Masalah Kompensasi, Keluarga Korban Tragedi JT-610 Somasi Lion Air Dkk

2 menit
Pesawat Lion Air (Shutterstock)
Pesawat Lion Air (Shutterstock)

Keluarga korban kecelakaan Lion Air JT-610 menyampaikan somasi untuk mendapatkan kompensasi yang adil atas tragedi tersebut.

Somasi mereka diwakilkan kuasa hukum, yakni pengacara dari Herrmann Law Group yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Juga Santo dan Tomi & Rekan yang berbasis di Indonesia, yang mewakili 24 keluarga korban.

“Atas nama para korban ini, kami meminta Anda segera membayar setiap keluarga Rp 1,254 miliar (US$ 88.725,58) yang diamanatkan oleh hukum Indonesia. Tanpa mengharuskan mereka menandatangani Release & Discharge (R&D) Anda yang tidak sah,” menurut Charles J. Herrmann dari Herrmann Law Group dalam keterangan somasinya.

Adapun surat somasi itu tertanggal 4 April 2019 dan ditujukan bagi empat pihak. Diantaranya PT Lion Mentari Airlines, Tugu Pratama Insurance Co., Global Aerospace, dan Kennedys Legal Solutions.

“Apa yang dilakukan oleh pihak yang dituntut saat melakukan negoisasi dengan korban adalah ilegal. Itu juga tidak ada kemanusiaannya,” ungkap Charles J. Herrmann dalam jumpa pers di Hotel Fairmont, Jakarta.

Menurut dia, alih-alih memenuhi tugasnya, para pihak yang disomasi justru berkonspirasi untuk melanggar hukum Indonesia. Dengan cara memaksa korban untuk menandatangani R&D ilegal. Dengan pemaksaan itu, para korban kehilangan semua hak mereka untuk menerima kompensasi penuh dengan melepaskan Lion Air, Boeing dan lebih dari 1.000 terdakwa potensial lainnya.

“Ini adalah pelanggaran langsung terhadap Undang Undang Penerbangan Indonesia Pasal 186, yang secara tegas melarang R&D itu,” paparnya.

Dia menegaskan, penumpang pesawat sudah jelas diberikan asuransi. Jadi, jika terjadi kecelakaan, perusahaan penerbangan wajib membayar kepada pihak keluarga.

Undang Negosiasi Pihak Terkait

Kuasa Hukum Keluarga Korban Lion Air JT-610 Lakukan Konferensi Pers (MoneySmart)
Kuasa Hukum Keluarga Korban Lion Air JT-610 Lakukan Konferensi Pers (MoneySmart)

“Tidak harus membuktikan ada kesalahan yang terjadi atau ada kerugian yang dibuktikan. Cuma hanya harus membuktikan, korban meninggal di pesawat tersebut, dan kedua membuktikan bahwa anda ahli waris yang sah. Hukumnya jelas sekali, tidak ada pengartian yang berbeda,” paparnya.

Karena itu, Charles J. Herrmann mengundang pihak yang disomasi untuk melakukan negosiasi. Tentunya dengan itikad baik mencari penyelesaian yang adil yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Jika tidak ada iktikad baik, dalam batas waktu 30 hari setelah surat somasi diterima, maka kuasa hukum korban akan memulai gugatan.

“Jika Boeing mencoba membela diri dengan pembebasan ilegal ini dalam tuntutan hukum kami di AS, kami, penasehat hukum Amerika, akan menyambut baik. Kesempatan ini akan kami gunakan untuk memperjuangkan hak-hak para korban di Pengadilan Hukum AS,” pungkasnya.

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati