Hmm, Tarif Batas Atas dan Bawah Tiket Pesawat Ternyata Rugikan Konsumen Loh

2 menit
Ilustrasi Konsumen Pesawat Terbang (Shutterstock)
Ilustrasi Konsumen Pesawat Terbang (Shutterstock)

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) meminta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi segera mencabut aturan tarif batas atas dan batas bawah lantaran merugikan konsumen.

BPKN menilai, langkah pemerintah mengatur batas atas dan bawah tiket penerbangan tidak berdampak pada persoalan harga tiket, dan merugikan konsumen sebagai pengguna jasa transportasi udara.

Ketua Komisi Advokasi BPKN Rizal E. Halim mengatakan, praktik penerapan harga tiket penerbangan dilapangan tidak sesuai harapan konsumen, adanya tarif batas bawah seolah-olah memberikan harapan kepada konsumen akan tarif penerbangan yang murah dan terjangkau.

Namun, faktanya, mayoritas maskapai penerbangan mematok tarif penerbangan yang mendekati tarif batas atas.

Menurutnya, aturan tersebut cenderung mengabaikan Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Sepintas ini menarik untuk konsumen, tetapi kenyataannya harga yang ditetapkan masih tinggi, sehingga yang jadi korban adalah konsumen. Maka kami meminta aturan ini dicabut,” ujarnya di Jakarta.

Dengan ini, BPKN melihat, aturan tarif batas atas dan bawah tidak menyelesaikan persoalan tarif penerbangan yang dikeluhkan konsumen.

Rizal melihat, setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan aturan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan berpotensi merugikan konsumen.

1. Aturan Tak Berpengaruh Harga Avtur

Pertama, aturan tersebut tidak menemukan solusi terkait keluhan maskapai akan tingginya harga bahan bakar atau avtur dari PT Pertamina (Persero).

Sebab, dalam hal ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta Pertamina untul menyesuaikan harga bahan bakar pesawat.

Kemudian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga telah meminta PT AKR Corporindo Tbk untuk masuk ke pasar penjualan avtur di Indonesia, agar menghentikan monopoli avtur yang selama ini dikuasai oleh Pertamina.

“Presiden sudah jelas meminta untuk tidak ada monopoli dan meminta AKR masuk, tapi itu semua tidak menurunkan harga, justru kemudian diatur kembali melalui aturan tarif batas atas dan bawah yang hanya berfokus ke industri,” tegasnya.

2. Hanya Berpihak Pada Industri Penerbangan

Kemudian, aturan tarif batas atas dan bawah juga dinilai hanya mengedepankan kepentingan industri maskapai semata.

Seharusnya, pemerintah mampu memberikan ruang untuk persaingan yang sehat antar maskapai, kompetitif, dan mampu meningkatkan daya saingan industri tersebut.

“Kalau industri tidak efisien, itu tidak bisa dibebankan ke konsumen, itu keliru. Seharusnya industri dan pemerintah berlomba memberi pelayanan terbaik kepada konsumen dengan tata kelola manajemen yang lebih efisien,” paparnya.

3. Perumusan Aturan Tak Melibatkan Konsumen

Kemudian, dalam memutuskan aturan tarif atas dan bawah tiket penerbangan, pemerintah tidak meminta pendapat, dan saran dari pengguna jasa penerbangan.

Dengan tidak dilibatkannya masyarakat, aturan yang keluarkan cenderung mengabaikan prinsip perlindungan konsumen, padahal terdapat banyak lembaga perlindungan konsumen yang bisa dilibatkan, seperti BPKN, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan lainnya.

4. Menggangu Aktivitas Ekonomi

Selain itu, ketidakpastian solusi dari pemerintah terkait masalah harga tiket pesawat juga berdampak pada aktivitas ekonomi nasional.

Lantaran tingginya harga ongkos terbangun ini merembet pada produktivitas masyarakat dan berdampak pada sektor ekonomi lain, seperti industri pariwisata, kargo pengiriman barang, hingga mobilitas masyarakat.

“Mobilitas konsumen jadi terganggu, produktivitas mereka berkurang, mobilitas dan pengiriman barang tertekan, sehingga kinerja ekonomi secara keseluruhan terpengaruhi. Daya saing tertekan, apalagi di tengah daya beli yang tengah menurun dan inflasi naik karena tiket,” tegasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.