Millenial Lebih Baik Beli Rumah Subsidi Atau Komersil?

2 menit

Kamu millenial kini menghadapi kendala besar dalam memiliki rumah. Disamping harganya yang terus naik, pendapatan mereka pun belum terlalu besar.

Guna memberikan kemudahan bagi masyarakat, pemerintah telah menjalankan program rumah subsidi. Program yang dikenal dengan skema fasiltas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) ini diluncurkan beberapa waktu lalu.

FLPP telah berjalan sejak tahun 2010, skema ini dijalankan guna mengatasi kurangnya pasokan rumah dibandingkan permintaan atau backlog. Berdasarkan data sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 backlog perumahan mencapai 13,5 juta unit.

Skema FLPP memungkinkan millenial mendapatkan bunga kredit tetap hingga masa akhir perjanjian kredit. Berbeda jika dibandingkan dengan rumah komersial yang mengikuti perkembangan kredit perbankan.

Nah dengan demikian, bagi generasi millenial yang ingin memiliki properti pertamanya ada pilihan, rumah subsidi atau komersil.

Financial Planner dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai, bagi generasi millenial yang ingin memiliki properti pertamanya lebih baik memilih rumah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Sebab, mempertimbangkan pendapatan dengan perkembangan harga rumah setiap tahunnya.

“Dengan kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan kenaikan penghasilan, terutama bagi para millenial yang baru mulai bekerja, maka pilihlah yang paling rasional. Yang bisa dijangkau kantong masing-masing,” kata Andi kepada Moneysmart.id.

Properti Pinggir Jakarta Jadi Pilihan

Rumah megah dan luas (ilustrasi).

Andi menjelaskan, jika memiliki pekerjaan di pusat Kota Jakarta, dan memiliki budget Down Payment (DP) yang terbatas, maka pilihan rasionalnya adalah properti yang berlokasi di kota peyangga Jakarta.

“Dengan konsekuensi jarak tempuh ke kantor yang jauh, atau beli di tengah kota Jakarta namun ukuran yang lebih kecil ataupun akses jalan yang kurang nyaman,” ungkap Andi.

Dengan mempertimbangkan berbagai hal tersebut, maka pilihan paling bijak adalah properti dalam bentuk apartemen atau rumah subsidi.

“Apartment atau rumah subsidi merupakan pilihan yang rasional, juga bagi mereka yang memiliki budget terbatas namun ingin tinggal di tengah kota Jakarta,” jelasnya.

Kemudian dari sisi biaya, rumah subsidi cenderung lebih mudah. Karena tidak ada biaya Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) hingga biaya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) karena ditanggung oleh program FLPP dari pemerintah.

Sedangkan rumah komersil, biaya KPR dan BPHTB menjadi syarat mutlak dalam memiliki hunian dan dibebankan kepada pembeli rumah. Semakin besar ukuran rumah yang dibeli maka akan semakin besar pula biaya BPHTB yang harus dibayarkan.

Sementara itu, Andi menegaskan, ada beberapa hal seputar gaya hidup yang harus diperhatikan jika telah niat memiliki hunian.

Utamanya adalah mengatur keuangan lebih bijak, dengan memiliki penghasilan terbatas dan ingin memiliki hunian, maka pengelolaan keuangan harus semakin baik.

Buang pikiran konsumtif atau belanja barang yang tidak terlalu perlu dan cenderung memenuhi keinginan nafsu belanja semata.

“Yang harus diperhatikan dalam mengelola keuangan untuk beli rumah adalah mengontrol gaya hidup. Dengan budget dan penghasilan yang terbatas, mau tidak mau kita harus perbanyak porsi untuk ditabung dibandingkan dengan pengeluaran yang kurang perlu,” tegas Andi.

Salah satu cara mengelola keuangan secara baik adalah dengan mengendalikan nafsu belanja atau minum kopi di kedai kopi mahal.

“Berarti kita harus lebih disiplin dalam mengontrol pengeluaran semilai untuk nongkrong di kafe, nonton, beli gadget, fashion,” papar Andi.

Dengan mengontrol gaya hidup, maka pengeluaran akan semakin terkontrol dengan baik. Sehingga porsi untuk menabung akan semakin meningkat, dan bisa memberikan kemudahan dalam memiliki hunian pertama.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.