Ciputra, Atlet Lari yang Jatuh Miskin Kemudian Sukses Jadi Raja Properti

3 menit
sukses mengelola kerugian

Mungkin gak banyak yang kenal dengan nama Tjin Hoan, tapi kalau kita menyebut Ciputra, semua orang pasti langsung bilang Raja Properti. Namun tahu gak kamu kalau beliau memulainya hanya dengan modal nekat.

Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah ini merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Lama tinggal di Sulawesi Utara, Ciputra memiliki keluarga dengan ekonomi berkecukupan. Namun semua itu seketika berubah saat Sang Ayah meninggal dunia. Perekonomian keluarganya terganggu dan Ia jatuh miskin.

Suatu hari, Pemerintah Kota Manado meminta Sekolah Don Bosco, yang merupakan SMA tempat Ciputra menempuh pendidikan mengizinkan dirinya ikut Pekan Olahraga Nasional II di Lapangan Ikada, Jakarta.

Ia yang sedari remaja dikenal sebagai atlet lari jarak menengah 800 meter dan 1.500 meter, diminta bergabung ke kontingen Sulawesi Utara. Ciputra yang sejak lama bermimpi ingin menginjakkan kaki di Ibu kota Jakarta pun senang bukan kepalang.

“Bukan main! Ke Jakarta!” ungkapnya di dalam biografinya yang ia luncurkan 2017 lalu, “The Passion of My Life.”, seperti dikutip dari wartaekonomi.co.id.

Saat berkesempatan menyambangi Ibu kota dan menunjukkan kebolehannya dalam dunia lari, Ciputra dan kontingen lainnya menaiki kapal laut dari Manado ke Jakarta. Dengan penuh kegembiraan dan semangat, ia dan teman-temannya berjuang melawan atlet profesional dari provinsi lain.

Namun sayang, kala itu dirinya tidak berhasil pulang sebagai juara, dan hanya masuk kualifikasi serta menembus babak final di nomor lari 800 meter dan 1.500 meter. Tapi karena itu, Ia diundang Presiden Soekarno ke Istana Merdeka.

Ciputra begitu takjub melihat kemewahan di sana, dan di sanalah pertama kalinya ia menenggak Coca-Cola. “Anak miskin ini berada di dalam Istana. Saya memandangnya dengan takjub. Ketika menenggak itu (coca-cola) saya merasakan sensasi yang luar biasa,” ungkapnya.

Kehidupan Ciputra mulanya tidak miskin. Sampai di mana waktu Sang Ayah ditangkap oleh tentara Jepang, dan disandera karena dicurigai sebagai mata-mata. Di dalam tahanan, Ayahnya tutup usia. Sejak itulah, Ciputra yang saat itu baru berusia 12 tahun harus banting tulang untuk membantu keluarganya.

Ciputra yang sebelumnya tidak pernah berkotor-kotor di kebun, terpaksa harus memeras keringat setiap hari mengolah tanah supaya dia sekeluarga bisa makan. Melalui para pendatang dari Sangihe Talaud, ia belajar berburu binatang di hutan.

Setiap akhir pekan, dari pagi hingga petang, dengan bertelanjang kaki dan berkawan dengan duri, Ciputra memburu binatang untuk lauk makan keluarganya. Pulang dari hutan, biasanya dia selalu membawa babi hutan.

Ditinggal pergi oleh Sang Ayah, Ciputra yang semulanya anak manja berubah menjadi kuat. Ia selalu mengingat nasihat almarhum, “Jika ingin sukses, lawannya bukanlah orang lain, tetapi diri sendiri.”

Mulai Usaha Dari Bandung

Selepas SMA, Ciputra mulai merintis usahanya sambil menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bersama dua sahabatnya sesama mahasiswa ITB, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, dan hanya bermodal ilmu arsitektur kampus, mereka mendirikan CV Daya Tjipta.

Diawal usaha, mereka membuka kantor di sebuah garasi di Jalan Soetjipto, Bandung. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah di Bandung mencari orang yang bersedia memakai jasanya.

Proses itu berlangsung lama, sampai tiba waktunya Ciputra menikah dan memiliki anak, dirinya mulai bertanya kepada kawannya, sampai kapan mereka bergantung menunggu orderan.

“Saya harus membuat lompatan besar,” ucapnya.

Berangkat dengan keberanian dan modal nekat, Ciputra memutuskan membawa keluarganya meninggalkan Bandung dan pergi ke Jakarta pada awal 1960-an. Dalam benaknya, melihat Jakarta yang sedang bebenah. Gak ada cara lain untuk bisa mendapatkan proyek besar kecuali bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Soemarno Sosroatmodjo.

Melalui bantuan mantan asisten Gubernur Soemarno, Mayor Charles, ia hendak bertemu dengan Gubernur.

“Saya hanya ingin menyampaikan pemikiran saya untuk membangun Jakarta,” kata Ciputra, dan keinginannya untuk bertemu dengan Sang Gubernur pun terwujud. Siapa disangka, Gubernur Soemarno pun rela mendengarkan paparan gagasan Ciputra.

Proyek Senen Jadi Tonggak Kesuksesan

Dirinya pun menunjuk Senen sebagai tempat di Jakarta yang harus dibenahi. Setelah mendengar pemaparannya, Gubernur Soemarno pun menyetujui dengan apa yang diucapkan Ciputra.

Namun masalahnya pemerintah saat itu tidak memiliki dana. Tapi Ciputra pantang menyerah. Ia terus bolak-balik Senen, dan terus memeras otaknya. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk meminta bantuan kedua temannya terdahulu, Budi dan Ismail.

Beberapa hari kemudian, Gubernur Soemarno dan tim Ciputra diterima Presiden Soekarno untuk mempresentasikan konsep peremajaan kawasan Senen.

Merasa masih anak bawang, Ciputra mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadap orang pertama di Indonesia. Dengan penuh saksama, Presiden Soekarno menyimak pemaparan Ciputra.

Setelah panjang berbicara, Presiden Soekarno pun menyetujui rencananya. Namun, lagi dan lagi, uang menjadi kendala. Niat baik pasti akan menemukan jalannya. Gubernur Soemarno membantu mimpinya dengan mengumpulkan pengusaha besar kala itu, seperti Hasjim Ning, dan Agus Musin Dasaad.

Juga ada sejumlah petinggi bank, seperti Jusuf Muda Dalam, bos Bank Negara Indonesia, dan Jan Daniel Massie, Direktur Utama Bank Dagang Negara.

Kemudian, lahirlah PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya (Pembangunan Jaya) pada 3 September 1961. Sayangnya, proyek Senen ini tidak semulus rencana di atas kertas.

Kali ini permasalahan datang dari pedagang dan penduduk yang sudah bertahun-tahun berada di Senen menolak pindah dan melawan sengit setiap upaya penggusuran. Perlu usaha sangat keras, berkeringat, dan berdarah-darah supaya proyek itu terus berjalan. Akhirnya, tiga blok berhasil mereka bangun, yakni Blok I, Blok II, dan Blok IV.

Keberhasilannya di proyek Senen inilah yang menjadi pijakan pertama dirinya hingga akhirnya perusahaannya beranak-pinak sampai sekarang. Ia juga dikenal sebagai konglomerat dan salah satu raja properti di negeri ini.

Berdasarkan perhitungan majalah Forbes yang dilansir di Bulan November 2017, Ciputra berada di urutan ke-21 orang terkaya di Indonesia dengan harta senilai US$1,45 miliar atau Rp19,7 triliun.

 

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati