Ini 3 Dampak Pesatnya E-Commerce di Indonesia

2 menit
Shutterstock
Shutterstock

Kemeriahan festival belanja akhir tahun – khususnya Single’s Day, atau November 11 (11.11) dan Desember 12 (12.12) – mencerminkan potensi e-commerce di Indonesia. Akan tetapi, seberapa besarkah potensi ini?

1. Terus Bertumbuh Pesat

Perusahaan konsultan terkemuka, McKinsey & Company menyebut pasar e-commerce di Indonesia berkembang pesat dan akan terus bertumbuh.

“Riset kami menunjukkan bahwa sekitar 30 persen dari online commerce setara dengan penjualan senilai US$ 2,5 miliar pada 2017. Itu adalah pembelanjaan tambahan yang tidak akan ada tanpa online commerce,” ujar Simon Wintels, Partner, McKinsey & Company dalam publikasi risetnya.

McKinsey memprediksi bahwa penjualan online shopping di Indonesia akan mencapai US$ 65 miliar per tahun pada 2022. Angka ini delapan kali lebih dari US$ 8 miliar yang dicetak di 2017.

Dengan adanya e-commerce yang mendorong konsumsi, penjualan offline tidak saja berpindah ke platform online, namun mendorong penjualan secara keseluruhan.

2. Buka Akses Pasar Produk Lokal  

Selain itu, adanya peningkatan pasar online, juga akan memberikan dampak pada pengembangan akses pasar yang mengantarkan produk Indonesia ke seluruh dunia.

“Ketertarikan konsumen-konsumen pada tingkat global mencerminkan tumbuhnya permintaan pasar-pasar internasional atas produk-produk dari Indonesia. Sektor-sektor lain harus belajar dari sektor perhiasan. Karena secara keseluruhan, ekspor Indonesia melalui online commerce masih rendah. Sebab banyaknya penjual-penjual lokal yang belum menjangkau pasar internasional,” ujar Phillia Wibowo, Managing Partner, Indonesia, McKinsey & Company.

McKinsey mengestimasi bahwa online commerce dapat memfasilitasi ekspor baru senilai hingga US$ 65 milliar, atau setara dengan 40 persen dari ekspor manufaktur saat ini.

Adapun sektor usaha di Indonesia yang sudah merasakan manfaat dari ekspor melalui online commerce adalah sektor perhiasan.

Ekspor perhiasan telah bertumbuh dari tingkat yang rendah hingga menyentuh US$ 4 miliar pada 2016, atau setara dengan nilai ekspor tembaga dan batu bara Indonesia.

Bali adalah contoh yang baik, dengan pertumbuhan ekspor perhiasan sebanyak 20 persen dari Oktober hingga November 2017. Ekspor bertumbuh karena para pengrajin dan penjual lokal menggunakan platform online untuk menjangkau konsumen internasional.

Selain itu, volume pencarian di Google untuk produk-produk otomotif, hobi, fashion, kesehatan, dan kecantikan dari Indonesia juga besar. Itu menandakan bahwa kesempatan ekspor melalui online commerce tidak saja terletak pada perhiasan.

3. Dorong Peningkatan Sosial Ekonomi

Para konsumen di daerah-daerah kecil di luar Jawa kini mempunyai pilihan produk lebih luas. Mereka bisa membeli berbagai produk dengan harga yang masuk kantong. Sebab harga-harga pembelian secara online bisa 11-25 persen lebih murah dibanding hargadi toko-toko ritel di Jawa.

E-commerce juga mendukung inklusi finansial. Hingga saat ini, online commerce telah menyediakan akses ke layanan finansial dengan adanya sistem pembayaran online bagi sekitar 300.000 pengusaha mikro.

Online commerce juga mendukung kesetaraan gender karena memudahkan perempuan untuk bekerja baik paruh waktu dan secara jarak jauh. Usaha kecil atau menengah milik pengusahan perempuan menyumbang 35 persen ke penjualan online. Sebuah angka yang sebesar dua kali lipat dibanding penjualan offline.

Untuk mencapai potensi terbut, salah satu upaya yang Indonesia bisa lakukan adalah mendukung perusahaan menengah dan besar untuk meningkatkan penjualan melalui online commerce.

Hal ini bisa mendorong pertumbuhan PDB sebesar US$ 150 miliar, setara dengan 1,2 poin persentase tambahan bagi pertumbuhan tahunan di tujuh tahun mendatang. Ini akan membantu mencapai 60 persen pertambahan yang diperlukan. Utamanya untuk mencapai pertumbuhan PDB sebesar 7 persen per tahun pada 2025.

“Untuk mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan menengah, sektor umum dan swasta perlu bekerjasama untuk menciptakan program akselerator. Tujuannya untuk meningkatkan tingkat kompetitif perusahaan-perusahaan menengah yang menjanjikan,” kata Phillia Wibowo.

Menurutnya, melalui program-program tersebut, perusahaan menengah bisa mendapatkan akses ke bimbingan, informasi tentang cara mengakses pasar-pasar baru. Juga mendapatkan dukungan finansial, menerima infrastruktur pendukung seperti gudang, dan alat-alat digital untuk menjalankan bisnis mereka dengan baik.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Taiwan