Maskapai Penerbangan di Indonesia Semua Rugi, Bahkan Ada yang Sampai Triliunan Lho!

3 menit
Maskapai Penerbangan Indonesia Merugi (Shutterstock)
Maskapai Penerbangan Indonesia Merugi (Shutterstock)

Polemik kenaikan harga tiket pesawat tengah menjadi masalah yang berbuntut panjang bagi industri penerbangan dalam negeri.

Selain menggerus jumlah penumpang pesawat, kenaikan tarif tiket pesawat juga memberikan kerugian. Utamanya bagi pengelola bandara, hingga maskapai penerbangan yang mengalami kerugian.

Bisnis yang sarat modal ini tengah menghadapi terpaan berbagai masalah. Perhatian pemerintah dan solusi dari pemerintah belum juga menyelesaikan masalah.

Berbagai langkah mulai dari perubahan tarif batas atas dan bawah, hingga perubahan harga bahan bakar avtur dari Pertamina, sudah dilakukan. Namun tidak juga memberikan angin segar bagi industri penerbangan dalam negeri.

Puncaknya pada musim mudik tahun 2019 ini penumpang angkutan udara sudah kadung beralih pada pilihan sarana transportasi lain. Ditambah dengan infrastruktur transportasi darat dan laut yang semakin baik.

Penumpang Pesawat Gunakan Kapal Laut

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri April 2019 naik 5,30 persen.

Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada April 2019 tercatat 1,8 juta orang atau naik 5,30 persen dibanding Maret 2019.

Peningkatan tersebut terjadi di Pelabuhan Makassar, Tanjung Priok, Balikpapan, Tanjung Perak, dan Belawan.

Jumlah ini berbanding terbalik dengan jumlah penumpang angkutan udara yang mengalami penurunan signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang yang menggunakan pesawat udara untuk rute domestik pada April 2019 menurun. Penurunan hingga 28,48 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu (year on year).

Penurunan jumlah penumpang terjadi di seluruh bandara utama. Meliputi Bandara Hasanuddin- Makassar sebesar 10,43 persen, Soekarno Hatta- Jakarta 8,78 persen.

Kemudian Juanda- Surabaya 7,82 persen, Kualanamu-Medan 3,41 persen, dan Ngurah Rai-Denpasar 1,54 persen.

Jumlah penurunan penumpang domestik terbesar melalui Soekarno Hatta-Jakarta, yaitu mencapai 1,4 juta orang. Angka itu 24,81 persen dari total penumpang domestik, diikuti Juanda-Surabaya 443,5 ribu orang atau 7,84 persen.

“Kita tahu apa yang terjadi pada domestik. Di satu sisi ada kenaikan harga tiket. Di sisi lain transportasi darat semakin bagus sehingga konsumen mempunyai pilihan untuk moda transportasi lain,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

Lion Air Tunda Pembayaran Jasa Bandara

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro membenarkan bahwa Lion Air sempat meminta penundaan pembayaran jasa bandara.

Hal ini disampaikan kepada pengelola bandara yakni Angkasa Pura (AP) I terkait kewajiban pembayaran jasa bandara untuk periode Januari, Februari dan Maret 2019.

“Lion Air Group sudah menyampaikan hal tersebut secara tertulis dan resmi melalui surat kepada pengelola bandar udara,” kata Danang.

Danang mengatakan, pihaknya bersama pengelola bandara telah melakukan pertemuan. Mereka telah membahas mengenai kewajiban pembayaran jasa bandara dan telah mencapai kesepakatan. Pembayaran sendiri telah dilaksanakan oleh Lion Air.

Selanjutnya, Danang memastikan Lion Air melakukan pembayaran jasa bandara sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan dan tidak ada lagi penundaan.

“Pembayaran kewajiban April dan seterusnya dilakukan secara  normal,” tegas Danang.

Kemenhub Sebut Maskapai Banyak Merugi

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Polana B Pramesti mengungkapkan, masakapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia tengah alami kerugian sejak tahun lalu.

Indikasi ini terlihat dari laporan keuangan maskapai secara tahunan yang alami kerugian.

“Dari laporan keuangan terakhir, (pada) 2018 banyak yang rugi. Enggak ada yang untung malahan, enggak ada yang untung. Air Asia juga, (ruginya) hampir Rp 1 triliun kalau enggak salah. Sampai ekuitinya negatif,” ungkapnya.

Dengan ini, pihaknya sebagai regulator tengah melakukan kajian terkait hal apa yang membuat masakapai mengalami kerugian. Kemudian menyusun strategi kedepan agar masalah ini tidak terus terjadi.

“Kami lagi melakukan upaya, lagi menganalisis apa sih (yang buat rugi), lagi kumpulin data. Apa yang (perlu) dilakukan. Karena memang enggak ada subsidi sama sekali (bagi maskapai),” papar Polana.

Menurut Polana, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan iklim usaha yang sehat dan kondusif bagi pebisnis maupun konsumen.

“Kita harus bantu sih sebenarnya. Harusnya saling bantu, sharing the pain. Memberikan insentif serta keringanan karena akhirnya berdampak juga ke kita. Karena Garuda Indonesia saja masih rugi,” jelasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan