Kenalan dengan Istilah Bull and Bear di Pasar Saham dan Tips Agar Tetap Cuan

3 menit
bull and bear
Bull and bear. (Shutterstock)

Dalam dunia pasar modal dikenal istilah Bull and Bear. Bagi sebagian investor pasar saham, pasti udah sering mengalami situasi di mana harga-harga indeks perdagangan mengalami peningkatan serta penurunan yang signifikan tanpa bisa diprediksi. Kalau naik, sering disebut saham lagi bullish, sedangkan kalau lagi turun dikatakan bahwa saham lagi bearish.

Memang, belum diketahui secara pasti mengapa nama kedua hewan tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi tersebut. Namun, banyak kalangan yang percaya bahwa gerakan tubuh alami kedua hewan tersebut dapat merepresentasikan pergerakan harga saham. Banteng (bull) yang menyerang dengan gerakan menyeruduk dari bawah ke atas mewakili pergerakan harga saham yang naik (bullish). Sementara itu, beruang cenderung menyerang lawannya dengan gerakan menunduk, menggambarkan harga saham yang turun (bearish). 

Kalau kamu pengin terjun menjadi investor saham, mau gak mau kamu harus siap dengan kedua kondisi tersebut. Karena hampir pasti, saham-saham yang ada di pasar akan mengalami periode bullish dan bearish.

Nah daripada kamu terus-terusan bingung mending kita simak aja nih langsung sedikit serba serbi dari istilah Bull and Bear berikut ini:

Baca juga: Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Ini Hal Terpenting yang Harus Dipahami Investor Saham

Pengertian dari Bull and Bear di dunia pasar modal

bull and bear
Apa sih artinya bullish dan bearish? (Shutterstock)

Seperti yang udah disinggung sedikit di atas, binatang banteng (Bull) yang ada dalam kalimat tersebut menggambarkan situasi pasar saham yang sedang meningkat secara keseluruhan. Jika ngomongin bursa lokal berarti konteksnya adalah Indeks Harga Saham Gabungan atau biasa disingkat IHSG.

Sedangkan binatang beruang (Bear) mengilustrasikan kondisi pasar saham yang sedang memerah atau turun akibat faktor tertentu yang sangat bervariasi. Kedua fenomena tersebut akan lebih mudah terlihat oleh pelaku pasar jika peningkatan atau penurunan terjadi dalam periode waktu tertentu seperti bulanan atau tahunan.

Gak hanya di saham aja, pasar trading forex atau mata uang asing juga mengenal istilah tersebut dalam perjalanannya. Lantas apa aja faktor yang mempengaruhinya? Yuk kita lihat di poin selanjutnya

Baca juga: Performa Saham Antam yang Harganya Ikutan Naik Gara-Gara Harga Emas Naik

Faktor yang memicu terjadinya Bull and Bear

Menurut Indra Pratama pengamat pasar modal dari sekuritas Indo Premier saat menghadiri event Moneysmart bertajuk Stock Opname 2019 Bull vs Bear tanggal 30 Agustus 2019, terdapat beberapa hal yang bisa memicu bullish atau kenaikan harga saham. Yang pertama yakni pertumbuhan ekonomi negara yang baik, inflasi yang rendah serta stabil, suku bunga yang stabil, nilai tukar mata uang yang stabil dan valuasi perusahaan yang rendah.

Sementara itu, untuk fenomena bearish atau harga saham yang cenderung menurun ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor itu merupakan kebalikan dari faktor-faktor pemicu bullish. Faktornya antara lain, pertumbuhan ekonomi yang lambat, inflasi yang tinggi serta bergejolak, suku bunga gak stabil, nilai tukar mata uang berfluktuasi dan valuasi perusahaan-perusahaan terlalu mahal. 

Dengan banyaknya faktor itu kira-kira apa yang harus kita lakukan ketika sedang mengalami fenomena tersebut biar cuan tetap mengalir?

Baca juga: Kalau Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, 3 Saham Ini Diprediksi Datangkan Cuan

Tips menghadapi fenomena Bull and Bear

bull and bear
Apa langkah paling tepat hadapi fenomena bullish dan bearish? (Shutterstock)

Tujuan dari kamu berinvestasi tentu adalah mengambil keuntungan dari uang yang telah diinvestasikan. Jika berpatokan pada hal tersebut maka waktu yang tepat untuk membeli sebuah saham adalah ketika situasi pasar sedang bearish atau turun. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan, kamu juga harus mengecek kondisi perusahaan secara keseluruhan agar gak salah langkah.

Bagi kamu yang udah terlanjur memiliki saham sebuah perusahaan dan kondisinya lagi bearish gak perlu panik atau langsung menjual. Sebab, umumnya hal itu hanya akan berlangsung sementara aja dan bakal pulih kembali setelah beberapa waktu. 

Sementara itu, kondisi bullish bakal menjadi momen yang tepat bagi para trader untuk menjual saham-sahamnya sebagai bentuk profit taking. Aksi serupa boleh aja kamu lakukan untuk menambah modal, asal jangan langsung menghabiskan semua portofolio karena siapa tahu harganya bisa lebih naik dalam waktu dekat. 

Untuk yang pengin membeli juga gak usah ragu karena tetap masih bisa menguntungkan kok. 

Nah kalau udah tau tentang istilah Bull and Bear secara umum di pasar saham tapi bingung mempraktikannya di dunia nyata gak usah khawatir. Sebab terdapat perusahaan sekuritas yang bisa memfasilitasi segala keperluan kamu mulai dari mendaftar, pelatihan hingga menjadi seorang investor saham.  

Salah satunya adalah Indo Premier. Sekuritas ini menawarkan proses registrasi yang terbilang mudah, karena bisa dilakukan melalui aplikasi IPOTGO di smartphone.

Selain IPOTGO, ada juga beberapa aplikasi lain seperti IPOTPAY untuk kebutuhan pembayaran tagihan terintegrasi, IPOTFUND sebuah platform Reksadana online, IPOTNEWS yang merupakan portal berita finansial dan IPOTSTOCK untuk memantau harga saham secara lebih detail dari hp. 

Indo Premier menawarkan fitur Auto Trading Machine dimana kamu bisa menjual atau membeli saham tertentu secara otomatis tanpa harus capek-capek melihat indeks setiap menitnya. Setelah paham soal konsep bull and bear, berminat untuk meraup cuan dari pasar saham? (Editor: Ruben Setiawan)

Christantio Utama
Christantio Utama

Milenial yang merintis karier lewat dunia keuangan, karena segalanya butuh uang tapi uang bukanlah segalanya. Penonton setia Digimon dan penggemar olahraga otomotif Formula 1