Mengenal 7 “Dewi-Dedi” yang Disebut Ma’ruf Amin dalam Debat Pilpres

5 menit
Mengenal 7 “Dewi-Dedi” yang Disebut Ma'ruf Amin dalam Debat Pilpres, (Ilustrasi/Shutterstock).

Dalam debat Pilpres 13 April lalu, calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin menyinggung persoalan desa wisata. Menurutnya, program tersebut merupakan salah satu cara buat mengembangkan perekonomian suatu desa.

Sabtu malam kemarin, debat memang menyinggung persoalan soal ekonomi. Mulai dari ekonomi mikro, hingga persoalan ekonomi makro seperti harga bahan pokok, keuangan BUMN dan lain-lain disinggung. Sektor ekonomi emang aspek terpenting dalam pengelolaan negara, karena biasanya setiap kebijakan yang dibuat pasti memiliki latar belakang dan tujuan untuk meningkatkan perekonomian dan juga sosial.

Ketika persoalan tentang perekonomian desa mencuat, masing-masing paslon menyebutkan gagasannya masing-masing. Yang paling unik adalah yang diucapkan oleh Ma’ruf Amin, menyebutkan dua istilah “Dewi-Dedi”. Kalau kalian mengiranya itu nama orang, salah besar, karena “Dewi” adalah singkatan dari desa wisata, sementara “Dedi” adalah desa digital.

Soal desa wisata, ini adalah konsep yang sudah ada sejak era pemerintahan Jokowi. Desa yang masuk dalam kategori ini adalah yang memiliki sumber daya atau potensi wisata seperti budaya hingga industri kreatif.

Nah, mungkin dari kamu ada yang belum tahu di mana aja sih Dewi (red: Desa Wisata) di Indonesia? Dan bagaimana dengan Dedi (red: Desa Digital)?

Baca juga: Main di Pantai Uruguay dan Menyapa Gajah India, Ini Liburan Mahal 6 Artis Indonesia

1. Desa wisata Panglipuran – Bali

Desa wisata
Desa Panglipuran yang ada di Bali bisa dibilang salah satu destinasi wisata yang mesti wajib dikunjungi, (Ilustrasi/Shutterstock).

Kalau desa wisata yang satu ini pasti sudah banyak yang tahu ya. Desa yang terletak di Bangli, Bali ini udah beberapa kali menyandang sebagai desa terbersih di dunia. Kalian gak bakalan nemuin sampah plastik atau puntung rokok di sini.

Penataan lingkungan, termasuk rumah warga, taman, hingga jalanannya yang menanjak dengan rapi. Namanya desa, di sini, kamu gak bakal deh nemu motor yang bersliweran.

Makanya, suasana bisa sangat asri dan tenang, bikin betah berlama-lama. Hebatnya lagi, meski zaman udah canggih, para warganya masih tetap memegang teguh kebudayaan mereka.

Sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada tahun 1993, desa ini semakin dikenal sebagai destinasi para pelancong. Gak cuma turis domestik, tapi mancanegara juga berbondong-bondong ke sini.

Namanya tempat wisata tentu ada biaya retribusi yang mesti kamu bayar sebelum masuk. Untuk pengunjung dewasa dikenakan biaya Rp 15 ribu, sementara anak-anak Rp 10 ribu. Tapi kalau buat turis mancanegara, Rp 30 ribu.

Baca juga: Jokowi Pengen Bikin Super Holding, Aset BUMN Kita Sekarang Rp 8.092 Triliun

2. Kasongan – Bantul

Desa wisata
Desa Kasongan yang ada di Bantul, Yogyakarta terkenal dengan pengrajin keramiknya, (Ilustrasi/Shutterstock).

Desa Wisata Kasongan, terletak di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Lokasinya gak begitu jauh dari pusat kota, dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 10 sampai 20 menit. Potensi desa ini berbasis pada industri kerajinan tangan, gerabah.

Sebagian besar warganya telah menguasai teknik-teknik pembuatan industri tanah liat ini. Keahlian tersebut telah ada sejak dulu dan tetap lestari dengan mengajarkannya ke generasi selanjutnya.

Produk kerajinannya sangat beragam mulai dari peralatan dapur seperti kendi dan kuali hingga produk hiasan seperti pot yang terbuat dari tanah liat.

Kalau kamu tertarik mempelajari pembuatan gerabah, beberapa workshop menyediakan jasa pelatihan singkat. Kamu akan diajarkan berbagai teknik mengolah tanah liat menjadi produk dan menarik.

Baca juga: Mengintip Isi Garasi Rumah Suami Jenny Rachman yang Ternyata Dirut BRI

3. Tamansari – Banyuwangi

Desa wisata
Kawah Ijen salah satu destinasi wisata yang ada di Banyuwangi, (Ilustrasi/Shutterstock).

Pariwisata di Banyuwangi tengah naik daun belakangan ini. Seolah gak mau kalah dengan tetangganya, Bali, daerah di pinggiran pulau Jawa ini juga menyimpan segudang tempat menarik. Wisata alamnya sangat melimpah, mulai dari gunung, laut, hingga taman nasional dengan beragam satwa liar.

Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah Desa Wisata Tamansari. Terletak di kaki Gunung Ijen, udara di sini sangat sejuk sekali. Dikutip dari Merdeka, pada tahun 2017 lalu, Tamansari mendapatkan penghargaan Desa Wisata Award kategori Jejaring Bisnis.

Desa ini menjadi salah satu akses bagi para wisatawan yang hendak mendaki ke Kawah Ijen. Oleh karenanya, banyak rumah penduduk yang dijadikan homestay bagi para pelancong.

Kemudian, yang menarik di sini juga para wisatawan dapat mengeksplor Kampung Penambang, Kampung Bunga, dan Kampung Susu. Dijamin deh, kalian bakal merasakan teduhnya dan tentramnya kehidupan desa.

4. Ubud – Bali

Desa wisata
Ubud salah satu desa wisata yang begitu terkenal kemahsyurannya di dunia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Satu lagi dari Bali adalah Desa Ubud. Kalian pasti sudah sering dengar tentang desa yang satu ini, apalagi ketenarannya sudah sampai ke mancanegara. Jadi salah satu destinasi wajib dikunjungi bagi para pelancong di Pulau Dewata.

Biasanya yang berkunjung ke sini adalah mereka yang emang pengin mencari ketenangan atau mungkin bosan dengan suasana Bali yang selalu identik dengan pantai.

Di Ubud kalian gak bakal merasakan hiruk pikuk kehidupan malam layaknya di kawasan Kuta, tapi suasana alam yang tenang dan pemandangan hijau yang menenangkan akan menyambutmu. Film mancanegara “Eat, Pray, Love” yang dibintangi oleh Julia Roberts pun sampai menyambangi Ubud sebagai salah satu lokasi syutingnya.

5. Waturaka – Ende

Desa wisata
Desa Ende yang ada di Flores salah satu kawasan yang terbilang indah, (Ilustrasi/Shutterstock).

NTT ternyata juga memiliki desa wisata yang gak kalah menarik buat dikunjungi, salah satunya Desa Waturaka di Ende, Flores. Desa ini semakin laris dikunjungi karena menjadi spot istirahat para pelancong yang pengin mengunjngi ke Taman Nasional Kelimutu.

Memanfaatkan ketenaran Danau Kelimutu, warga Waturaka membuka berbagai penginapan atau homestay. Nilai-nilai budaya di desa ini masih sangat kental, misalnya warga saling gotong royong.

Suasana seperti ini yang gak bakal dilupakan oleh para pengunjung. Pengunjung juga gak perlu sungkan-sungkan buat nimbrung ngobrol sama warga, karena mereka sangat ramah dan terbuka.

6. Desa Digital Lamahu – Gorontalo

Desa wisata
Desa Lamahu, Gorontalo salah satu desa digital yang ada di Indonesia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Setelah melihat lima Dewi alias desa wisata, kini kita beralih ke Dedi atau desa digital. Desa digital pertama di Indonesia ternyata bukan dari Pulau Jawa, melainkan dari Sulawesi tepatnya di Desa Lamahu, Gorontalo. Desa Lamahu memiliki peralatan dan teknologi canggih dalam menjalankan proses kepengurusan desanya.

Meski jauh dari pusat kota dan kesan desanya masih ada, tapi Lamahu memiliki command center di kantor desa. Keberadaannya ini bisa dengan cepat menangani keluhan masyarakat.

Cara kerjanya, dikutip dari Liputan6, masyarakat mesti mengunduh aplikasi Panic Button di perangkat ponsel mereka. Aplikasi tersebut mencakup layanan kesehatan, keamanan, dan perizinan desa.

Gak cuma itu saja, di beberapa spot desa juga memiliki Wi-Fi yang bisa dinikmati warga.  Selain itu, mereka juga memiliki CCTV yang tersebar di sembilan titik guna meningkatkan keamanan.

7. Desa Digital Puntang – Indramayu

Desa wisata
Desa Digital Puntang – Indramayu salah satu desa yang terbilang berhasil buat teknologi digital, (Ilustrasi/Shutterstock).

Soal desa wisata, Jawa Barat udah memiliki Desa Adat Baduy, tapi gimana dengan desa digital? Pada akhir tahun 2018 lalu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah meresmikan desa digital pertama Desa Puntang, Indramayu.

Dikutip dari Tempo, sebagian besar masyarakat di desa ini merupakan peternak lele. Namun, mereka masih memiliki keluhan tentang budidayanya. Oleh sebab itu Pemprov Jabar menerbitkan aplikasi di ponsel pintar yang bernama e-Fishery.

e-Fishery ini emang diciptakan khusus buat peternak. Aplikasi ini memungkinkan mereka mengatur waktu dan volume pangan ternak. Jadi diharapkan pemberian pangan menjadi lebih efisien dan efektif. Diharapkan, pemanfaatan aplikasi ini membuat panen lele menjadi meningkat, yang biasanya 3-4 kali dalam setahun, tetapi jadi 6 kali dalam setahun.

Desa Puntang bukan satu-satunya desa digital di Jawa Barat. Dikutip dari Tribun, setidaknya ada 155 desa yang kini tengah dikembangkan menjadi desa super canggih berbasis teknologi.

Semoga saja dengan keberadaan “Dewi Dedi”, alias desa wisata dan desa digital ini betul-betul bisa memenuhi tujuan awalnya ya, yaitu meningkatkan perekonomian desa. Siapapun presidennya kelak, semoga program baik seperti ini akan terus dipertahankan kalau perlu ditingkatkan! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan