Contek Kisah Sukses 4 Pengusaha Rantau Ini Biar Kamu Makin Semangat Berbisnis

4 menit
makin semangat berbisnis

Modal saja gak cukup untuk jadi pebisnis sukses. Ditambah dengan strategi mumpuni pun belum cukup. Ada faktor X yang juga mesti dipunyai: semangat.

Semangat berbisnis bisa didapat dari mana pun. Salah satunya, cerita sukses pebisnis yang menginspirasi.

Mungkin ada yang berpendapat, “Ah, nasib orang kan berbeda-beda.” Sorry to say, tapi mending gak usah jadi pengusaha kalau gampang menyerah pada nasib.

Justru kebanyakan pebisnis sukses itu adalah orang yang berhasil mengubah nasib. Lihat saja kisah sukses 4 pebisnis yang akan kita bahas di bawah ini.

Demi mimpi jadi orang sukses, mereka merantau ke kota orang, bahkan negeri seberang. Dari bukan apa-apa, mereka mampu menjadi seseorang.

Baca dan contek kisah sukses 4 pebisnis ini biar kamu makin semangat dalam menjalankan usaha ya.

1. Johny Andrean

makin semangat berbisnis
Siapa sih yang gak suka produk donat dan kopi yang satu ini (Johny Andrean / isigood)

Tahu Johny Andrean dong? Setiap kali ke mal besar, hampir dapat dipastikan ada satu gerai dengan tulisan besar “JOHNY ANDREAN”. Gerai itu berupa salon.

Ternyata, kesuksesan itu gak singkat didapat. Johny lahir di Singkawang, Kalimantan Barat. Bapaknya pedagang, sementara ibunya punya salon kecil di kampung.

Johny nekat merantau ke Jakarta pada 1970-an dengan modal kemampuan menata rambut dari ibunya. Mulanya dia hanya membuka salon kecil di daerah Jakarta Utara.

Kemudian dia mengasah kemampuannya sebagai penata rambut, termasuk mempelajari potongan rambut terbaru dan populer. Tak lupa dia mempraktikkan kunci sukses pebisnis: ramah pada pelanggan.

Kini, salonnya bertebaran di banyak daerah di Indonesia, meski pada 1998 pernah jatuh gara-gara kerusuhan hebat menghabiskan belasan salonnya. Dia pun melebarkan sayap bisnisnya ke bidang kuliner dengan BreadTalk dan J.Co, serta mendirikan sekolah salon.

2. Iwan Sunito

makin semangat berbisnis
Siapa yang mau sukses kayak bapak yan satu ini? (Iwan Sunarto / theasianexecutive)

Iwan juga berasal dari Kalimantan, tepatnya Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ketika lahir, dia hidup serba kesusahan. Bahkan ketika sekolah dia pernah tinggal kelas. Namun justru itulah titik baliknya untuk memperbaiki diri dan berkembang.

Sempat membantu ayahnya berjualan kelontong, Iwan lantas mampu melanjutkan kuliah ke Australia. Bukan cuma kuliah, dia sukses menjadi pebisnis ulung bidang properti di Negeri Kanguru.

Bersama sang kakak, Nisin Sunito, Iwan mengembangkan bisnis di Australia. Iwan merancang strategi matang saat memulai bisnis untuk menekan pengeluaran dengan menyewa tenaga mahasiswa. Tentunya ongkos kerja mahasiswa lebih murah ketimbang pekerja profesional.

Kini, Iwan terbilang sukses dengan Crown Group miliknya yang menyasar segmen menengah-atas di Australia.

3. Tjipta Widjaja

makin semangat berbisnis
Kerja keras kaum Tiongkok emang gak diragukan ya (Tjipta Widjaja / kompas)

Mengadu nasib dari Negeri Tiongkok dengan modal nyaris nol, Tjipta Widjaja justru menangguk kesuksesan di Indonesia. Dia berani mengambil risiko hilang diterjang gelombang di laut saat berlayar dari Cina.

Padahal tak ada jaminan bahwa dia bakal sukses di perantauan. Belum lagi dia sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia.

Namun berkat perjuangan kerasnya bersama keluarga, Tjipta bisa menjadi salah satu pebisnis yang diperhitungkan di Indonesia. Bisnisnya, Sinarmas Group menggurita di mana-mana.

Bidang usahanya pun bervariasi, dari industri kertas sampai keuangan. Kesuksesan Tjipta antara lain bisa dilihat dari namanya yang berkali-kali masuk ke dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes.

4. Puspo Wardoyo

makin semangat berbisnis
Makan ayam khas Solo yuuk, enak banget nih! (Puspo Wardoyo / businessnthings)

Amerika punya KFC, Indonesia punya Ayam Bakar Wong Solo. Memang, Ayam Bakar Wong Solo belum sesukses KFC.

Tapi merek dagang itu bisa dikatakan berhasil di tingkat nasional. Orang di balik keberhasilannya adalah Puspo Wardoyo, orang Solo yang merantau ke Medan.

Restoran Puspo yang pertama bukanlah di Solo, melainkan Medan. Dia nekat pergi ke Medan setelah mendengar cerita rekannya yang sukses berdagang bakso di kota itu. Padahal saat itu dia berstatus pegawai negeri sipil.

Karena keluarganya merupakan pedagang ayam potong di Solo, dia pun mendirikan restoran ayam bakar di perantauan. Bukan langsung restoran megah yang ia dirikan, melainkan warung kaki lima.

Awalnya pun bisnisnya seret. Tak sampai 10 ekor ayam bisa dia jual. Namun roda mulai berputar ketika bisnisya diliput media setempat.

Kini kita bisa lihat sendiri betapa banyak cabang Ayam Bakar Wong Solo. Meski bisnisnya tak seramai dulu lantaran diterpa masalah poligami.

Empat kisah ini hanyalah contoh sukses pebisnis yang awalnya bukan apa-apa. Jika diteliti, ada beberapa karakter pebisnis yang mereka punyai, yakni:

1. Berani ambil risiko
2. Punya rencana matang
3. Menerapkan strategi bisnis yang jelas
4. Pantang menyerah

Contek saja kisah sukses 4 pebisnis itu untuk memompa faktor X alias semangat bisnis. Tak ada salahnya mengambil inspirasi dari mereka yang telah membuktikan diri mampu menjadi pebisnis ulung.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Yakin Sudah Siap Jadi Pengusaha dan Keluar dari Zona Nyaman Menjadi Karyawan?]

[Baca: Jangan Harap Bisa Jadi Orang Sukses Kalau Masih Punya 5 Hal Ini]

[Baca: 4 Anggapan Salah Tentang Menjadi Pengusaha Sukses]

[Baca: Para Pengusaha, Bisa Pilih Kredit Multiguna dengan Bunga Rendah Ini]

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.