk dapat bersaing, mereka hadir sebagai maskapai dengan biaya termurah yang pada saat itu bepergian menggunakan pesawat dengan harga murah merupakan hal mustahil.

Tapi, mereka berhasil membuktikannya dan menunjukkan perkembangan bisnis yang menjanjikan.

Baca juga: Lion Air dan Wings Air Hapus Ketentuan Bagasi Gratis 

2. Wings Air

Wings Air
Wings Air

Seiring dengan berkembangnya bisnis. Lion Air Group mengekspansi bisnisnya dengan meluncurkan maskapai dengan rute penerbangan ke pelosok dan internasional pada tahun 2003.

Pesawatnya pun berbeda dengan Lion Air yang memilih menggunakan Boeing, Wings lebih memilih pesawat yang hanya bermanuver untuk rute-rute pendek, yaitu ATR.

Pesawat jenis ini memiliki ciri khas memakai dua baling-baling yang masih menempel di sayap, dan dengan jumlah penumpang maksimum 78 orang.

Meski menggunakan pesawat kecil, Wings Air ini mampu menjangkau rute-rute terpencil seperti dari ujung Aceh, NTT, hingga Papua. Ditambah dengan dua rute penerbangan internasional saat itu menuju ke Penang dan Malaka.

Baca juga: Korban Lion Air Dapat Ganti Rugi Miliaran, Hotman Paris Yakin Bisa Raih Triliunan Rupiah

3. Batik Air

Batik Air
Batik Air

Batik Air didirikan Rusdi Kirana pada tahun 2013. Berbeda dengan Lion Air, Batik menawarkan sensasi penerbangan yang lebih premium.

Salah satu andalannya, penumpang bisa mengakses internet di tengah-tengah penerbangan. Hal yang sangat jarang bisa dilakukan di maskapai-maskapai Indonesia.

Saat itu, Batik Air terbang dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER yang mampu mengangkut sekitar 180 orang dan telah dilengkapi dengan fasilitas entertainment yang menghibur, seperti layar di kursi.

Dengan layanan ini, para penumpang dapat mendengar lagu atau menonton film saat penerbangan berlangsung. Jadi, dijamin gak bosan deh selama di perjalanan!

Dikutip dari Flightglobal, Batik Air saat itu menawarkan dua pilihan rute, yaitu Jakarta ke Manado, dan Jakarta ke Balikpapan.

Tujuannya, untuk mendekatkan para penumpang yang hendak menuju ke rute Asia Timur Laut atau Asia Pasifik, seperti Jepang.

Batik Air juga hadir untuk menyaingi maskapai-maskapai kelas premium yang lebih dulu ada. Salah satunya, Garuda Indonesia.

4. Malindo Air

Malindo
Malindo

Rusdi gak cukup puas hanya menguasai pasar maskapai penerbangan di Indonesia. Dia pun resmi menjalin kerja sama dengan pihak National Aerospace dan Defence Industries (Malaysia) untuk membentuk sebuah maskapai premium yang berbasis di Malaysia.

Maskapai tersebut diberi nama Malindo Air yang masih di bawah payung Lion Air Group. Berdiri tahun 2013, Malindo Air melayani sejumlah penerbangan domestik dan internasional.

Dikutip dari laman resminya Malindo, pesawat ini pertama kali melayani rute dari Kuala Lumpur ke Kota Kinabalu, Malaysia. Mereka pun terus mengembangkan sayap dan mulai membuka rute internasional ke Thailand, India, Indonesia, Singapura, dan Nepal.  

Hingga kini, Malindo telah melayani 800 penerbangan setiap minggunya dengan lebih dari 40 rute tujuan.

5. Thai Lion

Thai Lion
Thai Lion

Gak cukup dengan Malaysia, Lion Air kembali menjalin kerja sama dengan mitra di Thailand. Sama seperti di Indonesia, maskapai ini juga menawarkan beragam rute penerbangan dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang maskapai lainnya.

Dikutip dari Kontan, saat itu Lion Air menyiapkan dana sampai US$ 10 juta atau Rp 141 miliaran (dengan kurs Rp 14.118/US$) untuk ekspansi ke Thailand.

Di masa-masa awal berdirinya pada tahun 2013 silam, Thai Lion mempersiapkan 80 armada pesawat berjenis Boeing 737-900ER.

Maskapai yang berpusat di Bangkok ini telah melayani rute internasional ke negara-negara ASEAN, yaitu Indonesia, Thailand, Malysia, dan Singapura.

6. Lion Bizjet

Lion Air Group (Instagram/@lionairgroup)
Lion Air Group (Instagram/@lionairgroup)

Lion Bizjet diluncurkan pada tahun 2012 bertepatan dengan perayaan 12 tahun Lion Air mengudara. Masih seputar bisnis penerbangan, kali ini penerbangan jet untuk keperluan VVIP.

Dikutip dari Beritasatu, pesawat yang digunakan adalah jenis Hawker Beechcraft 900XP dengan kapasitas delapan kursi. Saat itu, pesawat dibeli Lion dengan harga US$ 18 juta per unitnya atau setara Rp 253 miliaran jika dihitung sesuai kurs dolar hari ini.

Maskapai ini siap melayani semua pihak yang memesannya ke berbagai rute internasional dari Jakarta menuju negara-negara di Asia seperti Cina, Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina, dan juga rute Australia, Perth dan Darwin.

Layanan ini berangkat dari Halim dan siap sedia untuk digunakan dalam 24 jam. Asalkan, harus memesan dahulu tiga jam sebelum keberangkatan.

Itulah enam gurita bisnis penerbangan Lion Air Group yang kita kenal saat ini. Berkat kepiawaian bisnis Rusdi Kirana dan sang kakak, berhasil membawa maskapai bergambar singa terebut sukses menjadi maskapai dengan jumlah penerbangan terbanyak di ASEAN.

Kedua kakak beradik itu bahkan telah masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan mencapai US$ 800 juta atau Rp 11 triliunan.

Selain itu, Lion Air sebenarnya gak hanya merambah dunia penerbangan. Mereka juga mulai merambah ke dunia jasa pengiriman paket melalui Lion Parcel, dan dunia perhotelan melalui Lion Hotel di Manado. (Editor: Chaerunnisa)

 

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!