Sempat Mau Dibeli Bank Mandiri, Untung PermataBank Meroket 121 Persen

3 menit
Untung PermataBank Meroket (Tempo)
Untung PermataBank Meroket (Tempo)

PT Bank Permata Tbk (PermataBank) mengumumkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan di kuartal ketiga yang berakhir pada 30 September 2019. Hal ini tercermin lewat kinerja bisnis yang kuat, peningkatan kualitas aset serta likuiditas yang optimum.

Laba bersih setelah pajak perusahaan menguat 121 persen menjadi Rp 1,1 triliun dari periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan Laba Operasional sebelum Penyisihan Penurunan Nilai Aset tercatat sebesar 15 persen diangka Rp 2,1 triliun.

Ini merupakan kontribusi dari kenaikan Pendapatan Bunga Bersih sebesar 3 persen dan Pendapatan Operasional selain Bunga sebesar 22 persen. Sementara Net Interest Margin (NIM) tumbuh menjadi 4,2 persen diikuti oleh peningkatan signifikan Laba Operasional yang mencapai 279 persen menjadi Rp1,4 triliun sampai dengan akhir September 2019.

Kualitas aset Bank yang lebih sehat tercermin pada penurunan biaya cadangan kredit sebesar 50 persen menjadi Rp 741 miliar di akhir September 2019. Ridha DM Wirakusumah, Direktur Utama PermataBank mengatakan “Laba yang diperoleh PermataBank pada kuartal ketiga memperkuat komitmen untuk mempertahankan kinerja yang solid. Perusahaan terus menjaga kualitas asset Bank yang sehat.

Kami juga menerapkan disiplin pengelolaan biaya operasional sehingga dapat dijaga pada level yang konstan ditengah berbagai investasi yang dilakukan Bank dan tekanan inflasi. Begitu juga dengan inovasi dalam produk dan pelayanan, termasuk peningkatan kualitas digital banking yang membantu menumbuhkan portofolio kredit kami,” ungkapnya seperti dikutip dari keterangan tertulis kepada MoneySmart.id.

Pertumbuhan Kredit 2019

PermataBank mencatatkan kredit sebesar Rp 107,6 triliun pada September 2019 dengan tumbuh moderat 1 persen yang dikontribusi dari Retail Banking dan Wholesale Banking. Pertumbuhan kredit netto secara marjinal ini terutama disebabkan percepatan penyelesaian kredit bermasalah. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah kredit yang diberikan. Secara bruto, kredit sehat yang diberikan tumbuh sebesar 8 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Angka ini dibukukan secara selektif dengan mengutamakan kualitas aset sesuai dengan kerangka kerja manajemen risiko kredit yang lebih pruden. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross dan NPL net di September 2019 semakin membaik secara signifikan masing-masing di posisi 3,3 persen dan 1,2 persen dari 4,8 persen dan 1,7 persen pada September 2018.

Sebagai perbandingan, rasio NPL gross dan NPL net pada bulan Desember 2018 ada di posisi 4,4 persen dan 1,7 persen. Semua angka ini terus terjaga dibawah ketentuan regulator.

Rasio NPL coverage tetap terjaga baik di level 164 persen. Walaupun relatif turun dari 189 persen pada periode yang sama tahun lalu dan 176 persen pada Desember 2018. Pencapaian ini sejalan dengan perbaikan kualitas aset usaha dan kehati-hatian dalam memitigasi potensi kerugian kredit.

Keseluruhan biaya operasional terkontrol dengan baik, meningkat sejalan dengan rentang inflasi pada level 3 persen year-on-year. Rasio BOPO di September 2019 membaik secara Siaran Pers 30 Oktober 2019 Embargoed Until Bourse Closing Hour on 30 October 2019 signifikan menjadi 87 persen dari 96 persen pada September 2018.

Efisiensi Operasional

Sebagai hasil dari penurunan biaya pencadangan kerugian kredit dan efisiensi biaya operasional ditengah tekanan inflasi. Rasio Loan-to-Deposit (LDR) tercatat pada level 88 persen di September 2019.

Tahun lalu LDR berada di 91 persen dan 90 persen pada Desember 2018. Angka ini menunjukan likuiditas bank yang kuat dan sejalan dengan upaya Bank dalam menjaga keseimbangan dalam penyaluran pinjaman yang maksimal dan likuiditas secara optimal.

Ini untuk mendukung pertumbuhan kredit di masa yang akan datang. PermataBank juga berhasil meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 2 persen YoY di September 2019. Hal ini dikontribusi oleh pertumbuhan dana Giro dan Tabungan masing-masing sebesar 11 persen dan 6 persen.

Sementara dana mahal Deposito turun sebesar 4 persen. Rasio CASA bank meningkat menjadi 50 persen dari 47 persen pada periode yang sama tahun lalu. Itu menunjukkan struktur pendanaan yang lebih baik untuk menjaga keseimbangan profitabilitas Bank.

Sementara, permodalan Bank kuat tercermin pada kenaikan rasio Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) masing-masing 18,6 persen dan 19,8 persen. Rasio tersebut lebih tinggi dari persyaratan modal minimum, membaik dari 17,1 persen dan 19,2 persen yang tercatat di periode yang sama tahun lalu.

“Kami sangat bersemangat dengan hasil yang kuat di kuartal ini dan optimis dengan inisiatif yang telah kami luncurkan seperti PermataMobile X untuk Shariah Banking. Pembukaan Model Branch, dan yang paling terbaru adalah kerjasama Penjaminan Kredit bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Semuanya akan memperkuat kinerja kami dan memberikan hasil yang lebih baik di masa mendatang.” tutup Ridha.

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati