Kekayaan di Bawah Rp 500 Juta? Ini Perjalanan Karier Ma’ruf Amin

ketua mui
[ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye/18]

Metadesc: Ketua MUI Ma’ruf Amin baru saja digandeng Jokowi sebagai cawapresnya. Asal kamu tahu, di tahun 2010 kekayaan beliau gak sampai Rp 500 juta lho.

Ketua MUI atau Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin, secara resmi digandeng Jokowi sebagai cawapres pendampingnya pada Pemilihan Presiden 2019. Cukup mengejutkan tentunya bila kamu melihat laporan kekayaan ulama sekaligus politisi kelahiran 1943 silam ini, karena jumlahnya di bawah Rp 500 juta.

Professor Doctor Kiai Ma’ruf Amin memang sempat menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akan tetapi laporan itu diserahkan pada 2010 silam.

Dari laporan tersebut, disebutkan bahwa total harta kekayaan Ma’ruf Amin adalah Rp 427,2 juta. Gak sampai Rp 500 juta dan masih jauh dari Rp 1 miliar. Itu artinya, Ketua MUI ini masih kalah tajir ketimbang menteri-menteri Kabinet Kerja Jokowi lainnya.

Menurut laporan harta kekayaan tersebut, Ma’ruf dikabarkan memiliki kendaraan Toyota Corolla dan Isuzu Panther. Total harga kedua mobil tersebut adalah Rp 290 juta.

Dia juga punya giro senilai Rp 50 juta namun tercatat punya utang Rp 134 juta. Sementara itu harga tanah yang dia miliki ditaksir Rp 231 juta pada saat itu.

Penasaran dengan perjalanan karier sang Ketua MUI yang bakal maju bareng Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2019 ini? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Lahir di zaman pendudukan Jepang

Ma’ruf Amin lahir di zaman pendudukan Jepang, lebih tepatnya di Banten, 11 Maret 1943 silam. Ma’ruf berasal dari keluarga agamis, dan sejak kecil dirinya sudah akrab dengan ajaran Islam.

Ayahnya yang bernama Mohammad Amin adalah ulama besar di Banten. Sejak kecil, Ma’ruf juga sudah disekolahkan di madrasah ibtidaiyah.

Setelah lulus, Ma’ruf Amin merantau ke Jawa Timur untuk melanjutkan studinya di Pesantren Tebu Ireng. Lulus dari Tebu Ireng, dia melanjutkan studinya di Ibnu Chaldun Jakarta hingga berhasil meraih gelar profesor di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Di organisasi Islam, Ma’ruf pernah menjabat sebagai Ketua Ansor hingga jadi Ketua NU lho. Untuk hal yang sifatnya keorganisasian, dia memang figur yang organisatoris banget deh.

2. Pernah jadi guru dan dosen

Selain sebagai pemuka agama, Ketua MUI ini dulu ternyata pernah bekerja sebagai seorang guru di sekolah di wilayah Jakarta Utara. Gak pernah disebutkan sih di sekolah mana pak Ma’ruf mengajar namun yang pasti, seperti dikutip dari Wikipedia, Ma’ruf jadi guru pada tahun 1964 hingga 1970.

Gak cuma ngajar di sekolah, Ma’ruf juga ternyata ngajar di kampus. Lebih tepatnya di Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdatul Ulama (Unnu) tahun 1968.

Kelihatannya, profesi yang diemban Ma’ruf gak jauh beda sama mantan Wakil Presiden RI Boediono ya. Boediono dulunya juga merupakan guru, tapi juga pernah jadi dosen di Universitas Gadjah Mada alias UGM.

Sebagai seorang guru, Ma’ruf Amin juga punya prestasi yang cukup baik lho. Dia mendapatkan gelar Guru Besar Kehormatan (honoris causa) bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Mei 2017 silam. Wah keren banget ya, berarti dia juga merupakan pakar ekonomi syariah!

Penganugerahan itu diberikan langsung oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir. Acara pengukuhan guru besar itu juga dihadiri oleh Presiden Jokowi hingga menteri-menterinya.

3. Pernah jadi anggota DPRD DKI

Gak cuma aktif di dunia dakwah dan pendidikan, ayah dari delapan orang anak ini juga aktif di politik. Ma’ruf mulai aktif di DPRD DKI lebih tepatnya pada 1971 hingga 1973. Akan tetapi di tahun ini, dia masuk ke DPRD dari Utusan Golongan.

Utusan Golongan adalah perwakilan masyarakat Indonesia yang diisi oleh perwakilan beberapa profesi, sebut saja seperti buruh, guru, petani, nelayan, dan lainnya.

Lambat laun dia pun menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan alias PPP. Namun setelah Indonesia memasuki masa Reformasi, pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua MUI ini pun diminta menjadi Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Melalui partai itulah, Ma’ruf Amin akhirnya berhasil mendapat kursi di DPR/MPR RI. Meski demikian, Ma’ruf kayaknya lebih suka aktif di PBNU dan MUI saja. Ya wajar sih, dunia politik itu kan panas banget apalagi ketika seseorang sudah jadi wakil rakyat.

4. Pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden

Bukan cuma di partai dan DPR atau MPR saja, Ma’ruf Amin ternyata pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, lebih tepatnya saat Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI. Ma’ruf menjabat pada tahun 2007 dan tahun 2010 hingga 2014.

Itu tandanya, dia memang bukan orang sembarangan di dunia politik. Pada saat itu, dia ditunjuk sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama. Walaupun jabatannya masih berbau agama, tapi setidaknya cukup bergengsi jugalah.

5. Sebelum jadi Ketua MUI, dia pun pernah menduduki jabatan rendah lainnya

"Saya ingin menyampaikan sebuah keputusan sangat penting setelah perenungan dan mempertimbangkan dan saran-saran berbagai elemen masyarakat pada bagian awal tadi saya memutuskan dan telah mendapat persetujuan partai koalisi yaitu Indonesia Kerja bahwa yang mendampingi saya sebagai Cawapres 2019-2024 adalah Prof KH Mar'uf Amin," kata Jokowi usai rapat bersama ketum dan sekjen partai koalisi, Jakarta, Kamis (9/8). • Jokowi menambahkan, keputusan maju kembali di periode kedua merupakan tanggung jawab besar untuk meneruskan cita-cita bangsa. • "Dengan mengucap Bismilah saya memutuskan kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden Indonesia 2019-2024," tuturnya. . Komentar kamu? Ikuti terus berita lainnya di merdeka.com • • • #MDKNews #news #merdekadotcom #jokowi #marufamin #politik

A post shared by merdeka.com (@merdekadotcom) on

Bukan berarti karena dia pernah jadi anggota DPR lantas bisa langsung jadi Ketua MUI. Di tahun 2000, Ma’ruf Amin hanya seorang anggota di MUI Pusat.

Lambat laun seiring dengan berjalannya waktu, dia pun naik pangkat jadi Wakil Ketua Fatwa MUI pada 1996. Kemudian, tepat pada periode 2001 hingga 2007, Ma’ruf Amin menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI.

Alhasil, berkat kinerjanya yang cukup baik, di tahun 2007 dia menduduki kursi Ketua MUI. Di tahun 2015, dia pun kembali terpilih untuk periode selanjutnya.

Seperti itulah perjalanan karier Ketua MUI Ma’ruf Amin yang kini jadi cawapres pendamping Jokowi. Bisa dibilang, selama hidupnya hingga kini pak Ma’ruf banyak menghabiskan waktu untuk aktif di dunia kerohanian, mulai dari pendakwah hingga guru.

Soal laporan harta kekayaannya yang di bawah Rp 500 juta, itu sih dulu. Sekarang, bisa jadi kekayaannya meningkat.

Wajar saja, harga tanah (harta tidak bergerak) tentunya bakal mengalami kenaikan seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, masa iya dia gak ganti mobil selama bertahun-tahun. Dan soal utangnya yang berjumlah Rp 100 jutaan, mestinya juga sudah lunas sekarang.

So, gimana guys menurutmu? Apakah dengan latar belakang profesi seperti ini, Ma’ruf Amin  cocok jadi orang nomor dua di Indonesia?

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560