Banner ImageBanner Image

Jangan Takut Laporkan Fintech Pinjaman Online Nakal, Ini Caranya!

2 menit
Shutterstock
Shutterstock

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengimbau kepada masyarakat untuk tidak takut melaporkan penyedia layanan pinjaman online yang bermasalah.

Sebab saat ini banyak keluhan dari masyarakat yang mengeluhkan aplikasi pinjaman online yang bermasalah. Mulai dari bunga pinjaman yang terlalu tinggi, hingga proses penagihan yang sangat meresahkan.

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah menegaskan, pihaknya sebagai asosiasi berkomitmen untuk menjalankan prinsip perlindungan konsumen. Dengan cara menyediakan posko pengaduan layanan pendanaan online melalui laman afpi.or.id dan juga dapat diakses melalui call center maupun e-mail.

“Bisa langsung melaporkan ke asosiasi melalui website, email sampai call center,” ujar Kuseryansyah di Jakarta.

Kuseryansyah menjelaskan, laporan dari masyarakat akan segera ditangani oleh asosiasi dengan melakukan teguran hingga sanksi kepada perusahaan yang telah terdaftar di OJK dan menjadi anggota asosiasi.

Sedangkan yang belum terdaftar, pihaknya akan melaporkan aduan masyarakat kepada OJK dan pihak Kepolisian.

“Kalau yang masuk masalah laporan fintech ilegal, kita tetap tampung. Kemudian kita teruskan ke Satgas Waspada Investasi, OJK hingga ke Bareskrim,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua umum AFPI Sunu Widyatmoko mengungkapkan, berdasarkan data OJK telah ada 99 perusahaan fintech pendanaan yang terdaftar dan telah melakukan layanan lebih dari 9 juta transaksi kepada 3 juta masyarakat di seluruh Indonesia.

Cegah Teror Penagihan

Selain itu dalam mencegah praktik teror penagihanbyang meresahkan kepada nasabah, AFPI akan menerapkan sertifikasi perusahaan anggota dan penagih.

Sunu menjelaskan, AFPI juga membentuk komite etik yang akan melakukan pengawasan dalam hal pelaksanaan operasional atau code of conduct fintech peer to peer lending (pendanaan online).

“Didalamnya diatur pelarangan penyalahgunaan data nasabah dan kewajiban melaporkan prosedur penagihan,” ujar Sunu.

Pihaknya menegaskan, adanya komite etik dan berbagai langkah perlindungan dilakukan asosiasi guna menjawab keluhan masyarakat atas praktik nakal aplikasi pinjaman online.

“Munculnya peraturan tersebut menjadi bukti bahwa para pelaku usaha fintech peer to peer lending ingin membangun industri fintech dalam negeri lebih baik ke depannya,” jelasnya.

Kemudian AFPI juga tengah mengembangkan pusat data terkait deteksi pinjaman nakal atau kredit macet. Jika peminjam tidak melunasi utang dalam 90 hari, maka akan tercatat pada pusat data fintech sebagai peminjam bermasalah.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Taiwan