Ingin Sukses Saat Usia Kepala 4? Ini Nasihat dari Orang Terkaya ke-8 di Dunia yang Wajib Diketahui

4 menit
David Koch (Wikimedia Commons Photographs by Gage Skidmore).

Orang terkaya di dunia urutan ke delapan David Koch punya nasehat berharga buat para kaum milenial, termasuk kamu tentunya. Terutama yang usianya masih kepala dua ya.

Koch merupakan seseorang yang kaya berkat warisan. Namun Koch sendiri gak ongkang-ongkang kaki lho, dia justru memajukan usaha keluarganya (Koch Industries) bersama saudaranya, Charles.

Perusahaan holding raksasa itu bahkan sempat meraup laba hingga US$ 100 miliar atau Rp 15 triliun ketika dia pimpin!

Menurut Koch, sejatinya, hidup di usia kepala dua memang ngeri-ngeri asyik. Itu merupakan masa-masa di mana kamu “pertama kali” mendapatkan atau melakukan sesuatu yang cukup berharga.

Sebut saja, di rentang usia tersebut kamu telah membeli kendaraan pertamamu, menjalin hubungan yang serius dengan kekasihmu, dan pastinya buat sebagian orang Indonesia, itu adalah masa-masa pertama kali kamu bekerja dan punya penghasilan bukan?

Ada masanya dimana kamu cuek sama hal-hal yang sifatnya menabung. Namun mau sampai kapan cueknya?

Ketika cuek itu terus dibiarkan di usia kepala dua, maka apa yang kamu alami di usia kepala empat bakal sangat mengerikan.

David Koch punya tips seputar pengelolaan keuangan buat kamu yang masih berusia 20 tahunan. Orang paling kaya di dunia ini menjamin, dengan ini kamu bakal tajir di usia kepala empat. Mau tahu apa saja? Simak ulasannya di bawah ini.

1. Bujeting biar gak bocor halus

David Koch (Shutterstock).

Akui saja, kamu pasti bosan kalau dikasih nasehat harus bujeting demi keuangan jadi aman. Tapi dibalik itu semua, bujeting memang jadi salah satu yang menentukan kesehatan keuangan di masa depan.

Intinya, kamu harus tahu bagaimana arus pengeluaranmu dalam sebulan. Dan menghitung, apakah itu melebihi penghasilanmu atau tidak.

Dengan melakukan bujeting, kamu tentu bisa meminimalisir kejadian bocor halus dalam keuangan. Ibarat sebuah ban, bocor halus tentu jarang diketahui tapi kalau sudah kejadian ya kamu sendiri yang kerepotan.

Ada baiknya untuk melakukan bujeting dikala kamu menerima gaji. Daripada langsung dipakai buat foya-foya, mending dialokasikan dulu ke yang jadi prioritas.

Bukan berarti gak boleh foya-foya. Hal itu boleh saja kamu lakukan asal pada tempatnya dan sesuai bujet saja.

2. Jadikan menabung sebagai sebuah kebiasaan

Menabung (Ilustrasi).

Wejangan kedua dari David Koch adalah membiasakan diri untuk menabung. Dan tentunya cintailah kebiasaan yang satu ini.

“Kuncinya adalah, ‘bayarlah dirimu’ sendiri saat gajian. Gak peduli berapa besarnya gajimu, setidaknya sisihkan dulu sekitar 10 persen dari gajimu untuk menabung,” demikian pernyataan Koch.

Kalau memang kamu adalah tipe orang yang sering bocor halus dalam keuangan, ya pakai saja tabungan berjangka yang menggunakan autodebet. Dengan itu gak ada alasan bagimu untuk gagal menabung.

Untuk memaksimalkan tabungan, cari saja produk yang bunganya besar. Tabungan berjangka rata-rata punya bunga yang lebih besar ketimbang konvensional. Beda bank juga beda bunganya lho.

3. Jangan beli barang yang memang gak mampu dibeli

Belanja selalu dijadikan terapi wanita saat sedang kesal (Ilustrasi).

Poin ketiga ini sejatinya ditujukan untuk menghindari utang yang sifatnya gak produktif. David Koch mengingatkan agar tidak membeli sebuah barang yang memang kamu sendiri belum mampu untuk mendapatkannya.

Dengan adanya kartu kredit, memiliki barang mahal yang gak sesuai bujet tentu bisa terealisasi bukan? Tapi bayangkan deh transaksi kartu kredit itu ada bunga. Kalaupun mau pakai kartu kredit, manfaatkan saja cicilan 0 persen.

Koch mengatakan, biaya transaksi maupun bunga kartu kredit sifatnya memang kayak rampok. Gak terasa, pengeluaranmu bakal lebih besar daripada semestinya.

Walaupun gak gede-gede amat, biaya tetaplah biaya. Tentu jadi beban keuangan yang cukup signifikan.

Sejatinya utang itu gak salah, asalkan sifatnya memang digunakan untuk hal yang produktif. Atau paling gak ya digunakan untuk membeli atau membayar jasa yang memang kamu perlukan pada saat itu.

Soal belanja, ketahui saja mana kebutuhan dan keinginan deh. Kalau kamu sudah fasih sama yang itu, keuangan otomatis terjaga.

4. Ambil risiko!

Berani mengambil risiko (Ilustrasi).

Waduh, ini David Koch nyaranin kamu ngambil risiko. Risikonya kayak apa ya?

Tenang aja, risiko yang dimaksud bukan berarti kamu harus ikutan balap motor atau balap mobil di sirkuit. Dan bukan juga menyarankan kamu ke luar negeri seperti ke Macau untuk main judi di sana.

Di usia 20 tahunan, kamu memang masih bisa santai-santai. Namun tanpa memiliki investasi, maka semuanya bakal berantakan di kemudian hari lho.

Ada baiknya untuk berinvestasi di sektor yang memiliki risiko tinggi namun returnsnya juga tinggi. Apalagi kalau bukan di pasar modal alias investasi saham. Selain itu, bisa juga kamu berinvestasi di properti demi punya hunian di masa depan.

Gak usah khawatir dengan fluktuasi harga saham. Di balik adanya ketidakpastian, tentu ada keuntungan yang sangat besar. Belum lagi, ada dividen yang bisa kamu dapat lewat memiliki saham itu sendiri.

Dan sejatinya, investasi saham gak mengerikan yang kamu bayangkan. Tentunya jika kamu melakukan itu pada porsinya ya, bukan menggunakan seluruh uangmu dengan harapan mendapat returns yang luar biasa besar.

5. Tentukan tujuan yang ingin kamu capai

Terus motivasi diri sendiri agar cepat menuju kesuksesan (Ilustrasi by Shutterstock).

Hidup harus punya tujuan. Kalau gak ada tujuan buat apa hidup. Kamu harus tahu apa yang mau dicapai tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya.

Karena kalau tidak seperti itu, kamu tentu tahu bahwa seiring dengan berjalannya waktu usia semakin bertambah. Kamu gak akan bisa bekerja dengan gaya yang sama secara terus menerus.

Definisi kaya memang sangat subyektif. Namun setiap orang tentu harus bisa hidup “mapan” alias berkecukupan ketika menginjak usia 40 tahunan.

Mungkin gak ada salahnya untuk membuat target bahwa di usia 40 tahun, kamu ingin punya aset yang valuasinya Rp 1 miliar. Oleh karena itu, di usia 20 tahunan kamu bakal berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan hal itu.

Jadikanlah target dan tujuan itu sebagai motivasi hidupmu. Dan jangan pasrah sama situasi saja karena bakal ada inflasi yang berpotensi meningkatkan harga-harga barang dan jasa di kemudian hari.

Itulah wejangan sakti David Koch buat kamu yang masih berusia kepala dua. Kira-kira, apakah kamu sudah melakukan salah satu di antaranya, atau malah masih cuek.

Hati-hati lho, waktu terus berjalan. Mau sampai kapan hidup konsumtif terus? (Editor: Winda Destiana Putri).

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.