OJK Yakin DP 0 Persen Gak Bikin Kredit Macet Tambah Banyak

2 menit
Shutterstock

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakin aturan terkait pembelian kendaraan bermotor tanpa Down Payment (DP) tidak akan meningkatkan kredit macet atau bermasalah.

Sebab, OJK telah menghitung resiko hingga dampak dari aturan yang dikeluarkan tersebut. Dengan cara melihat persyaratan tingkat kesehatan keuangan dan rasio non performing financing (NPF) atau rasio pembiayaan bermasalah.

Kepala Departemen Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W. Budiawan mengatakan, aturan DP nol persen yang dikeluarkan OJK juga sudah sangat ketat.

Salah satunya adalah, bagi perusahaan pembiayaan atau leasing yang sehat dan kredit macetnya di bawah 1 persen yang boleh melakukan pembiayaan kredit kendaraan bermotor tanpa DP.

Kemudian, perusahaan pembiayaan yang sehat pasti melakukan pemilihan atau seleksi segmen market yang jelas dan proses underwriting yang hati-hati. Agar kredit macet bisa dihindari.

“Dengan demikian tidak perlu dikhawatirkan akan memicu kenaikan NPF, karena Perusahaan Pembiayaan yang layak pun harus memperhitungkan risikonya. Gak semua calon debitur yang layak juga bisa mendapatkan DP nol persen ini,” ujar Bambang.

Dorong Pertumbuhan Kredit

Kredit motor dengan DP 0, tenor cicilannya jadi lama. (Shutterstock)
Kredit motor dengan DP 0. (Shutterstock)

Sementara itu, penerbitan aturan beli kendaraan tanpa uang muka diharapkan dapat mendorong kinerja pertumbuhan kredit.

“OJK dan pemerintah belum happy dengan pertumbuhan penyaluran kredit. Kalau nggak ada bank BUMN pertumbuhan kredit itu lesu,” ujar Bambang W Budiawan.

Menurut Bambang, pada tahun 2018 lalu, perusahaan pembiayaan di Indonesia lebih banyak mendapatkan suntikan dana dibandingkan penyaluran kredit.

Oleh sebab itu, diharapkan dengan kebijakan ini dapat menjadi stimulus meningkatnya pertumbuhan kredit pada tahun 2019 khususnya penyaluran kredit di sektor multifinance.

“Multifinance ini dari segi kapasitas sumber dana itu lebih baik dari penyalurannya di 2018, itu pertumbuhannya lebih besar dana masuk ketimbang menyalurkan, potensi ini yang bisa digarap sebetulnya,” ungkapnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.