16 Faktor Penghambat Investasi di Indonesia, Nomor 1 Gak Habis-Habis

2 menit
Hambatan Investasi di Indonesia (Shutterstock)
Hambatan Investasi di Indonesia (Shutterstock)

World Economic Forum (WEF) merilis 16 faktor yang menjadi penghalang iklim investasi di Indonesia. Dari 16 faktor tersebut, korupsi menjadi kendala utama yang sangat menggangu dan merugikan.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjelaskan apabila UU KPK yang lama tetap dijalankan, maka hal tersebut berpotensi menghambat investasi karena terdapat celah hukum dalam UU tersebut. Namun berbagai pakar menyatakan, RUU KPK yang tengah disahkan justru membuat upaya korupsi semakin marak di Indonesia.

Menurut kajian WEF, maraknya korupsi merupakan penghambat utama investasi di Indonesia. WEF menempatkan korupsi dengan skor tertinggi, yaitu sebesar 13,8 sebagai faktor utama penghambat investasi di Indonesia.

Hal tersebut lantaran maraknya praktik suap, gratifikasi, favoritisme, dan pelicin yang dilakukan sejumlah oknum, terutama dalam pengurusan perizinan. Praktik-praktik korupsi mengakibatkan beberapa dampak terhadap investor.

Dampak tersebut antara lain dapat memunculkan persaingan tidak sehat, distribusi ekonomi yang tidak merata. Kemudian tingginya biaya ekonomi, memunculkan ekonomi bayangan, menciptakan ketidakpastian hukum, dan tidak efisiennya alokasi sumber daya perusahaan.

Faktor kedua yang mempengaruhi investasi di dalam negeri adalah inefisiensi birokrasi dengan skor 11,1. Dilanjutkan dengan akses ke pembayaran 9,2, infrastruktur tidak merata 8,8 dan kebijakan tidak stabil 8,6 yang melengkapi 5 faktor utama.

Upaya Pemberantasan Korupsi

16 Faktor Penghambat Investasi (MoneySmart.id/ Indri Solihin)
16 Faktor Penghambat Investasi (MoneySmart.id/ Indri Solihin)

Upaya memperbaiki iklim investasi salah satunya ditunjukkan dengan upaya memberantas praktik korupsi. Ini terlihat dari Indeks Kemudahan Berbisnis (IKB) yang dikeluarkan Bank Dunia dan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang dirilis Transparency International.

Keduanya terlihat memiliki kecenderungan yang sama. Naiknya skor IKB juga diiringi oleh membaiknya IPK. Dalam IPK 2018, Indonesia naik ke posisi 89 dari 180 negara. Skor Indonesia naik jadi 38, setelah dalam dua tahun berturut-turut berada di nilai 37.

Korupsi dinilai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat investasi, lantaran menyebabkan ekonomi biaya tinggi. 

Bank Dunia menjelaskan sederet permasalahan yang tidak mendukung iklim investasi Indonesia. Hal tersebut melatarbelakangi keengganan investor asing menanamkan modalnya.

Apalagi setelah 33 pabrik keluar dari Tiongkok, namun tak ada yang melirik Indonesia sebagai tujuan investasi selanjutnya. Dalam laporan Bank Dunia berjudul “Global Economic Risk and Implications for Indonesia”, negara kepulauan ini dinilai berisiko, rumit, dan tak kompetitif.

Regulasi pun tidak terprediksi, inkonsisten, dan saling bertentangan. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berjanji akan hapus regulasi yang menghambat aliran dana asing. “Kita harus tangkap peluangnya,” ujarnya seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Pasalnya, Enggar sering dapat keluhan dari para investor soal ketidaksinkronan antara aturan pusat dan pemerintah daerah. Solusi yang ditawarkan dengan kemudahan perizinan yang akan diberikan para Gubernur.

Di sisi lain, alasan lain yang juga sering kali mengganjal investasi dalam negeri adalah instabilitas pemerintah yang mendapat skor 6,5. Kemudian tarif pajak yang dirating 6,4. Lalu etos kerja buruh mendapat poin 5,8, regulasi pajak 5,2, dan pajak 4,7.

Kelima alasan diatas melengkapi 10 besar faktor yang menjadi penghalang perkembangan inflasi di Indonesia. Sementara 6 sisanya adalah pendidikan tenaga kerja rendah 4,3, kejahatan dan pencurian 4, peraturan tenaga kerja 4, kebijakan kurs asing 3, kapasitas inovasi minim 2,5 dan kesehatan masyarakat buruk 1,8.

 

 

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati