Kalau Transportasi Online Gak Ada Lagi, Apa Jadinya Ya?

4 menit
transportasi online

“Cinere, Gandul, Cinere, Gandul, Cinere…”

Generasi 90-an pasti ingat kalimat ini. Ini adalah kalimat yang sering diteriakkan Mandra di sinetron Doel Anak Sekolahan saat dia mencari penumpang oplet.

Kira-kira beginilah potret transportasi umum era 90-an. Belum ada yang namanya smartphone, Internet juga baru beberapa orang yang bisa akses. Apalagi transportasi online.  

Nah bicara soal transportasi online, kontroversi seputar isu tersebut sekarang kembali ramai diperbincangkan. Pemicunya apalagi kalau bukan larangan sementara yang sempat diberlakukan Pemerintah Jawa Barat.

transportasi online
Dulu orang bisa hidup tanpa transportasi online. Sekarang apakah bisa? (Transportasi online/Tribunnews)

Tahu sendiri kan, sekarang banyak orang yang ketergantungan dengan transportasi yang satu ini. Selain harganya lebih murah ketimbang angkutan umum dan taksi konvensional, kendaraannya pun lebih nyaman ditumpangi.

Gak cuma itu, naik transportasi online juga lebih aman dan gampang. Sebab driver-nya udah pasti punya SIM, dan kendaraannya pun bisa dipesan kapan saja lewat ponsel.

Nah, sekarang mari kita berandai-andai. Apa ya yang bakal terjadi kalau gak ada transportasi online lagi? Pastinya kita bakal mengalami enam hal ini nih.

1. Sering sport jantung

Lah, apa kaitannya gak ada transportasi online dengan sport jantung? Ada dong.

Kalau gak ada transportasi online, kamu bakal cukup bergantung sama angkot dan bus kan? Mau itu mikrolet, KWK, APB, sampai Kopaja.

transportasi online
Kalau angkotnya ugal-ugalan, kejadian seperti ini berpotensi terjadi (Kecelakaan angkot/jawapos)

Nah, udah tahu kan kebiasaan sopir-sopir angkutan umum ini? Main sodok kendaraan lain, atau nyalip tanpa perhitungan. Kalau nyetir sering ugal-ugalan dan bikin jantung kita deg-deg-ser. Aduh, mending jalan kaki aja deh kalau gini ceritanya.

[Baca: 6 Alasan Kenapa Naik Transportasi Online Lebih Menguntungkan]

2. Waktu di jalan = unpredictable

“Nyampe jam berapa bro?”

“Waduh, cuma supir angkot sama Tuhan yang tahu.”

Kira-kira bakal beginilah nanti percakapan antara dua orang yang mau janjian. Kalau gak ada transportasi online, jam perjalanan pun bakal makin sulit diprediksi.

Tahu sendiri kalau supir angkot bentar-bentar sering ngetem di pinggir jalan. Kereta juga belum sepenuhnya bisa diandalkan karena sering gangguan. Kayaknya gak ada deh satu hari tanpa gangguan kereta.

3. Naik ojek jauh-deket sama mahalnya

Sebelum ada ojek online, kamu pasti pernah dong naik ojek konvensional? Inget dong berapa ribu yang harus kamu bayar hanya untuk menempuh perjalanan 1 kilometer? Kalau gak jago nawar, jarak 500 meter bisa saja dikenakan tarif Rp 20 ribu.

transportasi online
Kalau jauh dekat saja harganya mahal, mendingan naik angkot kalau untuk jarak dekat. Tapi, bakalan sport jantung gak tuh? (ojek konvensional/Pikiran Rakyat)

Selain tarifnya yang mengerikan, beberapa pengemudi ojek konvensional rata-rata gak sedia helm dan bahkan gak punya SIM. Kalau kenyataan ini yang kamu hadapi, masa iya harus bawa-bawa helm ke mana pun kamu pergi?

[Baca: Tarif Ojek Online: Murahan Go-Jek, Grab atau Uber Ya?]

4. Taksi cuma buat kaum borju

Memang sih, kalau soal keselamatan, pemesanan, dan urusan pengaduan pelanggan, taksi konvensional paling terjamin. Tapi tarif yang mereka berlakukan sesuai dengan argo yang berjalan. Dan itu tarifnya mihil bingitz.

Di DKI Jakarta aja, tarif buka pintu udah Rp 6.500 dan tarif per kilometernya adalah Rp 3.500. Sialnya lagi, kamu gak bakal tahu perkiraan biaya yang harus kamu siapkan ketika naik taksi konvensional karena kondisi jalanan suka gak terduga.

5.  Dompet makin tebal

Dompet makin tebal gak selamanya bisa dibilang makin makmur. Bisa jadi tebal karena keseringan narik uang tunai di ATM buat ongkos transportasi.

transportasi online
Naaaahh seperti ini kali ya penampakan dompetmu tiap hari. Mirip dompet tanggal tua hehehe (dompet penuh receh/yukepo)

Kalau gak ada transportasi online, dompet bakal penuh pecahan Rp 10 ribu, Rp 5 ribu atau bahkan uang receh. Soalnya, hanya KRL dan Transjakarta saja yang udah memberlakukan transaksi non-tunai.

[Baca: Bukti Kekuatan Uang Receh, Jangan Sampai Disia-siakan]

Jika mau naik taksi dan bayar non-tunai, kamu cuma bisa naik Blue Bird dengan menggunakan aplikasi MyBlueBird. Mau coba naik angkot dan bayar non-tunai? Ya siap-siap aja disemprot supirnya.

6. Jumlah kendaraan pribadi bakal meroket

Karena naik transportasi umum tergolong rugi waktu dan biaya, maka besar kemungkinan banyak orang yang akhirnya menggunakan kendaraan pribadi. Hasilnya? Jalanan bakal makin macet.

Kalau seandainya transportasi online bener-bener dilarang beroperasi, pasti ada kan di antara kamu yang kepikiran ngambil kredit motor atau mobil buat menghindari transportasi massa yang masih amburadul?

Nah, kira-kira itulah yang bakal kita alami kalau transportasi online gak ada lagi. Dulu pas zamannya si Doel mungkin gak apa-apa, wong jumlah kendaraan juga gak sebanyak saat ini. Tapi kalau sekarang? People jaman now pasti bakal kelabakan kalau harus ke mana-mana naik angkutan umum.

Lagian, keberadaan transportasi online itu banyak faedahnya. Selain membantu ekonomi masyarakat menengah ke bawah dengan lapangan pekerjaan baru, fasilitas ini juga sangat membantu mobilitas para pekerja dan kelas menengah. Belum lagi mengurangi tingkat kemacetan juga.

Kalau menurut kamu sendiri gimana? Bisa gak tuh hidup tanpa transportasi online?

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

MoneySmart Singapore MoneySmart Indonesia MoneySmart Hong Kong