Ini Komentar Pengguna Ojek Online Soal Kenaikan Tarif

3 menit
Ilustrasi Pengguna Ojek Online (Shutterstock)
Ilustrasi Pengguna Ojek Online (Shutterstock)
Konsumen gak masalah jika tarif ojek online naik, karena merasa iba dengan para pengemudi yang sering mengeluh tentang rendahnya pendapatan mereka. Di sisi lain, mereka juga berharap operator ojek online dapat sering memberikan promosi atau diskon.
Agar pengguna juga merasa diuntungkan dan tetap setia menggunakan jasa mereka. Andi Chaeruddin, pegawai bank swasta di Jakarta Pusat misalnya. Ia menyatakan, dirinya tak mempermasalahkan kenaikan tarif ojek online tersebut.
Sebab selama menggunakan ojek online dirinya kerap kali mendapatkan cerita dari para driver yang mengeluhkan tarif saat ini terlalu murah dan memberatkan para driver.
“Kalau saya sih nggak masalah ya, soalnya kadang suka banyak yang ngeluh dan cerita, kalau dulu tarifnya bisa sampai Rp 4.000 per kilometer. Sekarang nggak sampai Rp 2.000 per (km),” ujarnya di Palmerah, Jakarta.
Menurut Andi, adanya aturan tarif dari pemerintah merupakan inisiatif yang baik, agar perusahaan aplikator tidak terus menerus perang tarif.
“Kalau nggak diatur pasti perang tarif kaya sekarang ini, kalau pengguna sih tinggal install aplikasi aja sekali dua, mana yang lebih murah itu yang dipakai. Tapi kalau diatur kan adil,” jelasnya.
Akan tetapi, dari pengalamannya selama ini menggunakan jasa Ojol, dia dan rekan-rekannya mengandalkan tarif promo dari aplikator.
“Tapi kadang kalau tanggal tua, aplikator suka bikin promo, potongan harga, nah disitu sering digunain sama konsumen, kalau naik nanti juga mengandalkan promo,” ungkapnya.

Andalkan Tarif Promo Aplikator

Sementara itu, Faisal Abdullah pegawai swasta di Jakarta Selatan mengatakan, dirinya berharap kenaikan tarif Ojol dibarengi dengan adanya program tarif promo dari penyedia layanan ojek online.
“Kalau naik berat juga sih, hampir setiap hari naik Ojol, paling sih semoga aja banyak tarif promo. Lumayan kalau potongannya bisa sampai Rp 2.500 sampai Rp 3.000 sekali jalan,” kata Faisal.
Menurut Faisal, menggunakan Ojol terbukti memangkas waktu tempuh menuju kantor. Sebab saban hari saat jam sibuk, jalan-jalan Ibukota pasti dihantui dengan barisan kendaraan yang terjebak macet.
“Naik ojek online karena hemat waktu, tenaga juga, kalau bawa kendaraan udah capek dijalan, macet juga, jam masuk kerja juga pagi. Naik transportasi umum yang lain suka nggak tepat waktu, dan masih banyak copet,” paparnya.

Ojek Online Transportasi Andalan

Senada dengan Faisal, Nadia Fajria salah satu mahasiswa universitas swasta di Jakarta ini pun mengatakan transportasi Ojol di Jakarta sudah menjadi andalan. Baik itu bagi para pekerja maupun mahasiswa.
“Pekerja dan mahasiswa mendominasi pakai Ojol, anak sekolah juga sekarang, kalau tarif naik ya ngandelin promo aja sih. Tapi kalo nggak ada ya pilih alternatif naik Transjakarta atau Commuterline. Walaupun agak desak-desakan kalau jam sibuk,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, mengakui, sebuah keputusan tak mungkin menyenangkan seluruh pihak. Akan tetapi telah mempertimbangkan segala masukan dan saran seluruh pihak. Baik pengemudi, konsumen, hingga aplikator.
“Terkait dengan masalah tarif ini pendekatannya memang belum dapat menyenangkan semua pihak. Kalau ada pihak yang merasa belum sesuai, kita masih buka forum diskusi,” jelasnya.

Pemerintah Tetapkan Tarif Batas Bawah

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah resmi mengeluarkan aturan mengenai tarif batas atas dan batas bawah untuk Ojol di tiga zonasi.
Adapun tarif batas bawah paling rendah ditetapkan sebesar Rp 1.850 per kilometer (km), sedangkan tarif batas atas paling tinggi ditetapkan sebesar Rp 2.600 per km.
Dari aturan tersebut, tarif batas bawah zona I ditetapkan untuk wilayah Sumatera, Bali, Jawa (selain Jabodetabek) sebesar Rp 1.850 per km.
Sedangkan untuk batas bawah  zona II (Jabodetabek) ditetapkan sebesar Rp 2.000 per km. Sementara zona III meliputi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara, Maluku, dan Papua, ditetapkan sebesar Rp 2.100 per km.
Sedangkan untuk tarif batas atas tertinggi ditetapkan untuk zona III sebesar Rp 2.600 per km, kemudian zona II sebesar Rp 2.500 per km, dan zona I Rp 2.300 per km. Aturan ini akan mulai ditetapkan pada 1 Mei 2019 mendatang.
Dengan adanya kenaikan tarif ini, para pengguna Ojol pun memberikan tanggapan yang beragam. Akan tetapi adanya tarif promo atau potongan harga dari penyedia aplikator tetap menjadi keinginan para pengguna.
Editor: Ayyi Achmad Hidayah
Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.