Mantan Sopir, Aktor Ini Sukses Jadi Bintang Hollywood

2 menit
Iko Uwais (Instagram)
Iko Uwais (Instagram)

Udah lihat aksi Iko Uwais di film Mile 22? Kabarnya, performa Iko di film tersebut banjir pujian para kritikus film. Sebagai seorang aktor, dia dinilai penuh talenta.

Selepas syuting, Iko udah harus terbang ke Kanada buat serial Netflix perdananya, Wu Assassins. Dalam serial ini, kabarnya Iko bakal berperan sebagai salah satu pemeran utama dengan menjadi calon koki sekaligus koreografer seni bela diri.

Selain itu, Iko Uwais juga sempat terlibat dalam film Hollywood komedi bertajuk Stuber. Dalam film tersebut ia beradu akting dengan Dave Bautista dan Kumail Nanjiani. Film yang masih dalam tahap produksi ini dikabarkan tayang tahun depan.

Sejumlah perannya di film Tanah Air maupun Hollywood layak bikin Iko disebut sebagai aktor internasional. Kemampuannya juga telah diakui oleh para sutradara dunia.

Seperti apa perjalanan karier pria berdarah Betawi ini? Yuk simak ulasannya berikut ini.

Belajar seni bela diri dari kecil

 

Happy family with #Love #UwaisFamily

A post shared by Iko Uwais (@iko.uwais) on

Sejak berusia 10 tahun, Iko Uwais telah menekuni seni bela diri di perguruan asuhan pamannya. Saat itu kondisi Jakarta gak selalu aman. Menurutnya silat adalah cara yang paling tepat buat melindungi diri dan keluarganya.

Ternyata, kegigihannya menggeluti dunia persilatan bikin Iko menyabet banyak prestasi. Mulai dari meraih peringkat ketiga di turnamen pencak silat ibu kota hingga mendapat kesempatan bepergian ke berbagai negara.

Atlet sepak bola

 

Perjalanan hidup sehat dan karier saya bisa dibilang berawal dari sepakbola. Sejak kecil, impian saya adalah bermain sepakbola untuk Tim Nasional Indonesia. Sayangnya, impian itu harus dikubur. Atas dukungan keluarga, saya akhirnya memilih pencak silat. Saat itu rasa kecewa karena tak bisa mewujudkan mimpi pasti ada. Tapi Tuhan memang selalu punya rencana lain di balik setiap kejadian. Sekarang, saya malah bersyukur dengan pilihan itu karena profesi ini adalah hal yang saya cintai. Selain itu, kalau saya tak memilih pencak silat, mungkin saya tak akan terjun ke dunia akting, dan tak akan bertemu dengan @audyitem, menikah dengannya dan memiliki Atreya. Sepakbola tetap di hati saya. Bermain di Timnas Indonesia merupakan awal "why" saya untuk menjalani hidup sehat. Selain saya, @sophia_latjuba88 juga akan menceritakan "why" nya di minggu depan. Ayo ceritakan #WhatsYourWhy mu di whatsyourwhy.aia.com, cerita terbaik akan mendapatkan hadiah dari Asuransi @aiaindonesia di setiap minggunya.

A post shared by Iko Uwais (@iko.uwais) on

Gak cuma pencak silat, sejak kecil Iko Uwais juga aktif sebagai atlet sepak bola. Bahkan sejak tahun 1993, ia telah masuk ke salah satu Sekolah Sepak Bola ternama di Rawamangun.

Iko membagi antara waktu sekolah, latihan bola, dan latihan silat. Sebagai remaja, kegiatan Iko bisa dibilang positif dan produktif banget.

Sayangnya, impiannya menjadi bintang sepak bola pupus setelah klubnya bangkrut.

Sopir di perusahaan telekomunikasi

 

Refresh with the cold coconut 🌴 #triplethreat

A post shared by Iko Uwais (@iko.uwais) on

Cuma bermodal SIM A, Iko Uwais mencoba mencari pekerjaan ke berbagai tempat. Lalu pada 2006 ia diterima sebagai seorang supir di perusahaan telekomunikasi.

Meski berlabel supir, ia gak pernah merasa kecil hati. Pekerjaan tersebut malah bikin dia bangga. Soalnya, menurutnya sopir memiliki tanggung jawab yang besar, yaitu menjaga keselamatan penumpang hingga tujuan.

Merantau membuka pintu kesuksesannya

Tepat saat kontrak kerjanya sebagai sopir habis, Iko Uwais ditawari bermain film oleh Gareth Evans. Saat itu, Gareth tertarik pada karisma Iko dan mendorongnya buat bermain di film seni bela diri berjudul Merantau.

Film pertamanya itu membawa Iko pada berbagai kesempatan emas lain di dunia hiburan. Usai Merantau, Iko kembali beraksi dalam film The Raid. Film ini semakin menerbangkan nama Iko.

Menyusul Merantau dan The Raid, tawaran bermain film Hollywood pun berdatangan. Iko berkesempatan beraksi di film Man of Tai Chi (2013), The Raid 2 (2014), Headshot (2016), Beyond Skyline (2017), dan yang masih tayang saat ini Mile 22.

Siapa sangka, bermula dari kecintaannya pada pencak silat, Iko berhasil membawa bela diri khas Indonesia tersebut ke dunia perfilman Hollywood.

Meski gitu, ia gak pengin pencak silat dianggap sebagai ajang gaya-gayaan aja. Dia pengin silat jadi cara membantu mereka yang lemah dan membutuhkan.

Pada akhirnya, Iko Uwais bisa jadi contoh nyata bahwa aktor gak cuma jadi profesi aja, tapi juga bisa jadi sarana mewujudkan misi mengenalkan pencak silat ke dunia.

Mantap deh!

Ulfa Sekar
Ulfa Sekar

Pernah menjadi anak IT dan bercita-cita menjadi seorang programmer. Lalu berakhir menjadi seorang penulis dan menikmatinya. Semoga tulisan saya bisa berguna buatmu.