Layani 12 Juta Pelanggan, Pegadaian Go Digital

2 menit
Pegadaian Go Digital (Shutterstock)
Pegadaian Go Digital (Shutterstock)

Untuk meningkatkan potensi dan capaian kinerja PT Pegadaian (Persero) terus meningkatkan sinergi dengan berbagai perusahaan baik BUMN maupun non-BUMN serta komunitas dan asosiasi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto dalam acara pertemuan ke-61 BUMN Marketeers Club. Kuswiyoto mengatakan, saat ini Pegadaian melayani 12 juta nasabah di seluruh Indonesia.

“Sampai saat ini Pegadaian masih terus menunjukkkan kinerja yang baik dengan jumlah nasabah mencapai sekitar 12 juta orang,” ungkapnya.

Sementara itu, pihaknya melihat, meski telah memiliki 12 juta nasabah, potensi pasar di Indonesia masih sangat luas dengan memperkuat sinergi maupun sosialisasi.

“Kami melihat bahwa potensi pasar masih sangat terbuka. Banyak segmen masyarakat yang belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang produk dan layanan Pegadaian. Oleh karena itu kami agresif menjalin sinergi dengan banyak BUMN, non-BUMN, komunitas, maupun asosiasi yang bermanfaat untuk semua pihak,” papar Kuswiyoto.

Digitalisasi Bisnis

Kuswiyoto mengatakan bahwa saat ini Pegadaian juga terus melakukan digitalisasi proses bisnis maupun dalam pengembangan distribusi. 

Hal ini dilakukan sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang memerlukan layanan yang cepat, mudah dan akurat, serta perkembangan teknologi informasi yang berubah cepat.

“Layanan digital merupakan tuntutan zaman yang tak bisa dihindari. Maka Pegadaian pun menyikapi secara proaktif. Perusahaan tidak boleh berhenti melakukan inovasi jika ingin terus tumbuh dan berkembang di masa yang akan datang. Jika tidak merespon perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat maka dipastikan perusahaan itu akan ditinggalkan oleh pelanggan,” paparmya.

Sementara itu Founder & Excecutive Chairman of Markplus Inc. Hermawan Kertajaya mengatakan bahwa penerapan teknologi informasi dalam dunia bisnis harus selaras dengan humanity. 

“Saat ini digitalisasi merupakan suatu keharusan, akan tetapi manusia tidak boleh dikalahkan oleh teknologi. Kalau teknologi bisa mengingat, maka kita harus memahami. Kalau teknologi bisa memahami, maka kita harus bisa menganalisa. Kalau teknologi bisa menganalisa, maka kita harus decision making. Kalau teknologi bisa decision making maka manusia harus mengeluarkan wisdom yang tidak bisa dimiliki oleh teknologi,” jelasnya.

Hermawan juga menyampaikan bahwa di masa depan Love Quotient akan menjadi bagian dari marketing selain Physical Quotient, Intelligence Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient.

Ke depan, yang namanya Loyal customer tidak hanya diukur dari tingginya pembelian ulang, tetapi lebih dari itu bahwa customer yang loyal adalah yang ikut mengaktivasi brand kita kepada orang lain. 

“Jadi ada fungsi advokasi yang dijalankan oleh customer,” pungkasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.