Perokok Naik Terus, Cukai dan Harga Rokok Ikutan Naik

2 menit
Harga Rokok Naik (Shutterstock)
Harga Rokok Naik (Shutterstock)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pemerintah sepakat untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran sebesar 35 persen.

Pada saat ini terdapat situasi dimana terjadi peningkatan prevalensi perokok secara global dari 32,8 persen menjadi 33,8 persen. 

Perokok pada usia anak dan remaja juga mengalami peningkatan dari 7,2 persen menjadi 9,1 persen, demikian halnya untuk perokok perempuan dari 1,3 persen menjadi 4,8 persen.

Pemerintah juga menyadari bahwa sektor cukai rokok ini banyak keterkaitannya dengan sektor lainnya yaitu industri, tenaga kerja, dan petani baik petani tembakau maupun cengkeh. 

Oleh karenanya, pemerintah perlu mempertimbangkan semua sektor diatas didalam mengambil kebijakan cukai hasil tembakau.

Pengendalian Konsumsi Rokok

Sebagaimana diketahui fungsi dari pungutan cukai hasil tembakau adalah untuk pengendalian konsumsi rokok (legal maupun ilegal). Menjamin keberlangsungan industri dengan menjaga keseimbangan antara industri padat modal dan padat karya, dan untuk mengoptimalkan penerimaan negara. 

“Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka mulai 1 Januari 2020, pemerintah menetapkan kenaikan tarif cukai dengan rata-rata sekitar 23 persen. Lalu menaikkan harga jual eceran (harga banderol) dengan rata-rata sekitar 35 persen,” kata Sri Mulyani.

Menurutnya, kebijakan tarif cukai dan harga banderol tersebut telah mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain jenis hasil tembakau (buatan mesin dan tangan), golongan pabrikan rokok (besar, menengah, dan kecil). Kemudian jenis industri (padat modal dan padat karya), asal bahan baku (lokal dan impor). 

Secara prinsip, besaran kenaikan tarif dan harga banderol dikenakan secara berjenjang. Dimana tarif dan harga banderol sigaret kretek tangan lebih rendah daripada sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.

Untuk mengamankan kebijakan tersebut agar efektif di lapangan, Pemerintah tetap dan terus berkomitmen untuk melakukan pengawasan dan penindakan atas pelanggaran di bidang cukai. 

Survei UGM

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga independen (UGM), dalam 3 tahun terakhir Bea dan Cukai berhasil menekan peredaran rokok ilegal dari 12,1 persen menjadi 7 persen di tahun 2018. Di tahun 2019 diperkirakan akan berhasil ditekan menjadi 3 persen. 

Dengan adanya kebijakan kenaikan cukai ini dimungkinkan akan berpotensi meningkatkan peredaran rokok ilegal. Oleh sebab itu perlu penguatan sinergi dengan TNI, Polri, PPATK, dan aparat penegak hukum lainnya dalam mencegah tumbuhnya kembali peredaran rokok ilegal. 

Penindakan di bidang cukai yang lebih intensif ini, selain diharapkan mampu menekan jumlah peredaran rokok ilegal di masyarakat juga dapat memberikan kepastian berusaha industri hasil tembakau.

Terhindarnya masyarakat dari  mengkonsumsi barang kena cukai ilegal, dan mencegah potensi kebocoran penerimaan negara dari peredaran rokok ilegal.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.