Niat Beli Rumah DP Nol Persen? Jangan Lupakan Hal Ini

2 menit
Tempo/ Tony Hartawan
Tempo/ Tony Hartawan

Memiliki rumah ketika telah memiliki pendapatan dari kerja atau berbisinis merupakan impian semua orang.

Mempunyai properti sejak muda dapat dikatakan investasi jangka panjang. Sebab harga properti akan terus meningkat setiap tahunnya.

Tapi, memiliki properti pertama tentu tidak mudah bagi yang baru memiliki penghasilan. Dibutuhkan tekad dan usaha yang kuat agar memiliki rumah pertama dapat terwujud.

Selain persoalan biaya, kamu juga harus menyiapkan berbagai berkas dokumen penting. Mulai dari kartu identitas, buku rekening tabungan, nomor pokok wajib pajak, hingga surat keterangan kerja.

Baru-baru ini Indonesia diramaikan dengan skema rumah Down Payment Nol Persen atau Nol Rupiah. Skema ini begitu melejit ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memasukkan skema rumah DP Nol Rupiah kedalam janji kampanyenya kala itu.

DP Nol Persen Menjadi Alternatif

Anies Baswedan resmikan program rumah dp 0 rupiah. (Instagram/@aniesbaswedan)
Anies Baswedan resmikan program rumah dp 0 rupiah. (Instagram/@aniesbaswedan)

Financial Planner dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai, program ini bisa menjadi alternatif atau pilihan yang tepat. Terutama ketika calon pembeli mengalami kendala penghasilan.

“Rumah DP nol persen menurut saya bisa jadi alternatif yang sangat menarik ketika kita menemui kendala penghasilan yang terbatas,” kata Andi kepada Moneysmart.id.

Namun tentunya, calon pembeli harus mengetahui apa saja persyaratan yang diwajibkan jika ingin membeli rumah dengan skema DP nol persen.

“Sepanjang semua persyaratan awal terpenuhi seperti KTP Jakarta, syarat maksimal dan minimal penghasilan, silakan saja untuk mengajukan diri memilikinya,” kata Andi.

Menghitung Arus Kas

Hitung Arus Kas (Ilustrasi).

Tetapi, yang harus dilakukan sebelum mengajukan pembelian adalah menghitung arus kas pribadi atau keluarga dalam setiap bulan.

Sebab, bisa saja dengan membeli rumah skema DP nol persen maka cicilan perbulan yang dikenakan akan lebih besar ketimbang membeli rumah dengan biaya DP.

“Sebelum apply jangan lupa juga untuk menghitung ulang cash flow dana kita, karena berarti bila goal kita harus menyediakan sejumlah dana unyuk pembayaran cicilannya tiap bulan,” jelas Andi.

Total Utang Tidak Lebih dari 30 Persen Penghasilan

Terlilit utang (Ilustrasi).

Selain itu, besaran cicilan setiap bulan, maksimalnya dibawah 30 persen dari total penghasilan jika digabungkan dengan utang-utang lain. Hal ini agar tidak menjadi beban keuangan setiap bulan.

“Jangan smpai jumlah total cicilan utang kita tiap bulannya sudah sedemikian banyak, bahkan sudah lebih dari 30 persen penghasilan. Jangan sampai karena begitu euforia bisa dapat DP nol persen tapi malah gak bisa bayar cicilannya,” kata Andi.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.