Kabarnya Masih Lesu, Seperti Apa Kondisi Ekonomi Turki di Bawah Presiden Erdogan?

4 menit
Ekonomi Turki pada Masa Erdogan Alami Resesi (Shutterstock).
Ekonomi Turki pada Masa Erdogan Alami Resesi (Shutterstock).

Baru-baru ini ada kabar mengejutkan dari Turki. Situasi ekonomi Turki yang masih resesi berujung pada pemecatan Gubernur Bank Sentral Murat Cetinkaya oleh Presiden Turki.

Keputusan pemecatan tersebut diambil Presiden Recep Tayyip Erdogan dengan menerbitkan dekrit presiden. Seperti yang ramai diberitakan, posisi Gubernur Bank Sentral yang ditinggal Murat Cetinkaya telah diisi Wakil Gubernur Bank Sentral Murat Uysal.

Adanya kabar penggantian posisi Gubernur Bank Sentral Turki tersebut rupanya diiringi dengan melemahnya nilai Lira terhadap Dolar Amerika Serikat. Lemahnya nilai mata uang Turki tersebut diduga sebagai dampak keputusan yang diambil Erdogan.

Rasa gak suka Erdogan pada bank sentral Turki disebut-sebut sebagai alasan kenapa Murat Cetinkaya dicopot dari posisinya. Selama ini Presiden Turki tersebut dalam beberapa kesempatan menekankan perlunya penurunan suku bunga acuan.

Namun, keinginannya bertolak belakang dengan keputusan yang diambil bank sentral. Di bawah kepemimpinan Murat Cetinkaya, bank sentral Turki justru menaikkan suku bunga acuan. Ketidaksepahaman antara Erdogan dan bank sentral itulah yang berujung pada penggantian Cetinkaya.

Baca juga: Mengawali Karier Sebagai Pegawai Magang, Yannie Kim Buktikan Makin Eksis di Drama Korea

Ekonomi Turki resesi gara-gara inflasi mendorong bank sentral naikkan suku bunga acuan

Ekonomi Turki
Perekonomian di Turki naik (Shutterstock).

Kabar pemecatan Murat Cetinkaya dari posisi Gubernur Bank Sentral Turki dinilai sebagai ancaman terhadap independensi bank sentral. Asal tahu aja nih, setiap keputusan yang diambil bank sentral bebas dari campur tangan Pemerintah.

Semua kebijakan yang dikeluarkan bank sentral bertujuan demi menstabilkan ekonomi Turki yang alami resesi. Salah satu kebijakan bank sentral adalah menaikkan suku bunga acuan buat menahan serta menurunkan laju inflasi.

Buat informasi aja nih, inflasi Turki telah menyentuh angka dua digit sejak tahun 2017. Angkanya terus naik hingga berada di angka 25 persen pada Oktober 2018. Wajar aja kalau bank sentral Turki menaikkan suku bunga agar inflasi gak naik lebih tinggi lagi.

Kenapa inflasi bisa begitu tinggi di Turki? Semuanya berawal dari jatuhnya nilai mata uang Turki, yaitu Lira. Ada beberapa sebab yang bikin nilai Lira bisa melemah. Mulai dari defisitnya neraca perdagangan, tingginya utang luar negeri swasta, hingga menguatnya nilai dolar.

Beberapa indikator menunjukkan hasil yang gak memuaskan

Ekonomi Turki
Istanbul, Turki (Shutterstock).

Kondisi ekonomi Turki yang sedang memburuk sebenarnya bisa dilihat dari beberapa indikator. Mulai dari indikator pertumbuhan ekonomi, inflasi, besaran utang, neraca perdagangan, tingkat pengangguran, hingga cadangan devisa.

1. Pertumbuhan ekonomi

Walaupun inflasinya menyentuh angka dua digit sejak 2017, pertumbuhan ekonomi Turki saat itu terbilang bagus. Angka pertumbuhannya mencapai 7,4 persen menurut data Bank Dunia.

Namun, pertumbuhan ekonomi turun menjadi 2,56 persen pada tahun 2018. Di saat yang sama, inflasi pada tahun 2018 sedang tinggi-tingginya.

Dibanding dengan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 jelas lebih tinggi, yaitu 5,17 persen. Sementara inflasinya pada tahun tersebut sekitar 3,13 persen.

2. Inflasi

Seperti yang udah disebutkan tadi, inflasi Turki sepanjang tahun 2018 naik signifikan. Inflasinya tahun 2017 tercatat 11,14 persen, tapi inflasinya tahun 2018 kemudian melesat naik menjadi 16,33 persen.

Naiknya inflasi ini dibarengi dengan melemahnya Lira terhadap dolar Amerika Serikat. Sejak awal tahun 2018, Lira mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Puncaknya antara Agustus dan September 2018, nilai tukar Lira melemah di angka 6 Lira per Dolar.

3. Besaran utang

Sejak awal tahun 2017 nilai utang Turki beranjak-anjak naik. Saat itu nilai utang Turki berada di angka US$ 410 miliar. Pada Januari 2018, nilainya membengkak menjadi US$ 455,39 miliar.

Paling tinggi nilai utang luar negeri Turki menyentuh angka US$ 467,13 miliar sepanjang tahun 2018. Nilai utang luar negeri Turki sempat menurun dan terakhir berada di angka US$ 453,42 miliar.

4. Neraca perdagangan

Neraca perdagangan Turki tampak defisit pada Juni 2018 menurut data yang disajikan CEIC. Besaran defisitnya saat itu sekitar US$ 5,63 miliar.

Angkanya sempat menyusut antara Oktober dan November 2018, yaitu di angka US$ 1,13 miliar. Angkanya kemudian naik lagi menjadi US$ 2,93 miliar lalu turun menjadi US$ 1,09 miliar.

5. Tingkat pengangguran

Persentase tingkat pengangguran di Turki sejak 2018 terus menanjak. Pada April 2018, tingkat penganggurannya berada di persentase 10,30 persen.

Pada Desember 2018, persentase pengangguran di Turki telah berada di angka 12,8 persen. Terakhir, persentase pengangguran di Turki berada di angka 13,7 persen. Populasi Turki berdasarkan data tahun 2017 berada di kisaran 79,81 juta.

Berbeda dengan Indonesia, negara dengan populasi penduduk sekitar 264 juta pada 2017 ini mencatatkan penurunan tingkat pengangguran menjadi 5,01 persen. Dengan kata lain, jumlah pengangguran Indonesia menurut data terakhir sebesar 6,8 juta.

6. Cadangan devisa

Pada Juli 2018, cadangan devisa Turki berada di kisaran US$ 76,9 miliar. Namun, pelemahan Lira terhadap Dolar yang terjadi pada September 2018 membuat posisi cadangan devisa Turki merosot hingga menjadi US$ 65,53 miliar.

Sejak Oktober 2018, cadangan devisa Turki perlahan-lahan naik hingga berada di angka US$ 77,6 miliar pada Februari 2019. Lalu, angka tersebut turun lagi dan terakhir berada di angka US$ 73,6 miliar.

Lain dengan Indonesia yang mencatatkan cadangan devisa lebih besar. Menurut data dari Indonesia Investments, cadangan devisa Indonesia pada 2017 mencapai US$ 117,2 miliar. Terakhir ada peningkatan menjadi US$ 123,3 miliar.

Dengan bercermin dari data-data di atas, gak mengherankan kalau ekonomi Turki lagi gak baik-baik aja. Pertanyaannya, apakah keputusan Erdogan udah tepat dengan mengganti gubernur bank sentral dengan tujuan agar ada penurunan suku bunga acuan?

Lalu, mungkinkah ekonomi Turki bertumbuh seandainya suku bunga diturunkan dengan mengabaikan tingginya inflasi? Gimana menurutmu? (Editor: Winda Destiana Putri).

Boby
Boby

Lama bergelut dengan ensiklopedia. Kini fokus dengan urusan finansial. Di mana pun berada selalu berusaha sajikan karya yang terbaik. Semoga bermanfaat!

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!