Perjalanan Erick Thohir dari Bos Media Sampai Jadi “Pengawal” Jokowi

4 menit
Erick Thohir
Erick Thohir (MoneySmart/Ardi Mandiri)

Erick Thohir dikenal sebagai sosok yang piawai di dunia bisnis. Selain menjadi enterpreneur, dia pun sukses membuktikan diri sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin pada Pilpres 2019.

Bukan tak beralasan Erick Thohir didapuk menjadi timses pemenangan Jokowi. Pasalnya, mantan bos klub liga Italia, Inter Milan ini bukan orang partai yang tak memiliki kepentingan politik.

Mengawal Jokowi kembali menjadi orang nomor satu di Indonesia, Erick Thohir tak sembarangan mewujudkannya. Dia mengaku melakukannya karena mantan Gubernur DKI Jakarta itu kandidat paling kuat di Pilpres 2019.

“TKN bukan sesuatu yang terpikirkan, tapi pada saat itu jadi pilihan banyak orang, saya juga melihat Indonesia butuh figur pemimpin luar biasa. Perlu figur dan leadership,” kata Erick Thohir saat wawancara eksklusif dengan MoneySmart di The Westin Jakarta.

Prestasi bos Mahaka Group tersebut bukan hanya sebatas itu saja. Tapi, kepiawaiannya menjadi bos media hingga keterlibatannya di dunia pesepakbolaan Tanah Air membuat dia jadi sosok yang sangat diperhitungkan.

Lantas, bagaimana sih sepak terjangnya sebagai pengusaha hingga menjadi “pengawal” Jokowi? Yuk, simak pemaparannya kepada MoneySmart di sini:

Sepak terjang sebagai pengusaha

Erick Thohir
Sepak terjang sebagai pengusaha (MoneySmart/Ardi Mandiri)

Erick Thohir dikenal sebagai pengusaha sukses lewat Mahaka Group yang didirikannya. Bukan tak beralasan, jiwa bisnis sudah mengalir deras di dirinya dari sang ayah, Teddy Thohir. 

Pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1970 itu juga mengawali kiprahnya menjadi enterpreneur seperti sang kakak, Garibaldi Thohir.

“Ada figur yang inspired apakah itu kakak saya, bapak saya, ibu saya, itu jadi bagian kunci,” ungkap Erick mengaku keluarga sebagai support terbesarnya. 

Berbekal pendidikan yang ditempuhnya, yaitu bergelar bachelor untuk advertising dan master di bidang marketing lulusan Amerika Serikat (AS), akhirnya Erick memulai berbisnis.

Dalam perjalanan kariernya, Erick mulai berbisnis di sektor makanan, yakni restoran dengan merek Hanamasa dan Pronto. Itu dia lakukan pada awal tahun 1993-1998. Bisnis tersebut merupakan salah satu warisan bisnis dari ayahnya.

Kemudian dia mulai mencari peruntungan dari bisnis makanan ke bisnis trading. Dalam menjalankan bisnis tersebut dia mengajak serta rekan semasa kuliahnya M. Lutfi, Wisnu Wardhana, dan Harry Zulnardy.

Singkat cerita, pada 1996-1997, Erick mendirikan perusahaan trading mulai dari semen, pupuk, beras, kapur, dan bahan kebutuhan lainnya.

Perjalanan bisnis mereka terbilang sukses karena didukung Lutfi yang pandai melobi, Erick yang pandai berdagang, Wisnu yang pandai berhitung, serta Harry yang pintar mencari peluang, sehingga membuat bisnis mereka berjalan beriringan.

Baca juga: Kuasai Banyak Media, Ini Lho Perusahaan-Perusahaan yang Dibeli Erick Thohir

Bisnis media

erick thohir
Bisnis media (MoneySmart/Ardi Mandiri)

Erick bersama Lutfi merambah bisnis media dengan membeli perusahaan billboard dan radio, hingga media cetak seperti Republika, dan Golf Digest sekitar tahun 2000. Yaitu, setelah pemerintahan Presiden Soeharto lengser.

“Pebisnis itu lihat opportunity, setelah Pak Harto turun berganti kepemimpinan di mana industri media sangat terkontrol. Ketika pergantian tentu reformasi terjadi, industrinya dia akan menjadi industri yang terbuka,” jelasnya. 

“Pada waktu itu kita ada bisnis radio, billboard, dan juga kembali sama konsisten filosofi pengusaha create job membuka wawasan, edukasi dan lainnya. Di sini media ada unsur edukasinya, hal itu sama seperti sport mendidik generasi muda sportivitas. Jadi hal menariknya tidak hanya bisnis, tapi juga kontribusi pada masyarakat,” sambungnya.

Bisnis media yang dipegang Erick mulai dari koran, radio, online berada di bawah naungan Mahaka.

Rambah bisnis olahraga

erick thohir
Rambah bisnis olahraga (MoneySmart/Ardi Mandiri)

Tak cukup hanya sampai di situ, Erick merambah ke sektor olahraga dengan mengambil alih mayoritas kepemilikan saham Inter Milan dari tangan Presiden klub sepak bola ternama asal Italia Massimo Moratti pada tahun 2013.

“Industri olahraga di Indonesia bisa berkembang jika GDP-nya sudah di atas 10 ribu. Kenapa? Olahraga itu leissure yang mahal. Kalau kita lihat di Indonesia industri musik dan film berkembang murah. Sekarang sudah berkembang ke industri travel, olahraga habis itu. Nonton olahraga tiketnya sudah US$ 200-US$ 300. Nah, itu kenapa GDP-nya harus besar,” jelasnya.

“Waktu itu saya melihat ekosistem yang ada di Amerika dan Eropa sudah siap, nah itulah saya memberanikan diri belajar dan mengambil alih di sana. Tapi kembali reputasi penting,” sambung suami Elizabeth Tjandra itu.

Namun, Erick tak hanya membeli beberapa klub sepak bola ternama itu saja, tapi juga melepasnya kembali setelah progress yang sudah diberikannya bagus.

Selanjutnya, ayah empat anak itu kembali membeli beberapa klub sepak bola ternama dunia seperti  D.C. United, Italia Internazionale hingga klub sepak bola Indonesia Persib Bandung.

“Ketika kita akuisisi DC United yang kita lakukan membagi manajemen, menyiapkan bisnis kompetitif, dan membangun stadion. Inter Milan hampir sama, memperbaiki keuangan karena waktu itu ada masalah utang, lalu memperbaiki dari segi pemasaran, gimana bisnis global ini kita garap pemasukan lokal. Sekarang ada investor yang tertarik, why not,” imbuhnya. 

Asian Games

erick thohir
Asian Games (Instagram/@erickthohir)

Selain membeli beberapa klub sepak bola ternama, pada ajang olahraga tingkat Asia, yaitu Asian Games 2018, Erick Thohir dipercaya menjadi Ketua Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC).

Di bawah koordinasi Erick, laga Asian Games berjalan sukses dan mendapat apresiasi, baik dari dalam negeri hingga mancanegara. 

Pasalnya, Asian Games yang berakhir pada 2 September 2018 lalu berjalan sangat meriah dan banyak kejutan.

Jadi ketua tim pemenangan Jokowi

erick thohir
Ketua tim pemenangan Jokowi (Instagram/@erickthohir)

Erick Thohir telah berhasil “mengawal” Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Dia pun merasa bangga karena berhasil membawa kemenangan untuk kandidat yang paling kuat.

“Kemenangan 11 persen itu tinggi dalam demokrasi yang terjadi hari ini. Coba cek banyak menang lima persenan. Ini tinggi dan memang kandidatnya bagus,” ujar Erick Thohir.

Meski begitu, pencinta military figure itu menilai kemenangan Jokowi bukan semata-mata karena dirinya. Tapi semua elemen masyrakat bergerak, baik itu relawan, tokoh daerah, tokoh nasional, hingga partai politik.

Erick Thohir juga memastikan, kunci sukses kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2019 karena mengendepankan fakta dan data.

“Bukan offensive menuduh. Beda loh, offensive menuduh dengan offensive dengan fakta dan data,” tandasnya.

Chaerunnisa
Chaerunnisa

Senang menulis dan belajar banyak hal. Semoga karya saya selalu bisa dinikmati dan bermanfaat bagi semua.