Arswendo Atmowiloto, Sang Maestro Keluarga Cemara yang Sempat Icip Penjara

4 menit
Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (TEMPO/STR/Nurdiansah)

Sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto meninggal di kediamannya di Kompleks Kompas, Petukangan, Jakarta, Jumat 19 Juli 2019. 

Arswendo Amtmowiloto meninggal karena sakit kanker prostat dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta.

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (Instagram/@andithenrianto)

Arswendo Atmowiloto lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 26 November 1948. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai sastrawan dan wartawan di berbagai majalah dan koran.

Sebagai jurnalis yang juga sastrawan, Arswendo Atmowiloto kerap mengkampanyekan gemar menulis.

Nama Arswendo Atmowiloto semakin dikenal luas setelah mendirikan Production House dan memproduksi sinetron populer “Keluarga Cemara” hingga “Satu Kakak Tujuh Keponakan”.

Berikut, fakta menarik tentang Arswendo Atmowiloto, termasuk karyanya. Yuk, simak rangkumannya di sini:

Perjalanan karier

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto

Pemilik nama asli Sarwendo yang mengubah nama panggungnya menjadi Arswendo ditambah nama ayahnya, Atmowiloto itu dikenal sebagai wartawan senior.

Salah satu karya Arswendo Atmowiloto yang paling mengena di generasi milenial adalah Keluarga Cemara. Cerpen Keluarga Cemara mulai ditulis Arswendo saat menjadi pemimpin redaksi majalah HAI.

Pria yang sempat kuliah di IKIP Solo, namun tidak tamat itu pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, di Solo pada tahun 1972. Dia juga tercatat sebagai wartawan Kompas dan pemimpin redaksi Hai, Monitor, dan Senang.

Dia juga pernah mengelola tabloid Bintang Indonesia setelah menemui Sudwikatmono, penerbitnya. Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Tapi, Arswendo hanya bertahan tiga tahun. 

Dia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Selain aktif menulis, dia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron.

Baca juga: Dulu Gelandangan Kini Pengusaha Kaya Raya Beristri Cantik, Simak Kisahnya!

Pernah dipenjara

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (Instagram/@udhinariantowitjak)

Saat menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ditahan dan dipenjara karena dia lewat medianya itu memuat jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca pada tahun 1990. 

Pertanyaan di jajak pendapat itu adalah, siapa tokoh idola menurut para pembacanya. Hasil jajak pendapat menunjukkan nama Presiden Soeharto berada di urutan pertama. Disusul nama BJ Habibie, Soekarno, lalu musikus Iwan Fals.

Nama Arswendo Atmowiloto sendiri berada di urutan ke-10, dan Nabi Muhammad pada peringkat 11. Jajak pendapat ini kemudian memantik kemarahan umat Islam. Mereka melaporan Arswendo karena dianggap menghina Nabi Muhammad. 

Laporan ini diproses sampai hakim memutuskan Arswendo bersalah dan divonis hukuman lima tahun penjara.

Keluarga Cemara

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (Instagram/@sonnytulung.mc)

Arswendo memulai merintis menjadi sastrawan sejak 1971. Saat itu, dia menulis sebuah cerpen bernama Sleko yang kemudian dimulai dalam majalah Mingguan Bahari.

Di antara semua karya Arswendo yang telah lahir dan populer, cerpen Keluarga Cemara-lah yang paling populer. 

Cerpen yang terus diterbitkan di majalah itu kemudian berkembang menjadi novel atau antologi berseri. Buku pertama dari kisah Keluarga Cemara dirilis pada 1981 dan hanya berisi 15 cerpen soal keluarga Abah dan Emak.

Keluarga Cemara memiliki cerita tentang sebuah keluarga yang semula kaya raya namun mendadak bangkrut dan mesti hidup di desa dengan rumah warisan nan sederhana.

Keluarga ini lah yang beranggotakan Abah, Emak, dan tiga anak perempuan: Euis, Cemara, dan Agil.

Cerita Keluarga Cemara kemudian sempat dikembangkan menjadi serial sinetron pada dekade 1990-an yang kemudian diangkat menjadi film pada 2018.

Keluarga Cemara difilmkan

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto (Instagram/@annaqib_)

Keluarga Cemara mengisahkan tentang nilai kejujuran sebuah keluarga kecil yang hidup jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota.Cerita inipun mulai digemari dan menjadi favorit khalayak pada waktu itu. 

Tayangan ini pernah menjadi serial yang selalu dinanti di akhir pekan. Setiap kalimat yang keluar dari sosok Abah dan Emak kepada anak-anaknya selalu terpatri dalam ingatan. 

Bahkan, lebih dari dua dekade setelah peluncuran serial pertamanya, banyak orang yang masih mengingat setiap detail cerita hingga lagu temanya. Itu membuat rumah produksi Visinema Pictures mengadopsinya menjadi ide cerita film. 

Bekerja sama dengan Ideosource dan Kaskus, ketiganya lalu merancang kisah baru yang disesuaikan untuk generasi saat ini. Ketika kisahnya akan dipinang menjadi film layar lebar, Arswendo menyetujuinya. 

Bahkan, dia mempersilakan pihak yang terkait untuk membuat latar cerita baru. Dalam cerita baru ini, kisah Abah, Emak, Euis, dan Ara dikemas dengan latar milenial. 

Pada film ini, latar keseharian pelakon utama diceritakan berada di lingkungan urban dan kompleks. Namun, sesuatu terjadi hingga membuat keluarga kecil ini terpaksa menyingkir ke pedesaan. 

Itulah empat fakta menarik mengenai sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto. Selamat jalan Sang Maestro Keluarga Cemara!

Chaerunnisa
Chaerunnisa

Senang menulis dan belajar banyak hal. Semoga karya saya selalu bisa dinikmati dan bermanfaat bagi semua.