Ekonomi Indonesia Melambat, Ini Ternyata Penyebabnya!

1 menit
Ekonomi Indonesia Melemah (Shutterstock)
Ekonomi Indonesia Melemah (Shutterstock)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 mencapai 5,05 persen atau mengalami pelambatan dibandingkan periode sebelumnya 5,27 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun 2019 ini lebih rendah dibandingkan kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha. Dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,73 persen. 

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga non profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 15,27 persen.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada kuartal II-2019 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa. Mereka memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 59,11 persen.

Ekonomi Melambat

Kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,31 persen, Pulau Kalimantan 8,01 persen dan Pulau Sulawesi 6,34 persen. Kemudian sisanya 5,23 persen disumbangkan pulau-pulau lainnya yang meliputi Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua masing-masing sebesar 3,06 persen dan 2,17 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2019 memang melambat bila dibandingkan kuartal I 2019. Bahkan jauh lebih melambat jika dibandingkan kuartal II 2018. Sehingga kita perlu membedah apa yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen di kuartal II-2019,” ujar Kepala BPS.

Harga Komoditas Turun 

Melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional pada periode ini juga disebabkan oleh menurunnya harga komoditas. Mulai dari batu bara, hingga minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

Tercatat, harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada kuartal II 2019 turun 6,12 persen dibandingkan ICP pada kuat II 2018. Penurunan juga terjadi pada harga batu bara yang merosot 22,9 persen dan minyak sawit yang tergerus 16,7 persen.

“Ekspor utama Indonesia adalah batu bara dan CPO minyak sawit mentah. Sehingga penurunan harga ini akan berpengaruh pada kegiatan ekspor dan impor yang menjadi komponen pertumbuhan PDB,” jelas Suhariyanto.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.