Ingin Kredit Hp atau Laptop? Ingat Bunga Kredit yang Melangit

2 menit
Bunga kredit tinggi, jangan sembarang ambil cicilan.

Bunga kredit lagi selangit nih. Berdasarkan data suku dasar kredit (SBDK) Bank Indonesia per Februari 2014, pihak perbankan terus merevisi besarannya. Bahkan ada bank-bank yang mengerek sampai 300 basis poin (bps), di atas kenaikan BI rate yang hanya sebesar 175 bps.

SBDK adalah suku bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi bank dalam penentuan suku bunga kredit kepada nasabah. Dengan kenaikan SBDK itu, bunga kredit yang diterima nasabah dapat naik, baik untuk portofolio lama maupun portofolio baru.

[Baca: Nyari Utang ke Bank, Musti Kenalan Dulu Sama SBDK]

Daftar dari BI memperlihatkan bunga kredit segmen ritel naik pada kisaran 25 hingga 300 bps. Sedangkan, Bunga kredit kian tinggi. Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) Bank Indonesia pihak perbankan terus merevisi besarannya. Untuk konsumsi non-KPR naik di kisaran 24 hingga 200 bps. Bunga kredit pemilikan rumah naik antara 25 hingga 187 bps. (*Ref 1)

Jadi, dengan kenaikan suku bunga itu tak ada salahnya mempertimbangkan lagi mengajukan kredit untuk barang konsumsi. Yakinkan dulu barang yang diincar itu memang sesuatu yang dibutuhkan dan bukan karena faktor keinginan alias nafsu belaka.

Misalnya saja, niatan kredit handphone / hp atau kredit laptop. Iming-imingnya kredit laptop murah. Tapi kalau yang lama masih bagus, kenapa harus memaksakan membeli baru.

Kenaikan ini bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengerem mengambil kredit untuk barang konsumsi. Apalagi mayoritas barang konsumsi orang Indonesia seperti alat-alat elektronik, makanan di restoran, atau pakaian, adalah barang impor.

Mungkin mereka yang baru sebatas niat bisa lolos dari jeratan suku bunga kredit konsumsi yang naik. Lantas bagaimana yang sudah terlanjur mengambil? Kalau kondisi keuangan masih sehat, kenaikan bunga ini mungkin bisa ditutupi dengan memperbesar pengeluaran untuk cicilan kredit.

Kira-kira langkah apa saja yang bisa diambil saat kondisi lagi melangit?

1. Urungkan niat berutang

Seolah klise tapi penting. Kenaikan suku bunga tinggi tak bakal menimpa kita asal tak punya utang kredit di bank. Atau juga jangan tergoda menggesekkan kartu kredit untuk membeli barang konsumsi yang sifatnya bisa ditunda.

Abaikan juga tawaran pinjaman tanpa bunga. Toh, jatuh-jatuhnya pinjaman itu sama saja dengan berutang.

2. Turunkan level standar hidup

Memang tak masalah kongkow-kongkow sama teman-teman di café atau restoran di mal elite. Hanya ketika situasi seperti ini, tak ada salahnya memindahkan acara kongkow-kongkow di tempat yang lebih murah.

3. Jangan lapar mata dan tinggalkan kartu kredit di rumah

Kebiasaan mampir di pusat perbelanjaan yang sedang menawarkan diskon sebaiknya dikurangi dulu. Percayalah tawaran diskon itu masih akan terulang lagi di waktu yang akan datang. Jadi, tinggalkan kartu kredit di rumah.

Cara lainnya adalah tinggalkan dulu kebiasaan berbelanja online. Maklumlah, kemudahan kredit online dalam model belanja ini membuat kita lupa berapa banyak barang yang kita beli. [Baca: Belanja Online Tanpa Bikin Suami Gusar]

4. Atur lagi pos pengeluaran

Begitu bunga naik, coba pertimbangkan opsi untuk melunasi segera. Tak ada salahnya memperbesar pos pengeluaran untuk memprioritaskan pelunasan utang dulu.Tapi dengan catatan jika memungkinkan ya.

5. Negosiasikan utang

Jika mengalami kejadian di mana sulit membayar cicilan kredit karena suku bunga yang tiba-tiba melangit, tak ada salahnya membicarakan hal ini ke pihak bank. Carilah informasi apakah ada penawaran program transfer balance ke bank lain.

Perlu diketahui, besaran bunga kredit tiap bank tak ada yang sama. Tak ada salahnya memindahkan sisa utang ke bank lain yang mengenakan suku bunga lebih rendah dari bank sebelumnya.

*Ref 1: http://www.bi.go.id/id/perbankan/suku-bunga-dasar/Default.aspx

Money Smart
Money Smart

MoneySmart adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.