Fintech Merajalela, Rentenir Online Ilegal Menghantui Masyarakat

2 menit
Ilustrasi Fintech Resmi (Shutterstock)
Shutterstock

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, perkembangan bisnis financial technology (fintech) di Indonesia sangat pesat.

Hal ini juga mendorong maraknya aplikasi rentenir online ilegal yang meresahkan masyarakat. Dengan menawarkan pinjaman secara online yang mudah dan cepat, sayangnya mereka menyertai bunga yang tinggi, hingga proses bisnis yang tidak wajar.

“Sekarang ini banyak produk-produk teknologi yang tentunnya segmennya masyarakat yang enggak bankable. Kredit bisa didapatkan dengan pinjaman online,” ujar Wimboh di Jakarta.

Dengan masih tingginya masyarakat Indonesia yang belum tersentuh akses jasa keuangan seperti bank atau (unbankable) membuat rentenir online juga timbul subur.

“Sekarang kalau kita bilang kemarin ada yang kita sebut rentenir, sekarang rentenir sudah online. Pertumbuhanya luar biasa. Sehingga dari pada kita atur enggak bisa, sekarang kita kasih koridor ayo daftar,” kata Wimboh.

Dengan itu, OJK sebagai otoritas yang melakukan pengawasan terkait hal ini telah menerbitkan regulasi perizinan bagi fintech yang mau menjalankan bisnisnya di Indonesia. Aturan ini tertuang dalam POJK 77/POJK.01/2016 dan POJK 13/POJK.02/2018.

Waspada Fintech Ilegal

“Sekarang kita kasih koridor, ayolah daftar (fintech). Kalau daftar kita komitmennya, satu enggak boleh abuse customer. Kedua harus ada orang yang tanggung jawab, ketiga dia platform ini bisnisnya harus continue. Enggak boleh hit and run, dan keempat transparan,” jelasnya.

Dengan ini, keberadaan fintech terdaftar dan tidak terdaftar menjadi jelas dan berkekuatan hukum. Jika terdapat masyarakat yang merasa dirugikan dari fintech yang tidak terdaftar akan menjadi masalah delik penipuan. Apabila merasa ditipu bisa langsung lapor kepada kepolisian.

“Tetapi, kalau (fintech) yang terdaftar pasti platform-nya kita panggil ini melanggar komitmen kita kasih peringatan. Jika masih juga, kita tutup platform-nya. Jadi, bagaimana kita mengambil manfaat buat masyarakat. Bahkan industri perbankan kami dorong untuk bisa masuk platform itu. Maka, nanti kita akan juga mendorong,” papar Wimboh.

Seperti kita ketahui maraknya pinjaman online di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan P2P Lending, telah menimbulkan efek negatif. Gak hanya membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih konsumtif, tapi juga muncul permasalahan bunga tinggi, kredit macet, penipuan dan platform ilegal.

Sebagai konsumen, tentunya kita harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan kredit. Pastikan perusahaannya legal dan terdaftar, dan yang paling penting pastikan pula kita sanggup membayar cicilannya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan