Mengenal Karl Lagerfeld, Penyelamat Chanel dengan Kekayaan Rp 4,2 Triliun

5 menit
Karl Lagerfeld (Shutterstock)

Karl Lagerfeld, perancang busana paling produktif dari abad ke-20 dan ke-21 yang sepanjang kariernya membentuk industri fesyen mewah nan modern telah meninggal dunia di Paris, Selasa 19 Februari 2019, waktu setempat.

Desainer asal Jerman itu merupakan Creative Director untuk brand Chanel dan Fendi, serta memiliki lini fashion sendiri, Karl Lagerfeld. Lagerfeld juga sering mendesain produk fashion para selebriti Hollywood.

Meski tahun kelahirannya masih jadi perdebatan, Lagerfeld yang tinggal di Paris dikabarkan meninggal  di usia 85 tahun. Kabar kematian pria berkacamata itu diumumkan oleh Chanel.

“Lebih dari siapapun yang saya kenal, dia mewakili jiwa mode yang penuh kegelisahan, berwawasan ke depan, dan penuh perhatian terhadap budaya kita yang terus berubah,” kata Anna Wintour, editor American Vogue, tentang Lagerfeld saat Outstanding Achievement Award di British Fashion Awards, 2015 silam.

Lagerfeld sudah memulai kariernya di dunia fashion sejak berusia 22 tahun. Dia mengikuti sebuah kompetisi desain yang disponsori International Wool Secretariat bersama Yves Saint Laurent, dan berhasil tampil sebagai pemenang.

Pria kelahiran Hamburg ini direkrut oleh Fendi untuk menciptakan karya-karya fashion modern pada tahun 1967. Lalu, dia pindah ke Chanel yang saat itu sedang berada di ujung tanduk pada tahun 1980-an.

Mulai dari situlah nama Lagerfeld terkenal di dunia. Dan kabarnya, jabatan Creative Director di dua brand itu memang dijabat hingga akhir hidupnya.

Seperti apa kisah perjalanan kariernya dan kehidupan Lagerfeld? Untuk mengetahuinya lebih jauh, simak rangkuman MoneySmart dari berbagai sumber berikut:

Sudah bertekad sukses sejak kecil  

Karl Lagerfeld
Karl Lagerfeld

Lagerfeld kecil punya kebiasaan membaca dan menggambar. Saat menginjak usia enam tahun, dia telah bertekad pada dirinya sendiri akan jadi orang beken.

Tumbuh dalam keluarga mapan karena sang ayah pebisnis susu yang mapan, Lagerfeld sempat tinggal berpindah-pindah akibat perang. Namun, Lagerfeld selalu mendapat tempat tinggal yang nyaman dan kasih sayang penuh dari orangtuanya.

Pria yang gemar memakai setelan jas lengkap ini juga beruntung karena sang orangtua menerima orientasi seksualnya.

Baca juga: 9 Brand Fashion Ini Termahal di Dunia, Louis Vuitton Teratas!

Berkecimpung di industri mode

Karl Lagerfeld
Karl Lagerfeld

Setelah memenangkan kompetisi mode, Lagerfeld berkecimpung ke dunia mode dengan jabatan sebagai asisten desainer Pierre Balmain pada 1955.

Setelah itu, dia merancang koleksi busana pertama pada 1958 ketika bekerja untuk label Jean Patou. Namun, saat itu koleksinya dihina.

Tak patah semangat, Lagerfeld muda berhasil membuat desain rok mini yang menurutnya mewakili semangat kaum muda saat itu, yaitu pada tahun 1960. Meski begitu, dia tetap harus menelan pil pahit karena koleksinya tidak disambut baik.

Meski mendapat respons negatif, Lagerfeld justru berhasil mengibarkan kariernya di industri mode setelah beberapa orang menilai kejeniusan Lagerfeld. Salah satunya, Gaby Aghion, pendiri label busana Chloe, yang dikenal sebagai pelopor tren busana siap pakai.

Kemudian, Aghion yang saat itu membutuhkan visi anak muda agar desain Chloe tidak ketinggalan zaman merekrut Lagerfeld.

“Dia cerdas dan menyukai seni. Di saat desainer lain memberiku dua opsi desain, Karl menyodorkan 20 opsi dalam sehari,” ungkapnya seperti dilansir dari The New York Times.

Baca juga: Mahal Sih, tapi 5 Produk Fashion Dunia Ini Mirip Produk Lokal Indonesia!

Proyek “penyelamatan” Chanel

Karl Lagerfeld
Karl Lagerfeld

Dengan cara kerjanya tersebut, pria yang mampu berbicara dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Italia  mampu memperoleh pekerjaan di sejumlah label mode.

Namun, dia baru mendapat tantangan saat diminta memegang label busana Chanel yang nyaris mati, pada tahun 1980-an.

“Orang-orang mencegah saya untuk masuk ke label yang sekarat. Tapi saya yakin saya bisa membangkitkan label itu,” imbuhnya kepada kritikus mode Suzy Menkes.

“Aku hanya mau bekerja di perusahaan besar yang punya dana besar untuk beriklan. Aku benci sesuatu yang kecil dan biasa saja,” sambungnya kepada WWD.

Saat itu, Lagerfeld berhasil mengoreksi kekurangan Coco Chanel yang menurutnya menolak menyesuaikan diri dengan zaman.  “Chanel butuh sesuatu yang lebih berani,” jelasnya.

Lagerfeld memberi aksen rantai pada ikat pinggang, membuat kerah busana rendah dan lebar, serta menambahkan detail pada rok dalam koleksi pertama yang dirilisnya tahun 1983 silam.

Sukses menyelamatkan dan melambungkan Chanel

Karl Lagerfeld
Karl Lagerfeld

Inovasi Lagerfeld berhasil membawa nyawa baru bagi Chanel. Direktur kreatif Chanel sejak 1983 dan Fendi sejak 1965 itupun sukses menambah pundi-pundi kekayaannya lewat brand satu ini.

Selain membuat kekayaan pemegang utama saham Chanel, Alain dan Gerard Wetheimer meningkat sekitar empat kali lipat selama 30 tahun terakhir, Lagerfeld juga sukses menambah pundi-pundi kekayaannya.

Business Insider sempat menempatkan Alain dan Gerard di peringkat 6 dari 25 miliarder bisnis mode. Selain kedua pemegang utama saham itu, kekayaan Lagerfeld juga terus bertambah hingga dia lebih serius mengurus Chanel.

Selain memikirkan desain busana yang baru dan kemasan peragaan busana, Lagerfeld juga selalu berhasil menampilkan tata ruang spektakuler dalam setiap peragaan busana Chanel.

Dia berhasil mengubah ruang peragaan busana mirip supermarket, air terjun, bandara, hutan, taman bermain, kasino, pesawat, ruang peluncuran roket, dan pantai.

Lagerfeld juga bisa membuat jajaran selebriti seperti Pharell, Kristen Stewart, Cara Delevigne, dan Kaia Gerber mencintai Chanel dengan mengajak mereka berkolaborasi dalam desain busana dan film.

Label Karl Lagerfeld dan Fendi

Karl Lagerfeld dan Rihanna untuk Fendi (Danny Kim/New York Times)
Karl Lagerfeld dan Rihanna untuk Fendi (Danny Kim/New York Times)

Setelah keluar dari Chloe, Lagerfeld menciptakan label sendiri. Langkah itu awalnya dibuat sekadar untuk menampung para pekerja yang masih ingin bekerja dengannya.

“Aku tidak peduli label itu akan jadi apa setelah saya pergi. Tidak pernah memikirkannya,” papar Lagerfeld dalam acara IHT Luxury Conference.

Namun, dia tak menyangka apa yang dianggap tak akan menguntungkan baginya justru menunjukkan hal kebalikannya.

Merilis koleksi busana pria, label Karl Lagerfeld justru memperoleh peningkatan keuntungan 30% pada 2017, seperti yang terjadi pada Fendi.

Lagerfeld pada tahun yang sama menerima penghargaan La Médaille Grand Vermeil de la Ville. Penghargaan itu merupakan penghargaan mode paling prestisius yang diberikan pemerintah Prancis.

Dengan seluruh keberhasilannya menjadi “juru selamat” di industri fashion itu membuat sosok Lagerfeld semakin disegani.

Pria dengan jumlah kekayaan Rp 4,2 triliun

Karl Lagerfeld (Bill Cunningham/The New York Times)
Karl Lagerfeld (Bill Cunningham/The New York Times)

Kesuksesan Lagerfeld membuat Chanel berjaya, hingga memiliki keuntungan berkali-kali lipat dari labelnya, Karl Lagerfeld, serta brand Fendi membuat kekayaannya terus bertambah.

Situs Celebrity Net Worth melaporkan, Lagerfeld tercatat sebagai seorang desainer sukses dengan total kekayaan mencapai US$ 300 juta atau Rp 4,2 triliun.

Itulah fakta mengenai sosok dan kiprah Lagerfeld di industri mode dunia. Selamat jalan Lagerfeld, may your soul Rest In Peace!

Chaerunnisa
Chaerunnisa

Senang menulis dan belajar banyak hal. Semoga karya saya selalu bisa dinikmati dan bermanfaat bagi semua.