3 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Nego Kenaikan Gaji

4 menit
Kenaikan gaji
Negosiasi kenaikan gaji, hindari 3 kesalahan ini (Pixabay)

Kenaikan gaji biasa diperoleh pekerja di setiap tahun. Namun, jumlahnya bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Semua dinilai berdasarkan performanya selama setahun penuh.

Ada yang mendapatkan kenaikan drastis, biasa-biasa saja, atau bahkan jauh di bawah rata-rata. Ini biasa terjadi, karena bos memiliki pertimbangan yang sangat matang untuk menetapkan besaran kenaikan.

Sebagai pekerja, kalau kamu mendapatkan gaji yang jauh di bawah teman-teman lainnya, pasti sangat kesal, bawaanya pengen protes saja ke atasan. Namun, kamu harus hati-hati, kalau protesnya didasari dengan emosi yang ada nanti kamu bakalan dipecat.

Lebih baik sih berkaca terlebih dahulu sebelum melakukan protes. Kembali mengingat apakah selama ini pekerjaan kamu sudah memuaskan atau tidak, kalau belum ya kamu lebih baik bersyukur karena masih untung gajinya dinaikin.

Protes atau negosiasi memang harus kamu lakukan kalau misalnya diperlakukan secara tidak adil. Sayangnya, sebagian orang tidak mahir bernegosiasi.

Negosiasi yang baik adalah sama-sama menguntugkan dan tentunya dilakukan dengan pikiran yang jernih dan matang.

Kalau misalnya negosiasinya didasari pakai emosi doang, yang ada nanti malah gajimu gak naik, tapi malah dipecat.

Seperti dilansir dari BusinessInsider, setidaknya ada tiga kesalahan yang biasa dilakukan pekerja saat negosiasi kenaikan gaji, apa saja?

1. Jangan emosi dan terlalu membela diri saat negosiasi kenaikan gaji

Kenaikan gaji
Jangan emosi dan terlalu membela diri saat negosiasi kenaikan gaji (Pixabay)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu pertimbangan bos menetapkan besaran kenaikan gaji adalah dari performamu selama satu tahun penuh.

Kalau dirasa kamu sering tidak memenuhi target dan sering berbuat kesalahan, pasti deh kenaikannya gak terlalu signifikan.

Saat momen naik gaji, kalian pasti penasaran juga dong bertanya ke rekan kerja. Dan dari hasil ngobrol-ngobrol ternyata diketahui besaran gaji kamu paling kecil di antara yang lainnya, pasti emosi banget tuh.

Seketika langsung merasa diperlakukan tidak adil dan pengin ngomel-ngomel ke atasan. Atau ada juga yang langsung mau memutuskan resign karena diperlakukan tidak adil. Inilah kesalahan yang biasanya terjadi.

Melakukan pembelaan dengan perasaan emosi merupakan kesalahan saat negosiasi dengan atasan. Karena besar kemungkinan kamu bakal bersikap seperti melawan dan menentang. Nah konsekuensinya gaji kamu gak naik, bisa-bisa malah dipecat.

Daripada membuang energi lebih untuk marah-marah, lebih baik kamu memikirkan pembelaan yang masuk akal dan rasional ke atasanmu.

Hal tersebut dinilai lebih efektif ketimbang marah-marah. Tapi ingat, keputusan tetap ada di tangan si bos, jadi bisa saja pembelaan kamu gak diterima.

Baca juga: Bukan CEO, Inilah 7 Pekerjaan dengan Gaji Tertinggi di Indonesia, Apa Aja?

2. Menerima apa adanya

Kenaikan gaji
Menerima apa adanya kenaikan gaji (Pixabay)

Ternyata, menerima besaran kenaikan gaji apa adanya juga merupakan sebuah kesalahan. Kalau besaran kenaikannya signifikan sih gak masalah, tapi kalau besarannya standar atau bahkan di bawah rata-rata ya kamu jangan berdiam diri saja.

Sayangnya, saat ini banyak juga para pekerja yang terima-terima saja besaran kenaikkan gaji yang mereka dapatkan, padahal mereka memiliki hak bernegosiasi. Rata-rata karena takut ditolak atau bahkan balik dimarahin sama atasan.

Memang sih negosiasi gaji terlihat seperti gak bersyukur, namun, gaji merupakan hal yang paling berhubungan erat dengan kesejahteraanmu kini dan nanti.

Jadi, selagi bisa diperjuangkan, ya perjuangkanlah. Karena wajar, kalau seorang pekerja meminta naik gaji lebih, setiap tahunnya, mengingat kebutuhan pokok juga ikut naik terus.

Persiapkanlah pembelaan-pembelaan untuk membuat bosmu menaikkan besaran gajimu. Tunjukkan capaian-capaianmu selama setahun yang kira-kira bisa meyakinkan bosmu kalau kamu memang karyawan yang berkompeten.

Jangan takut untuk ditolak, karena memang negosiasi merupakan hal yang wajar terjadi di dunia kerja. Kamu juga pantas berhak mendapatkan balasan yang setimpal dengan kinerjamu selama ini.

Baca juga: Pria Ini Cari Asisten yang Siap Digaji Hampir Semiliar, Kamu Masuk Kriteria?

3. Merendahkan levelmu

kenaikan gaji
Merendahkan levelmu saat kenaikan gaji

Saat negosiasi kenaikan gaji, tentu kamu akan menyertakan besaran yang diinginkan. Nah kesalahan yang dibuat adalah kamu terlalu merendahkan besaran yang seharusnya kamu dapatkan.

Darimana mendapatkan standar besaran kenaikan yang seharusnya kamu dapatkan? Caranya, kamu bisa meniliai dari kinerjamu selama ini, apakah memuaskan atau tidak.

Tanya kepada rekan kerja tentang kinerjmu. Kalau dirasa memuaskan, tetapkan standarmu setinggi-tingginya.

Kalau perlu perjuangkan besaran kenaikan lebih besar 8 persen dari total kenaikan yang diberikan oleh atasanmu.

Pasalnya, memang memperjuangkan 8 persen itu lebih pantas untuk dilakukan, ketimbang bersusah payah melakukan pembelaan untuk meminta kenaikan 3 persen lebih.

Karena keduanya sama-sama membutuhkan negosiasi, jadi buat apa capek-capek siapin pembelaan kalau standar yang kamu tetapin terlalu rendah.

Tapi lagi-lagi yang harus diperhatikan adalah pembelaanmu sudah kuat atau belum. Kalau belum kuat dan belum cukup bisa meyakinkan, jangan harap deh bisa dikabulkan permintaanmu. Intinya, jabarkan saja capaian-capaian yang telah kamu capai selama ini.

Negosiasi kenaikan gaji memang sedikit menakutkan, karena bakal ada penilaian-penilain buruk yang bakal kamu terima, seperti misalnya gak bersyukur atau serakah. Tapi ingat lagi, ini semua untuk kesejahteraanmu kelak! (Editor: Chaerunnisa)

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.