Waspada Modus Penipuan Mengatasnamakan Bea Cukai. Ini Ciri-cirinya

3 menit

Sebut saja Mira.  Remaja usia 20an ini sudah sebulan kenalan dengan Alex, pria yang mengaku-ngaku dari Perancis. Mereka saling kenal di media sosial yang berlanjut ke aplikasi  messenger. Gak menunggu waktu lama sampai Alex menawarkan hadiah tas branded untuk Mira.

Mira tentu aja senang bukan main. Sampai beberapa waktu kemudian, Alex mengaku hadiah yang ia kirim tertahan bea cukai dan harus ditebus dengan sejumlah uang.  Tak lama pihak yang mengaku petugas bea cukai pun menyebutkan biaya yang harus dikirim serta informasi rekening tujuan. Terlanjur senang dan percaya, Mira tanpa ragu mengirim uang beberapa juta. Toh, dia akan dapat tas berharga puluhan hingga ratusan juta.

Seperti yang bisa ditebak. Tas tak kunjung datang, Alex menghilang tanpa jejak.

Udah gak asing dengan kisah di atas? Bukan sekali dua kali kasus serupa terjadi. Pelaku umumnya mahir membuat korban terbawa perasaan hingga mudah dikelabui.

Modus penipuan mengatasnamakan bea cukai masih marak terjadi. Sekalipun gak semua korban berani melapor karena gengsi atau malu.  Modus penipuan pun gak cuma janji palsu kasih hadiah mahal kaya kasus di atas.

Terutama buat kamu yang suka belanja dari luar negeri, nih 3 modus penipuan yang catut nama bea cukai yang paling sering terjadi. Wajib tahu, biar gak jadi korban berikutnya.

1. Jual barang lelang atau sitaan

Ilustrasi barang sitaan, (Shutterstock).

Siapa sih yang gak tergiur melihat barang dengan harga terpangkas habis-habisan? Ditambah dengan embel-embel “sitaan bea cukai” atau “barang black market“, korban pun dibuat percaya dengan harga miring tersebut.

Penipu umumnya menghubungi calon korban melalui telepon dengan menawarkan sejumlah barang elektronik harga yang super miring. Biasanya mengaku-ngaku sebagai kenalan korban. Saat korban mulai tertarik, korban pun diminta mengisi biodata dan memberikan nomor telepon kepala lelang bersangkutan.

Ketika korban menghubungi kepala lelang, korban akan diminta mengirimkan biaya pembelian agar barang lekas dikirim.

Perlu diingat bahwa penjualan barang lelang atau sitaan bea cukai hanya diumumkan melalui situs resmi Bea Cukai, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, atau Kementerian Keuangan. Jika bukan di antara ketiganya, dapat dipastikan penipuan.

2. Ancaman barang blackmarket

Ilustrasi barang black market, (Shutterstock).

Korban penipuan adalah pembeli barang di toko online dari penjual yang sudah berniat menipu sejak awal. Biasanya barang dijual dengan harga murah sehingga membuat orang tak pikir panjang untuk segera membayar.

Setelah melakukan proses pemesanan dan pembayaran barang, gak lama penipu bakal menghubungi korban. Dengan mengaku-ngaku dari pihak bea cukai, penipu mengancam korban akan mendapatkan sanksi karena telah membeli barang di black market atau secara ilegal.

Solusinya? Transfer uang dengan nominal jutaan pada pelaku penipuan, maka pelaku akan menjamin keamanan.  Sekalipun gak percaya untuk mengirimkan uang “keamanan”, korban pada modus ini harus terpaksa gigit jari karena sudah mengeluarkan uang untuk membayar barang yang dibeli.

Oleh sebab itu, sebaiknya pilihlah seller yang terpercaya atau membeli barang langsung dari situs/akun resminya.

3. “Kekasih” tertahan di bandara

Ilustrasi tertahan di bandara, (Shutterstock).

Modus penipuan yang mengaku-ngaku sebagai orang asing dan berpura-pura PDKT pun ada banyak bentuknya. Selain seperti kisah di atas, pelaku juga ada yang mengaku akan berkunjung ke Indonesia demi menemui korban.

Tentunya, ia berjanji membawa banyak barang bermerek dan uang tunai yang banyak demi membahagiakan korban. Saat korban sedang menunggu kedatangan “pujaan hatinya” tersebut, tahu-tahu pelaku mengaku tertahan di bea cukai bandara gara-gara barang dan uang yang ia bawa.

Pelaku  menghubungi korban untuk meminta uang tebusan. Bisa juga ada pihak lain yang mengaku-ngaku dari orang bea cukai untuk meminta tebusan.

Perlu diketahui bahwa petugas Bea Cukai gak bakal menghubungi orang untuk mengirim sejumlah uang ke rekening pribadi. Jika diharuskan melakukan pembayaran Bea Masuk & Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) langsung disetorkan ke rekening kas negara berdasarkan kode billing. Tapi, pastikan juga kebenaran kode billing dan status barang.

Waspadalah jika dihubungi pihak-pihak yang mengatasnamakan Bea Cukai serta menggunakan nomor telp +1500xxx atau nomor pribadi dengan masking “Bea Cukai” atau “Humas Bea Cukai”. Segera hubungi Bravo Bea Cukai melalui telepon ke nomor 1500225 atau email [email protected] untuk memastikan kebenaran.

Ulfa Sekar
Ulfa Sekar

Pernah menjadi anak IT dan bercita-cita menjadi seorang programmer. Lalu berakhir menjadi seorang penulis dan menikmatinya. Semoga tulisan saya bisa berguna buatmu.