Deretan Bisnis yang Nyaris Punah Gara-gara Kemajuan Teknologi

3 menit
jenis bisnis
Bisnis yang nyaris punah. (Shutterstock)

Beberapa jenis bisnis mengalami kebangkrutan akibat kemajuan teknologi. Kemudahan yang ditawarkan telah mengalihkan selera masyarakat dari sesuatu yang konvensional ke segala hal berbau digital. 

Bagi masyarakat luas, perkembangan tersebut memiliki banyak dampak positif. Tapi, memberikan dampak negatif juga bagi beberapa bisnis yang telah berjalan. Ada yang mengalami penurunan penjualan karena ‘ladang’ uang mereka direbut oleh ciptaan super canggih ini. 

Tapi, namanya perkembangan dan kemajuan memang tidak bisa dihindari. Hidup itu dinamis, yang artinya akan selalu ada hal-hal baru ke depannya. Lantas, jenis bisnis apa aja yang terkena dampak kemajuan teknologi?

Baca juga: Tutup Enam Supermarket, Gimana Performa Saham HERO yang Jadi Induk Giant?

1. Agen perjalanan konvensional

jenis bisnis
Agen perjalanan konvensional. (Shutterstock)

Dulu, orang menggunakan jasa agen perjalanan untuk membeli tiket. Hal ini karena agen-agen tersebut sangat mudah ditemukan di setiap sudut kota dan juga menawarkan kemudahan dalam bertransaksi. Bagaimana gak mudah, kita tinggal sebut saja tanggal keberangkatan, mau moda transportasi apa, tinggal kasih deh uangnya, selesai, tiket di tangan.

Tapi kini, jenis bisnis tersebut sudah mulai tersingkirkan dengan banyaknya agregator pemesanan tiket di internet. Sebut saja ada Traveloka, Tiket.com, Pegi-Pegi, dan masih banyak lagi. Mereka menawarkan segudang kelebihan dibandingkan agen perjalanan konvensional. 

Kelebihan dari para agregator tersebut yang pertama adalah bisa diakses kapan saja dan dari mana saja, asalkan punya smartphone yang terkoneksi internet. Transaksinya bisa dilakukan dengan berbagai metode, dari transfer bank, dompet digital, hingga kartu kredit. Yang terpenting, banyak promo menarik seperti potongan harga maupun cashback yang mungkin tidak ditawarkan agen konvensional.  

Baca juga: Utang Sampai Rp 1,3 Triliun, Restoran Celebrity Chef Jamie Oliver Terpaksa Gulung Tikar

2. Jenis bisnis retail konvensional

jenis bisnis
Ilustrasi bisnis retail. (Shutterstock)

Menjamurnya bisnis e-commerce, yang memungkinkan seseorang berbelanja secara online, membuat bisnis retail konvensional mengalami kelesuan. Sejak beberapa tahun belakangan satu demi satu retail konvensional ternama berguguran, menutup sebagian tokonya, atau bahkan menutup bisnis seutuhnya. 

Baik itu retail makanan sampai fesyen, semua ikut terkena dampak kemajuan teknologi. Jenis bisnis yang menjajakan banyak produk dalam satu tempat ini sudah kurang menarik lagi bagi masyarakat modern saat ini. Alasan kepraktisan menjadi penyebab utama banyak yang berpaling dari konvensional ke digital. 

Gimana gak praktis, kalau dulu berbelanja harus datang langsung ke toko, naik angkutan umum, berjalan kaki, panas-panasan. Beda dengan sekarang, mau belanja apapun tinggal pilih apa yang mau dibeli, transfer pembayaran, lalu duduk manis nunggu barang datang. 

Baru-baru ini, toko retail ternama Giant, menutup sejumlah tokonya. Hal ini dikarenakan angka penjualan mereka yang terus mengalami penurunan. Demi menyelamatkan bisnis ke depannya, terpaksa deh ditutup. 

Selain Giant, beberapa retail lainnya sudah lebih dulu gulung tikar, seperti Lotus dan Debenhams yang tutup di tahun 2017. Kemudian ada Hero yang menutup 26 gerainya di awal 2019, dan terakhir Centro Plaza Semanggi. 

Baca juga: 5 Trik Mempertahankan Bisnis Agar tak Gulung Tikar dalam Waktu Dekat

3. Media cetak 

jenis bisnis
Media cetak surat kabar. (Shutterstock)

Terakhir, jenis bisnis yang terancam punah bahkan sudah ada yang gulung tikar adalah media cetak. Kenapa bisnis ini lesu? Karena kini semuanya sudah beralih ke media digital. Lewat ponsel, semua orang bisa mengakses berita kapan saja dan di mana saja. 

Keunggulannya bila dibanding koran, pembaruan berita selalu dilakukan setiap saat bahkan setiap detik. Kalau koran kan, mesti menunggu besok paginya buat tahu berita terbaru. 

Di Indonesia, sudah banyak media cetak yang menutup usahanya, seperti koran Sinar Harapan. Surat kabar yang telah berdiri sejak tahun 1960-an itu terpaksa menyetop produksinya pada tahun 2016 karena masalah keuangan. Media cetak yang mengulas tentang dunia sepakbola, Tabloid Bola juga harus berpamitan ke pembaca setianya pada tahun 2018 lalu. 

Demi mempertahankan bisnisnya, beberapa media cetak tersebut beralih ke digital, seperti halnya yang dilakukan oleh Jakarta Globe dan Tempo. 

Itu tadi tiga jenis bisnis yang terdampak kemajuan teknologi. Sebenarnya bisa saja mereka tetap bertahan, asalkan memiliki kreativitas yang lebih untuk tetap bisa dijadikan pilihan utama bagi pelanggannya. (Editor: Ruben Setiawan)

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!