Bukalapak Mau Jual Saham di 4 Negara Ini

3 menit
Bukalapak Pengan Jual Saham (Shutterstock)
Bukalapak Pengan Jual Saham (Shutterstock)

Bukalapak sebagai salah satu startup sukses asal Indonesia berambisi untuk dapat melaksanakan initial public offering (IPO) atau menjual sebagian saham perusahaan kepada publik atau masyarakat.

Founder yang juga Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak, Ahmad Zaky mengatakan, sebagai perusahaan teknologi yang sudah masuk dalam kategori unicorn, Bukalapak harus membuktikan diri kepada publik mampu menjadi perusahaan yang meraih keuntungan.

Salah satu pembuktian tersebut adalah melakukan IPO. Achmad Zaky mengungkapkan keinginannya Bukalapak bisa IPO di Singapura, Amerika Serikat, hingga Australia, dan tentunya di Indonesia.

“Saya pikir ini merupakan bagian dari tanggung jawab kami sebagai perusahaan teknologi awal unicorn. Kami harus menjadi panutan, kami harus menunjukkan bahwa kami menguntungkan. Kami dapat melakukan IPO di suatu tempat atau di Singapura, Nasdaq atau Australia, Indonesia juga,” ujar Zaky saat Tech In Asia Confrence di Jakarta.

Selain pembuktian kepada publik, dengan melakukan IPO, penjualan saham juga sebagai upaya memberikan keyakinan kepada kalangan investor bahwa penanaman modal yang sudah diberikan telah berhasil mengembangkan perusahaan.

Tercatat, saat ini ada lima startup unicorn di Indonesia, mulai dari Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan terakhir OVO, dan semuanya belum melantai di bursa saham.

“Saya pikir kami sedang menunggu ini untuk menjadi sangat sukses dan mudah-mudahan kisah sukses ini dapat menghasilkan lebih banyak investor. Lebih menginspirasi banyak pendiri dan ekosistem bisa lebih besar dan lebih besar,” papar Zaky.

Dengan itu, Zaky berharap akan semakin banyak talenta-talenta muda berbakat asal Indonesia yang mampu mendirikan perusahaan teknologi. Seperti halnya Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan OVO.

“Dan para talenta tumbuh, orang-orang dari seluruh Indonesia dapat bermimpi tentang mendirikan perusahaan teknologi. Saya pikir itulah masa depan ekosistem startup di Asia Tenggara,” ujar Zaky.

Indonesia Pimpin Ekonomi Digital Asia Tenggara

Sementara itu, peran Indonesia pada ranah teknologi Asia semakin meningkat. Setelah sebelumnya berada dalam bayang-bayang negara tetangga Singapura, kini lndonesia makin mengukuhkan diri sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir.

Ketahanan ekonomi dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang kuat menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di antara negara-negara G20.

Hal ini pun mampu memikat para investor dan pebisnis untuk mendirikan usaha di lndonesia.

Indonesia juga telah memiliki beberapa unicorn, startup yang memiliki valuasi 1 miliar dollar AS atau setara Rp 14 triliun) atau lebih.

Bahkan, lndonesia diprediksi bakal memiliki unicorn kelima pada akhir tahun ini, mengikuti jejak Gojek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.

Founder Tech in Asia, Willis Wee mengatakan, saat ini Indonesia merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari pangsa pasar ekonomi digital.

“Indonesia merupakan pasar penting bagi startup yang ingin menembus pasar regional, mengingat banyak peluang besar yang tersedia,” ungkapnya.

Berdasarkan laporan Temasek, ekonomi digital Indonesia tahun ini mencetak US$ 40 miliar atau Rp 556,6 triliun dengan kurs Rp 14.166 per dollar AS.

Jumlah tersebut menjadi nominal Tertinggi di kawasan Asia Tenggara pada tahun ini, Indonesia mengalahkan Thailand dengan US$ 16 miliar. Kemudian Singapura dengan US$ 12 miliar, Vietnam dengan US$ 12 miliar, Malaysia dengan US$ 11 miliar, dan Filipina dengan US$ 7 miliar dollar AS.

Temasek pun memprediksi pada tahun 2025 mendatang ekonomi digital Indonesia akan semakin meningkat US$ 133 miliar. Jumlah tersebut juga masih mengungguli Thailand dengan ekonomi digital sebesar US$ 50 miliar di tahun 2025 mendatang.

5 E-commerce Paling Laris di Indonesia

Dalam digital ekonomi, yang menjadi daftar teratas penyumbang sektor ekonomi digital adalah e-commerce yang juga paling tinggi  penggunaannya.

Di Indonesia sendiri banyak sekali para e-commerce yang saling berlomba-lomba menggaet konsumen, mulai dari e-commerce bentukan anak Indonesia hingga milik asing.

Selain itu, kehadiran internet dan telepon pintar juga menjadi faktor pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Tercatat, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) terbaru, dari total populasi Indonesia sebanyak 264,16 juta orang. Sebanyak 64,8 persen penduduknya melek terhadap Internet, atau sebanyak 171,17 juta orang.

Survei itu juga mengungkapkan pertumbuhan pengguna Internet mencapai 10,12 persen. Sepanjang 2018 dibandingkan dengan 2017, atau bertambah sebanyak 27,92 juta orang. Survei itu juga mengungkapkan Pulau Jawa tetap menjadi wilayah yang dengan kontribusi pengguna yang tertinggi.

1. Lazada Indonesia

Posisi teratas berdasarkan data Google Play Store, aplikasi belanja online Lazada paling banyak diunduh oleh masyarakat Indonesia dengan 100 juta lebih unduhan.

Lazada mulai berkiprah di Indonesia pada tahun 2014 lalu bersamaan dengan operasional di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

2. Tokopedia

Kemudian, posisi kedua terdapat e-commerce lokal asal Indonesia dengan 50 juta lebih unduhan di Google Play Store.

Tokopedia sudah diluncurkan sejak tahun 2009 lalu yang didirikan oleh William Tanuwijaya bersama dengan Leontinus Alpha Edison.

3. Shopee

Selanjutnya posisi ketiga terdapat e-commerce Shopee dengan 50 juta lebih unduhan, Shopee memulai peruntungan di Indonesia sejak tahun 2015 lalu bersamaan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Tercatat, pada tahun 2017 berdasarkan hasil riset The Asian Parent, Shoppe merupakan platform pilihan Ibu-ibu untuk belanja online sebesar 74 persen, kemudian diikuti Tokopedia dengan 54 persen, Lazada 51 persen, dan Instagram 50 persen.

4. Bukalapak

Kemudian posisi keempat ada Bukalapak dengan total 10 juta lebih unduhan di Google Play Store.

Bukalapak resmi didirikan pada 2010 lalu oleh Achmad Zaky bersama Muhammad Fajrin Rasyid semasa mengeyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

5. Blibli.com

Selanjutnya posisi kelima terdapat Blibli.com dengan 10 juta unduhan pada laman Google Play Store.

Perusahaan bentukan Djarum ini memulai pertarungan diduna ekonomi digital pada tahun 2010 lalu dengan nilai investasi sebesar Rp 100 miliar.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

 

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.