Di Balik Untung Bejibun, Ini 5 Duka Para Pengusaha Bisnis Jasa Titip

3 menit
Bisnis jasa titip. (Shutterstock)
Bisnis jasa titip. (Shutterstock)

Bisnis jasa titip alias jastip punya potensi untung yang cukup menggiurkan. Sebab, banyak konsumen yang butuh bantuan untuk mendapatkan barang yang sulit mereka jangkau. Terlebih, bila barang yang diincar merupakan produksi luar negeri dan belum masuk pasar Indonesia. Gak sedikit yang rela keluar bujet lebih demi mendapatkan barang idaman.

Peluang inilah yang dimanfaatkan banyak orang untuk membuka bisnis jasa titip. Usaha ini juga gak perlu modal besar karena biaya pembelian barang sudah dibayar di muka oleh para pembeli menggunakan sistem pre-order.  

Umumnya, para pelaku bisnis menambahkan biaya jastip sebesar Rp 15-35 ribu dari harga normal. Dari tambahan biaya jastip tersebut, kebayang kan berapa omzet yang mereka dapat kalau sudah punya banyak pelanggan. Modal mereka cuma ongkos transportasi, akomodasi, kouta internet, dan tenaga deh.

Contohnya, Ika si pemilik akun @ikaikeashop yang menawarkan jasa pembelian perabotan rumah di IKEA dan produk skincare. Dari usahanya tersebut, ia bisa mengantongi sebesar Rp 50-80 juta per bulan.  

Bagi para pelaku bisnis jastip barang-barang dari luar negeri, untungnya bisa lebih tinggi lagi. Salah satu contohnya adalah Icha Fitri, pemilik usaha jastip PO luar negeri mampu mendapatkan omzet hingga Rp 100 juta per bulan.

Gimana? Tampak benar-benar menggiurkan, kan? “Hanya” bermodalkan tenaga dan waktu buat belanja, bisa dapat untuk dari puluhan hingga ratusan juta. Mantap!

Eits, tunggu dulu.

Kenyataan gak selalu semulus itu. Di balik keuntungan yang bejibun, ternyata ada keringat dan air mata para pengusaha jastip.

Dihimpun dari curhatan pemilik bisnis jasa titip, inilah 5 “duka” pengusaha jastip yang bikin miris.

1. Lokasi antar toko berjauhan

Bagi mereka yang membuka usaha jastip karena lokasi rumah berdekatan dengan toko tujuan, hal ini tentu gak jadi soal. Tapi, bagi para pemilik jastip PO luar negeri, lokasi toko tentu jadi tantangan tersendiri.

Dalam satu hari belanja, pemilik jastip biasanya sudah punya daftar toko yang akan dikunjungi di suatu negara. Ada kalanya, jarak antar toko satu dengan toko lainnya lumayan jauh. Jadi, harus siap energi buat perjalanan yang cukup menyita waktu dan tenaga.

Belum lagi jika si pemilik jastip tidak bisa menyelesaikan belanja di satu hari. Tentunya, biaya yang dia keluarkan untuk transportasi dan akomodasi bakal membengkak.

2. Gak ada jaminan ketersediaan barang

Sekalipun pakai sistem pre-order, pemilik jastip gak bisa memastikan barang yang dipesan pasti tersedia. Pasti ada deh satu dua barang yang ternyata ludes di toko tujuan saat ia tiba di sana. Kalau sudah begini, pemilik jastip harus mencari barang di toko lain atau mengembalikan dana konsumen.

3. Lelahnya bukan main

Dalam satu kali belanja, pemilik jastip bisa membeli hingga ratusan barang pesanan. Oleh sebab itu, saat belanja mereka harus siap kesana kemari sambil membawa koper-koper belanjaan yang beratnya gak main-main.

Meski sudah lelah berbelanja seharian, mereka tetap harus berkomunikasi dengan pelayan toko dan “berjuang” mendapat kortingan harga biar bisa mendapat untung lebih. Buat yang punya keterbatasan bahasa, hal ini tentu butuh usaha dan energi ekstra.

4. Harga barang tak sesuai dugaan

Kasus seperti ini juga sering terjadi. Gak jarang harga barang di toko lebih mahal dari yang tercantum website resmi. Padahal harga tersebut sudah diinfokan pada konsumen.

Jika begini, pemilik jastip harus sigap menginformasikan hal tersebut ke konsumen. Dampaknya, gak sedikit konsumen yang keberatan hingga membatalkan pesanan.

5. Harus atur pengeluaran dengan ketat

Sebelum “terbang” ke negara tujuan untuk membeli titipan pelanggan, pemilik jastip pun harus cermat menghitung bujet yang diperlukan, mulai dari tiket pesawat, penginapan, transportasi, hingga biaya konsumsi selama di lokasi.

Salah satu godaan terberat saat “bertugas” adalah keinginan belanja buat diri sendiri. Jika tidak pandai mengerem, bisa-bisa untung yang didapat terpangkas habis oleh belanjaan pribadi.

Dalam dunia “perjastipan” ini, kegiatan belanja gak selalu tampak sebagai kegiatan menyenangkan. Pemilik bisnis jasa titip harus sigap menyusuri tiap toko dan membeli ratusan barang dalam waktu singkat.

Mereka yang mudah menyerah dan gampang mengeluh, bisa dipastikan cepat lengser dari bisnis ini. Sementara mereka yang bertahan dan berhasil raup omzet hingga ratusan juta perbulan, pasti pekerja keras yang gigih dan tahan banting. Salut deh!

Ulfa Sekar
Ulfa Sekar

Pernah menjadi anak IT dan bercita-cita menjadi seorang programmer. Lalu berakhir menjadi seorang penulis dan menikmatinya. Semoga tulisan saya bisa berguna buatmu.