Ini Ternyata yang Bikin Dana Riset Indonesia Kecil!

2 menit
Dana Riset Indonesia (Shutterstock)
Dana Riset Indonesia (Shutterstock)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, dana riset di Indonesia masih mengandalkan anggaran pemerintah. Padahal untuk kemajuan riset dan teknologi diperlukan peranan swasta yang lebih masif.

Sri Mulyani, mengatakan, saat ini swasta hanya berkontribusi sebesar 10 persen dari total dana riset di Indonesia, jumlah ini relatif kecil untuk kebutuhan dana riset di Indonesia.

“Kontribusi terhadap penelitian didominasi oleh pemerintah. 66 persen total belanja penelitian dari pemerintah, swasta hanya 10 persen. Ini saja sudah menunjukkan adanya kurangnya partisipasi swasta,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta.

Minimnya pendanaan swasta untuk riset bukan tanpa alasan, adanya aturan yang berbelit-belit, dan tidak adanya insentif khusus membuat pihak swasta masih enggan berkontribusi pada pendanaan riset.

“Saya mendengar pihak swasta bilang, prosesnya rese dan terlalu banyak rambu-rambunya, enggak ada insentifnya. Makanya ini sejak 10 tahun yang lalu tidak menunjukkan dampak signifikan,” papar Menkeu.

Dari data anggaran pemerintah pada tahun ini, negara menggelontorkan dana untuk sektor pendidikan mencapai Rp 492,5 triliun pada tahun 2019. Dan dari jumlah tersebut, Rp 35,7 triliun dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan riset. 

Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun 2017 yang hanya berkisar Rp 24,9 triliun.

“Kok kecil banget? Karena dana research yang Rp 35,7 triliun itu dibagikan ke 45 kementrian dan lembaga (K/L) jadi mencar-mencar. Makanya enggak terasa,” papar Sri Mulyani.

Siapkan Insentif 

Sementara itu, untuk mengatasi hal ini, pemerintah tengah menyiapkan berbagai insentif, seperti diskon pajak, harapannya akan mendorong peran swasta dalam berkontribusi pendanaan riset.

“Dominasi pemerintah atau kurang partisipasi swasta, paling mudah bilangnya tidak ada insentif jadi pemerintah mengeluarkan deductable,” ujarnya.

Selain masih minimnya pernah swasta dalam hal ini, penggunaan dana riset di Indonesia juga lebih besar digunakan untuk biaya operasional dibandingkan riset itu sendiri.

Menurut Menkeu, sekitar 47 persen dari total anggaran Rp 35,7 triliun digunakan untuk penelitian, sedangkan sisanya 53 persen untuk biaya operasional hingga belanja modal.

“Ini sesuatu yang harus kita teliti dan kaji apa yang salah, yang 53 persen tidak salah karena infrastruktur riset tidak ada,” ujarnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.