Gaji di Bawah UMR Jakarta tapi Mau Investasi Saham? Ini 6 Caranya

5 menit
Cara investasi saham buat mereka yang bergaji di bawah UMR Jakarta (Shutterstock).

Punya gaji di bawah UMR DKI Jakarta, tapi tertarik investasi saham? Gak masalah, hal itu bisa direalisasikan. MoneySmart punya beberapa cara investasi saham yang bisa dilakukan untuk mereka yang bergaji pas-pasan atau di bawah rata-rata UMR Jakarta.

Gaji di bawah UMR DKI (Rp 3,9 juta) saat ini jelas dianggap kecil. Terkadang, orang dengan gaji sebesar itu gak terpikir untuk investasi karena harus fokus untuk menabung serta menanggung biaya hidup yang terus naik. Melihat realita ini, tentu salah besar kalau kita mengesampingkan apa itu investasi.

Sejatinya, gak ada yang rumit soal investasi saham. Dan salah besar kalau berpikiran bahwa hanya orang-orang berduit yang bisa berinvestasi di sektor ini, mengingat risikonya cukup tinggi.

100 lembar saham justru ada yang bisa dibeli dengan uang Rp 5 ribu perak saja. Dan keuntungan investasinya bisa dicairkan kapanpun, bahkan gak sampai 1 jam pun bisa dicairkan.

Jelas dong, investasi ini lebih murah ketimbang deposito atau emas yang notabene adalah investasi dengan risiko teraman. Modal awal investasi deposito Rp 5 juta, sedangkan emas bisa Rp 600 ribuan (tergantung harga emas per-gram). Walaupun nabung emas bisa dimulai dengan Rp 6 ribu perak, pencairannya hanya bisa dilakukan saat emasmu mencapai 1 gram.

Anggap saja, saat ini kamu adalah seorang buruh berpenghasilan Rp 3 juta pas. Dan kamu tertarik untuk berinvestasi di pasar modal. Berikut cara investasi saham yang bisa kamu terapkan.

Baca juga: Jalan-Jalan ke Singapura, Jangan Lupa Kunjungi Pusat Belanja Murah Ini Ya!

1. Jangan paksakan mengeluarkan 10 persen dari penghasilan

Uang gaji (Shutterstock).

Idealnya, seseorang mengeluarkan 10 persen dari total penghasilan untuk investasi dalam sebulan. Kalau gajimu Rp 3 juta ya paling gak ya Rp 300 ribu.

Tapi, berhubung gaji Rp 3 juta tergolong di bawah upah minimum rata-rata DKI, berhati-hatilah untuk yang satu ini. Gak perlu memaksakan Rp 300 ribu juga gak masalah, yang penting kamu tetap komitmen untuk mengeluarkan uang dan membeli saham tiap bulan.

Jika memaksakan 10 persen juga gak apa-apa tapi konsekuensinya adalah, kamu harus mengurangi biaya-biaya lain. Sebut saja biaya lifestyle atau paling parahnya adalah biaya makan.

Dengan bujet Rp 50 ribuan, kamu juga sudah bisa membeli saham-saham bagus lho. Masih banyak emiten-emiten di bursa efek yang menjual sahamnya selembar di harga Rp 500 perak atau di bawah itu. Bayangkan saja, jika harga sahamnya Rp 100 perak, tentu kamu bisa dapat 5 lot dengan Rp 50 ribu, lumayan kan?

Cara investasi saham yang satu ini juga bisa dikatakan sebagai cara tepat untuk pemula. Buat yang masih takut keluar uang banyak, coba saja cara ini. Ketika sudah merasakan untung, pasti gak ragu deh mengeluarkan uang lebih besar.

2. Jangan trading, nabung saja

Trading saham (MOST Mandiri).
Trading saham (MOST Mandiri).

Nabung saham tentu jadi cara investasi saham yang ideal bagi orang berpenghasilan di bawah UMR Jakarta. Karena dengan menabung secara rutin perbulan, gak terasa porsi saham yang dia miliki akan terus bertambah di kemudian hari.

Cara menabung saham tentu gak repot, kamu hanya perlu memilih saham mana yang akan kamu beli secara rutin perbulan.

Trading sejatinya adalah cara investasi saham yang cukup menguntungkan untuk jangka pendek. Namun mengapa hal ini gak disarankan untuk yang bergaji di bawah UMR Jakarta?

Karena dengan trading harian, keuntungan yang bisa didapat sangatlah kecil. Di samping itu kamu pun bakal tergoda untuk mencicipi saham-saham gorengan yang bisa melonjak dalam waktu singkat.

Membeli saham gorengan memang ngeri-ngeri sedap. Sedapnya tentu bisa naik di atas 5 persen sehari, tapi ngerinya, turunnya juga bisa di atas 5 persen dalam hitungan menit atau jam. Apa jadinya jika modal investasimu pas-pasan dan tiba-tiba kamu rugi 10 persen?

Baca juga: Buka 24 Jam Tanpa Henti, Big Bad Wolf 2019 Targetkan 1 Juta Pengunjung

3. Gunakan patokan bujet bulanan jangan “lot saham”

Saham
Saham

Dalam membeli saham, minimal pembelian yang bisa kita lakukan adalah 1 lot alias 100 lembar. Oleh karena itu, bila kamu adalah seseorang bergaji di bawah UMR DKI, jangan gunakan patokan jumlah saham untuk melakukan pembelian rutin.

Ketika kamu mewajibkan dirimu untuk membeli 3 lot saham perusahaan “A” tiap bulan, ingat lho harga saham itu fluktuatif. 3 lot hari ini belum tentu sama dengan besok, bisa jadi mahal bisa jadi lebih murah. Begitu pun dengan sebulan sebelumnya.

Ada baiknya sesuaikan saja dengan bujet. Misalkan ada kenaikan harga yang signifikan di bulan depan, gak usah memaksakan diri untuk membeli dalam jumlah lot yang sama.

Sedangkan ketika harganya turun, itu adalah peluang besar bagimu untuk membeli dalam jumlah yang lebih banyak.

4. Sebisa mungkin pilih saham LQ45

Saham LQ45

Indeks LQ45 adalah salah satu indeks saham yang ada pada Bursa Efek Indonesia yang berisi 45 saham, dengan kapitalisasi pasar terbesar. Saham-saham di indeks ini juga tergolong likuid dalam perdagangan.

Setidaknya untuk nabung, saham-saham perusahaan yang masuk LQ45 tergolong lebih aman.

Tapi balik lagi ya, jangan asal beli. Belilah saham yang unit usahanya mudah dimengerti dan memiliki laporan keuangan baik dalam setahun.

Jangan lupa juga, ketahui track record dari manajemen perusahaan yang bersangkutan. Percuma kalau harga sahamnya murah tapi manajemennya bobrok, ketika ada sentimen negatif pasti harga sahamnya bisa anjlok drastis.

Baca juga: Gak Pengin Keluar Bujet Lebih, Ini Tips Hemat Wisata di Singapura

5. Beli di saat IHSG melemah

cara membeli saham
IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG melemah bisa disebabkan karena beberapa hal, sebut saja seperti adanya penguatan Dolar terhadap Rupiah atau adanya perseteruan dagang antar negara besar. Di tahun 2019, isu perang dagang Amerika Serikat dan Cina kerap menjadi penentu kinerja IHSG.

Selain itu, IHSG juga bisa melemah ketika terjadi aksi ambil untung dari pihak asing terhadap saham-saham Indonesia. Artinya, para investor asing melakukan jual saham secara masif dan membuat harga saham-saham perusahaan Indonesia jadi turun.

Ketika IHSG lemah otomatis, warna merah bakal mendominasi aplikasi tradingmu. Dan itu tentu menjadi momentum emas buatmu untuk membeli saham. Kalau sahamnya murah, kemungkinan dapat lebih dari 1 lot juga besar bukan?

6. Atur bujet untuk gaya hidup

Bujet untuk gaya hidup (Shutterstock).

Terkadang, dengan gaji di bawah UMR Jakarta kita pun gak terpikir untuk bisa hura-hura di kala senggang karena khawatir tabungan bisa habis. Belum lagi sekarang ada investasi yang juga mengeluarkan uang tiap bulannya.

Menabung dan investasi itu penting, tapi rekreasi juga penting biar kamu gak stres di kemudian hari.

Keuntungan dari menabung saham tentu bisa kamu alokasikan ke beberapa hal. Gak salah kok untuk mengalokasikan keuntungan itu untuk menambah biaya liburan dalam beberapa bulan ke depan.

Dan gak salah juga buatmu untuk tetap bisa nonton atau nongkrong bersama teman tiap weekend. Asalkan sesuai bujet. Sebisa mungkin di bawah 10 persen dari penghasilanmu ya.

Itulah enam cara buat mereka yang bergaji di bawah UMR Jakarta. Intinya, investasi ini memang berisiko tapi di balik hal itu tentu ada keuntungan yang luar biasa besar pula.

Kalau pada akhirnya kamu pindah kerja dan akhirnya mendapat penghasilan yang lebih layak, saham-saham yang sudah kamu tabung bisa jadi nilainya sudah semakin tinggi. Nah, tentunya kamu juga bakal makin semangat lagi kan buat investasi saham. Nah itu tadi beberapa cara investasi saham yang patut kamu coba dengan gaji di bawah UMR Jakarta! (Editor: Winda Destiana Putri).

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!