Hari Gini Kok Masih Bingung Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan

3 menit
keinginan dan kebutuhan

Ada yang pernah penasaran kenapa barang seperti beras, gula, minyak itu disebut “kebutuhan” bahan pokok, tepatnya kebutuhan sembako alias sembilan bahan pokok? Kenapa bukan “keinginan” bahan pokok?

Jawabannya adalah bahan-bahan itu dibutuhkan sehari-hari untuk menyambung hidup. Di dapur, paling gak ada sembilan bahan pokok itu untuk memastikan kita bisa hidup layak.

Itulah kenapa namanya kebutuhan, bukan keinginan. Sebagai manusia, keinginan pasti gak akan ada habisnya. Ingat lagu soundtrack kartun Doraemon, “Aku ingin begini, aku ingin begitu….”

Kira-kira seperti itulah sifat manusia. Telak banget digambarkan oleh Nobita, yang kerjanya minta ini-itu gak habis-habis. Kalau gak dituruti, biasa saja.

Paling telat masuk sekolah. Atau dikerjain oleh Giant dan Suneo terus-menerus. Tapi kalau mau bangun pagi, pasti gak bakal telat. Gak mau dikerjain, simpel. Harus berani melawan bullying kayak gitu.

keinginan dan kebutuhan
Gak mau kayak Nobita kan, dibully terus sama Giant, lawan dong! (Nobita dan Giant / Liputan6)

Berbeda dengan kebutuhan, barang-barang ini benar-benar mutlak harus ada. Kalau gak ada, kehidupan bakal terganggu. Bahkan dalam kasus yang parah, bisa bikin kontrak di dunia ini habis alias wafat.

Coba misalnya di rumah gak ada beras. Pasti perut meronta-ronta minta karbohidrat. Begitu yang dimasukkan roti sebagai pengganti nasi, perut terasa belum kenyang. Soalnya, perut sudah terbiasa kemasukan nasi. Kalau belum makan nasi, berarti belum makan.

Masalahnya, kadang sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, khususnya buat mereka yang berusia 20-an, yang masih menganggap usia masih mudah sehingga lebih suka berfoya-foya. Apalagi pas lagi di mal atau browsing situs jual-beli.

Begitu ada yang menarik, langsung ATC alias add to cart. Wah, kausnya keren nih gambarnya. Pakaian kan termasuk kebutuhan sandang. Atau, pizza kayaknya enak nih. Kan makanan termasuk kebutuhan pangan, beli ah.

Eh pas duit di rekening udah kesedot, baru ingat belum bayar cicilan sepeda motor. Ya, wasalam.

keinginan dankebutuhan
Kalau sudah asyik sama ini-itu biasanya yang penting malah kelupaan, tepok jidat deh masbro! (Pria Memegang Dahi / Smubr)

Yang bikin lebih prihatin adalah perilaku kayak gini kadang gak disadari. Tahu-tahu udah besar pasak daripada tiang. Ujung-ujungnya, gali lubang tutup lubang.

Makanya, kita perlu tahu benar perbedaan kebutuhan dan keinginan dalam situasi kayak gitu. Gak semua jenis makanan itu adalah kebutuhan. Begitu pula pakaian, gak semuanya dibutuhkan.

Sebetulnya, simpel saja untuk mengetahui apa-apa saja yang dibutuhkan.

1. Atap di atas kepala (gak harus rumah, gak harus beli)

2. Makanan dan minuman secukupnya, yang penting gak jatuh sakit

3. Jaminan kesehatan dasar, misalnya BPJS, dan barang-barang yang higienis alias gak kotor/kedaluwarsa

4. Pakaian, yang penting nyaman dan layak dipakai, gak harus keren

Semuanya selain yang disebutkan di atas bisa digolongkan sebagai keinginan. Misalnya rumah dengan taman, kaus merek ternama, makanan impor, smartphone terbaru.

Tapi apakah lantas kita gak boleh beli barang-barang itu? Ya tentu saja boleh, selama mampu. Kita harus menikmati hidup, bukan asal bisa hidup.

Bahkan keinginan bisa dijadikan motivasi. Contohnya ingin beli rumah saat usia 30 tahun. Harus diwujudkan keinginan itu. Caranya, nabung lebih banyak. Atau investasi, cari yang imbal hasilnya gede, contohnya reksa dana.

keinginan dan kebutuhan
Siapa sih yang gak mau punya rumah sendiri? (Rumah / Hipwee)

Yang perlu ditekankan di sini adalah soal kemampuan. Hal ini berkaitan dengan kepiawaian kita mengatur keuangan. Orang yang gajinya gede belum pasti mampu beli hape baru, lho.

Siapa tahu gaji gede tapi utang juga gede. Akhirnya gajinya habis buat bayar utang. Sebaliknya, yang gajinya pas-pasan malah bisa memenuhi keinginannya karena mampu mengatur keuangan, misalnya menabung sedikit demi sedikit.

Jadi, setelah mengetahui apa itu keinginan dan kebutuhan, kunci dari segalanya adalah pengaturan keuangan. Tinggal diri kita sekarang, apakah mau menikmati hidup atau sekadar hidup.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Apa Yang Harus Dilakukan Kalau Jadi Korban Bullying di Kantor?]

[Baca: Ini Aturan Kredit Kendaraan Bermotor yang Jarang Diketahui]

[Baca: Belajar Investasi di Reksa Dana untuk Pemula: Gak Ribet, Gak Bikin Pusing]

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.